Tuesday, 7 May 2013

#8MingguNgeblog 5 : Mungkin Ini Cinta



Cinta pertama, pada siapa? Di mana? Kenapa? Entahlah. Yang jelas, aku tidak percaya pada cinta pada pandangan pertama. Love at the first sight? Mana mungkin aku percaya kalau belum mengalaminya sendiri? Bagiku, cinta adalah cinta. Cinta hadir karena terbiasa dan adanya waktu. ‘Witing tresna jalaran saka kulina’ menurutku itu. Iya, seperti yang aku rasakan dulu.


Iya, aku sering datang kesana. Ketiga kakakku menuntut ilmu dan tinggal ditempat itu. Suasananya tidak asing, toh banyak yang kenal denganku. Tempatnya bukan tempat yang mewah. Tidurnya pun hanya beralaskan tikar. Kalau kita bawa kasur lantai saja, kasian teman yang lain gara-gara tidak kebagian tempat.


Aku sadar, tinggal jauh dari orang tua dan rumah bukanlah hal yang mudah. Sebulan pertama aku disana, setiap akan tidur aku selalu menangis. Kakak perempuanku, mana tahu? Aku menyembunyikan tangis dalam bantalku. Teman? Mereka sama, menangis juga. Teman dekat? Tak ada. Aku sendiri hanya sendiri. Dulu Kakak perempuanku lebih dekat dengan orang lain dari pada denganku. No problem, aku memang terbiasa sendiri.


Rumah keduaku, tempat aku menuntut ilmu. Tempatku menghabiskan waktu. Aku tak pernah sadar kapan cinta itu muncul. Aku hanya tahu, aku nyaman disana. Setidaknya ada sebagian kecil yang peduli denganku. 


Tak ada cinta yang sempurna. Tak ada cinta yang luput dari cobaan. 


Sepeninggalan Kakak-kakakku, aku benar-benar sendiri. Satu hal yang sulit hilang, keegoisanku. Aku kurang bisa berbaur dengan teman-teman yang terlalu banyak bicara dan tertawa. Aku enggan sekali bermain dan memilih untuk tidur. Ketika perlahan-lahan hampir semua orang menjauhiku, satu hal yang aku yakini, tempat itu selalu bisa menerimaku.


Semakin hari, kejenuhan menuncak. Aku lelah dengan keadaan itu. Bapak, Bu e, aku ingin pindah dari tempat itu. Setiap kali aku ingin mengutarakan keinginan itu, nyatanya Bu e, Bapak seolah tahu dan menasihatiku. Aku bertahan lagi, bukan untuk diriku tapi untuk kedua orang tuaku.


Ketika aku lulus MTsN, aku senang sekali. Bukan karena kelulusan dan nilai yang lumayan. Tapi lebih karena aku bisa pergi dari ‘Penjara Suci’ itu. Tempat yang aku sanjung, tapi juga tempat yang menyimpan banyak kenangan pahit, manis dan asam. Belum sampai pengumuman pun aku kabur, pergi dari sana. Rasanya, semua terbebas seolah aku bukan lagi tawanan.


Setelah setahun keluar dari ‘Penjara Suci’, aku mendapat banyak pengalan di luar. Aku yang terbiasa berjalan kaki harus rela naik turun angkot. Harus mau kepanasan, dan harus mau mencari mushola dikeramaian pasar agar tetap bisa solat pada waktunya. Hanya itu? Ya, just it.


Saat kenaikan kelas XI MAN, aku memutuskan untuk masuk ‘Penjara Suci’ lagi. Bukan di tempat yang sama, aku ingin tempat yang berbeda. Setelah beberapa waktu disana, aku baru menyadari. Tempat baruku sungguh berbeda dengan tempatku dulu. Rasanya, jika waktu bisa diputar, aku ingin kembali pada ‘Penjara Suci’ ku yang dulu. Mungkin ini cinta yang terlambat. Disadari ketika tak lagi bersama. Tersadar ketika keadaan mungkin jauh lebih baik dari yang dulu.


Mulai saat itu, aku belajar lagi tentang mencinta. Bukan mencintai manusia, tapi mencintai tempat dimana kita tinggal. Tempat kita bernaung, tempat kita belajar dan istirahat. Semua yang terjadi tak perlu disesali. Yah, aku mengulang untuk mencintai, tentu saja itu bukanlah hal yang mudah. Tapi aku selalu percaya, cinta hadir karena terbiasa. Cinta pertama pada ‘Penjara Suci’ sebuah pesantren kecil tempatku menuntut ilmu. Rindu, jelas masih ada. Paling tidak, saat idul fitri aku masih berkunjug kesana. Cinta itu datangnya dari hati yang tulus. Mungkin ini cinta dan masihkan aku mencintainya? Tentu saja :luph .


14 comments:

  1. "Penjara Suci" itu pesantren ya?

    sukses lombanya ya

    ReplyDelete
  2. cinta itu tidak hanya untuk manusia ya. good luck ya Jiah

    ReplyDelete
  3. hihihi,, jdi inget masa2 pertama ngekos.. minggu pertama berantakaaaan.. suka telat makan, ngedumel sendiri krn kaget dengan situasi ngekos..
    semangat jiaaah

    ReplyDelete
  4. ihhiiiiiiiiiiiiiirrrrrrrrrrrrr

    ReplyDelete
  5. cinta cinta oh cinta hohoho lanjooooootttttt

    ReplyDelete
  6. cinta yang indah...
    aku menemukan Jiah yang berbeda di sini. Nice :)

    ReplyDelete
  7. hebattt, punya cinta pertama sama tempat menuntut ilmu, saya dulu agak susah klo disuruh ke pesantren hehe. salam kenal

    ReplyDelete
  8. Pengen banget masuk ke penjara suci, dulu... Tapi ibu ngelarang... Ternyata usia beliau pendek sehingga pengen lama bersama anaknya... Salam blogger...hehe

    ReplyDelete
  9. Wah..baru denger aku istilah penjara suci untuk sebuah asrama atau pesantren...hehehhe... Tapi istilah yg keren

    ReplyDelete
  10. Hm ... mungkin saja
    *manggut2*

    ReplyDelete
  11. penyesalan mungkin akan selalu hadir di akhir

    ReplyDelete
  12. Cinta memang sering satang terlambat ya... :-) ketika sudah tak bersama baru terasa kehilangan. kita memang seriang menyiakan apa yang sudah kita miliki, ketika saat itu sudah berlalu barulah menjadi kenangan yang seringkali kita rindukan. :-)
    suka istilah penjara suci-nya :-)

    ReplyDelete
  13. :) semua memang lebih nyaman di rumah sendiri. tapi penjara suci jg mengajarkan banyak hal. karena terbiasa, akhirya muncullah rasa cinta

    ReplyDelete

Mana jejak tulisanmu?