Sunday, 17 February 2013

Ketika Aku Pergi dari Rumah

Jauh dari rumah itu rasanya kangen setengah hidup. Keluar dari rumah, aku sebagai seorang gadis merasakan yang namanya kehilangan zona aman. Sebenarnya bukan kali ini saja aku pergi. Aku sudah berulang kali pergi dari rumah :uhuk


Bermula saat tahun 2004 aku masuk MTsN yang lumayan jauh dari rumah meski pun masih juga di daerah Jepara. Itulah pertama kalinya aku keluar dan jauh dari kedua orang tua. Sebulan pertama, setiap menjelang tidur air mataku selalu mengalir. Rasanya benar-benar aneh. Padahal di tempat itu aku tidak sendiri. Ada Kakak dan Mbakku, tapi tetap saja aku menangis tanpa sepengetahuan keduanya. Seminggu sekali ketika Bapak Bu e datang, aku selalu memeluk mereka dengan erat. Menumpahkan semua tangis dan rasa rindu yang mendera dalam dada.


Hari-hari selanjutnya, aku sudah bisa menguasai diri. Tidak lagi menangis dan bisa beradaptasi. Setelah Kakak dan Mbakku pergi dari tempat tinggal itu, semua masih normal. Yag tidak normal mungkin karena aku jarang bermain seperti teman-teman sebayaku disana.


Setelah lulus MTsN tahun 2007, aku ingin di rumah just it. Aku ingin lagi merasakan kehangatan rumah yang kemarin terhalang. Aku masuk MAN dikawasan yang sama dengan sekolahku yang dulu. Setahun berlalu, aku tak dapat apa-apa. Dengan pikiran yang lapang, aku menyetujui untuk pergi dari rumah lagi seperti waktu di MTsN.


Aku memulai lagi. Dari tahun 2008 sampai 2010 aku berjuang lagi untuk jauh dari rumah. Bedanya disini aku sudah MAN. Aku mengikuti ekskul dengan segala dilemanya. Di tempat yang berbeda, suasana berbeda, kebiasaan yang berbeda, orang yang berbeda, ngaji yang berbeda dan disinilah aku harus belajar untuk merasakan cinta.


Aku lulus tahun 2010 dan pada bulan Agustus aku mulai bekerja di sebuah Showroom di Sentral Ukir Jepara. Meski setiap hari bekerja, saat pulang dan di rumah kadang aku dan kedua orang tuaku masih saja berselisih.  Kadang aku berfikir, bukankah lebih enak jauh dari rumah seperti dulu? Jika dulu pergi dari rumah karena alasan efisien dalam jarak tempuh ke sekolah serta hematnya biaya, kini problemnya lebih maju. Terkadang aku bingung harus menjawab pertanyaan orang tuaku tentang suatu hal yang memang aku belum bisa menjawabnya. Saat lelah mendera, aku selalu berdoa semoga aku bisa pergi lagi dari rumah entah untuk bekerja atau untuk sekolah.


Semua terjawab ketika aku memutuskan untuk resign dari Showroom dan memilih bekerja disebuah desa yang agak terpencil yang masih dikawasan Jepara. Yah, aku memilih untuk menginap disana dan pulang sekitar sebulan sekali.


Meski sudah beberapa kali jauh dari rumah, aku dengan malu-malu bilang bahwa aku masih menangis merasakan kerinduan. Aku harus beradaptasi lagi dengan semua hal. Dengan keluarga disana, dengan pekerjaan yang berbeda dan dengan masyarakat yang berbeda pula. Apapun yang terjadi, aku harus bertahan. See, aku sudah sepuluh bulan lebih disana dan yah, semua ternyata baik-baik saja :smile


Dari semua kepergianku, paling lama tidak pulang itu dua bulan di tahun 2009. Padahal biasanya sebulan, kadang dua minggu sampai tiga minggu saja sudah blingsatan ingin pulang :uhuk . Alasannya, biarlah aku sendiri yang tahu hihi :uhuk . Oh iya, dari semuanya juga kepergianku kali ini yang memang terasa berbeda. Aku sering di telfon Bapak sama Mbakku, sering SMS-an sama kakak. Kalau dulu, paling satu dua kali telfon, itu pun dari wartel atau telfon rumah pemilik tempat tinggalku. Dulu memang aku tidak punya HP.  Oh iya, dulu jaman MTsN aku beberapa kali buat surat untuk Bapak Bu e, romantis banget kan? :uhuk . Padahal itu biasanya ngasih tahu pertemuan di sekolah atau minta uang :uhuk


Jauh dari rumah itu mengajarkan kita untuk hidup mandiri dan lebih dewasa. Kita harus bisa memanage apa-apa sendiri termasuk perasaan dan hati. Kita harus menjaga diri sendiri dan menjaga nama baik keluarga kita. Kalau kita bermasalah, bukankah kembalinya pada keluarga kita sendiri?


Jauh dari rumah, ketika aku pergi dari rumah meski makin dekat dengan Kakak, satu hal yang aku sadari, Rumahku itu Surgaku. Aku merindukan kata-kata orang tuanya yang terkesan seperti marah padahal itu perkataan nasihat. Ketika aku makan enak saat jauh dari rumah, semua terasa biasa, sepi. Tapi ketika di rumah, walau pun makan dengan garam, hanya dengan ikan asin dan sambal semua terasa nikmat, sungguh.  Saat di rumah porsi makanku bertambah. Intinya, bersama keluarga itu kebahagiaan yang sederhana namun indah. Mungkin ini adalah hal simple yang menjadikanku Anak Rumahan. Saat diminta memilih untuk pergi melewati tahun baru atau dirumah, kamu pasti tahu apa jawabanku. Yah, rumahku itu istanaku.


Meski sekarang jauh dari rumah. Aku percaya, mereka pun akan selalu merindukanku begitu juga aku :smile . Kalau kamu? Apa aku kapok pergi dari rumah? Tentu saja tidak. Aku masih ingin pergi jauh keseberang sana sebelum aku menikah :uhuk

Tulisan ini diikutsertakan pada Giveaway Gendu-gendu Rasa Perantau

8 comments:

  1. aku juga mau nulis tentang kepergianku, tapi sebab kepaksa :( Tunggu, ntar baca yaaa

    hehehe

    ReplyDelete
  2. Iya mumpung belum nikah melanglang buanalah kemana-mana jiah.... kayak aq gitu lho.... hehehe

    Emang bener kok, kalau bersama keluarga tuh rasanya nyaman meskipun kadang ada perselisihan :)

    ReplyDelete
  3. melanglang buana kesana kemari, mau jadi wanita karir ya, hehe

    ReplyDelete
  4. we can buy a house, but we cannot but a home at all... :)

    ReplyDelete
  5. aku menikmati betul saat2 merantau.. tapi yg paling ga enak sih klo pas sakit dan ramadhan.. tersiksa.. hihihi...

    ReplyDelete
  6. aduh, baca ini jadi ingat waktu pergi dari rumah ketika meneruskan sekolah SMU di kota T_T

    ReplyDelete
  7. aku lepas dari ortu waktu kerja aja tapi itu juga gak jauh kok :)

    ReplyDelete
  8. Tapi ketika di rumah, walau pun makan dengan garam, hanya dengan ikan asin dan sambal semua terasa nikmat, sungguh <<== setuju!!! emang kalo lagi di rumah, makanan apa aja enak. kalo di rantau, galau mau makan apa *curhat

    ReplyDelete

Mana jejak tulisanmu?