Saturday, 6 October 2012

Dia Bukan Anakku

Ini bukan sinetron. Ini bukan novel, cerpen atau flash fiction. Ini fiksi, hari ini aku galauuuu :hiks

Dia bukan anakku, tapi kenapa aku ikutan setres mikirin dia? Apa yang harus ku lakukan? :hwa . Rasanya bingung, orang tuanya mengajarkan agar si anak bertanggungjawab. Nah, si Embahnya kasian. Katanya dia masih kecil, tenaganya ngga kaya orang tua. Kalau dia seperti itu nanti yang kepikiran juga orang tuanya, kata si Mbah.

Heran, teramat sangat deh. Udah kelas VI SD harusnyakan udah agak paham tuh. Nah si anak ini, ngurusi badannya sendiri aja males setengah mati. Aku kadang ikut ngomel ingetin ini itu. Cepe deh :hiks . Kalau dipikir-pikir, kadang kasian tapi buanyak sebelnya gara-gara dia itu lemot atau sengaja nglemot - lemah otak-. Untung dia bukan anakku :uhuk

Bersyukur banget deh punya ortu yang perhatian kaya' Bapak dan Bu e'. Mereka orang biasa tapi perhatiannya luar biasa kepada anak-anaknya. Meski anaknya sudah pada gede, mereka masih saja ngingetin buat solat, makan, belajar, ibadah yang rajin, macem-macemlah. Hiks :hiks jadi kangen rumah.

Tunggu aku ya Bu e'. Mungkin nanti pulang sekalian pas H-1 Idul Adha. Mungkin besok pagi aku nelfon. Love Bu e' n bapak :hepi

4 comments:

  1. artikel yang keren gan, unik dan blognya juga bagus

    ReplyDelete
  2. hehe... alhamdulillah yah, mbak Ji.. :D

    ReplyDelete
  3. Selamat malam sahabat.
    Terima kasih atas artikelnya yang menarik dan inspiratif

    Jangan lupa mengikuti kontes Unggulan Indonesia Bersatu lho ya. Klik saja : http://tamanblogger.com/blogging/konteskuis/kontes-unggulan-indonesia-bersatu-cara-mencegah-dan-menanggulangi-tawuran

    Terima kasih.

    Salam hangat dari Surabaya

    ReplyDelete
  4. Alhamdulillah saya juga punya orang tua yg perhatian

    Ap kabar mbak?? Lama ndak kesini sayanya :)

    ReplyDelete

Mana jejak tulisanmu?