Wednesday, 13 March 2013

Berani Cerita #02 : Rama

Dalam suasana malam yang mencekam di tengah hutan, beberapa orang berlarian tak tentu arah. Tak ada cahaya, hanya gelap yang menyapa.

DOR!

Suara tembakan melesat jauh dikegelapan malam. Krek! Gedebug! Perlahan terdengar jelas suara ranting yang tertindih tubuh yang ambruk lemah tak berdaya. Aku berlari mendekat, memastikannya. Apa dia baik-baik saja atau malaikat maut telah mencabut nyawanya?


"Dia mati. Bawa mayatnya. Akhinya kita bisa istirahat setelah berlari seharian ini," ucapku pada anak buahku.
"Siap Inspektur!" jawab mereka serempak.


Malam ini, tepat saat bulan purnama bersinar. Seorang buronan pelaku pembunuhan, mati akibat timah panas yang bersarang di dadanya. Akhirnya aku bisa bernafas lega. Aku akan pulang, menemui bayiku yang lahir ke dunia pagi tadi saat aku sedang bertugas.

***
Delapan tahun kemudian.

Rama anak laki-lakiku duduk manis di sampingku. Dia terlihat begitu gagah diusianya yang masih sangat muda. Dari kecil hingga usianya yang kedelapan tahun, aku selalu mengajarinya tegas dan berwibawa seperti ketika ayahku mendidikku waktu kecil dulu. Silfia, istriku sering protes. Katanya aku terlalu keras dalam mendidik Rama. Aku mencoba memberikan jawaban yang logis. Bukankah buah jatuh tidak jauh dari pohonnya? Aku hanya menerapkan pendidikan ketegasan, kedislipinan seperti yang sering diajarkan oleh orang tuaku dulu.


Suasana sudah ramai. Perkumpulan antar jendral ini selalu diadakan setiap tahun dan setiap orang slalu memamerkan kehebatan anak-anaknya. Aku yakin betul, anakku pasti akan menjadi seperti yang ku mau. Aku telah melakukan yang terbaik untuknya.


Rama pergi menuju panggung acara seperti anak-anak yang lain. Semua anak-anak jendral yang hadir akan menampilkan keahliannya. Jauh-jauh hari aku sudah mengajari Rama berbagai hal. Mulai dari tenis, golf, berenang, catur, menembak, semua yang sering jendral-jendral lain lakukan. Rama, kelak saat dewasa pasti akan jadi Jendral Bintang Lima sepertiku.


Semua anak tampil memukau dan para orang tua pun bertepuk tangan dengan riuhnya. Kini tiba giliran Rama. Aku sudah bersiap dengan segala penampilannya. Rama, tidak membawa raket, catur, mau pun pistol-pistolan yang ku belikan. Perlahan dia mengeluarkan kertas dan pensil kemudian mencoret-coretkan sesuatu diatasnya.


Perlahan dia memperlihatkan hasil coretannya kepada semua orang. Aku hanya melongo melihatnya dengan sedikit melotot. Semua orang menahan Tawa. Rama yang aku banggakan di depan semua orang dengan segala keahliannya hanya membuat gambar tangan yang tidak ada mutunya dalam acara sehebat ini.



Rama melihatku. Semua orang mencibir, saling berbisik tentang kebodohanku. Aku berkata rama hebat, dia bisa apa saja. Tapi ini? Air mata menetes di pipinya, dia terisak. Perlahan Silfia bangkit dari kursinya, aku menahannya. 


"Biar aku saja yang menjemputnya," ucapku
"Biar aku saja. Aku tak mau kamu memarahinya,"
"Percayalah padaku,"


Aku melangkah mendekati panggung. Rama hanya tertunduk, sepertinya dia takut padaku.


“Sayang, kamu hebat. Ayah bangga padamu,” bisikku sambil memeluk tubuh mungilnya.


Setidaknya, peristiwa pemukulan ketika aku berusia delapan tahun tidak terjadi juga pada Rama. Yah, dalam acara yang sama ayah memukulku karena aku menggambar baju perempuan di depan semua orang.


465 Kata

Quote : 
“Buah jatuh, tidak akan jauh dari pohonnya”
“Ajarlah anak-anakmu, bukan dalam keadaan yang serupa denganmu. Didiklah dan persiapkan lah anak-anakmu untuk suatu zaman yang bukan zamanmu. Mereka akan hidup pada suatu zaman yang bukan zamanmu.”

Tulisan ini juga diikutkan pada Lampu Bohlam #2 - Pohon

7 comments:

  1. semakin berjaya anak muda,,eh tapi maaf dulu, cerita plg atas yg penembakan itu, apa hubungannya dg Rama ??? #mancing biar komentar

    JAWAB !!!!

    ReplyDelete
  2. padahal lukisan itu sangat dalam maknanya: I LOVE MY FAMILY

    ReplyDelete
  3. benar memang, harus persiapkan anak kita di jaman mereka besok, bukan jamannya kita :)
    makasih dah ikutan beranicerita yah :)

    ReplyDelete
  4. Ya ampun.... sedih banget. tindakan yg mulia utk ayahnya, krn tdk memarahi rama, rama anak yg baik dan cerdas, membuat gambar yg menyentuh hati

    ReplyDelete
  5. hehhehee.. cerita yang hebat.. kata sayyidina Ali "didiklah anakmu dengan cara yang berbeda, karena jamanmu dan jamannya sudah berbeda"

    :)

    ReplyDelete

Mana jejak tulisanmu?