Tuesday, 29 October 2013

Badut untuk Raisa


Kulirik ruang tamuku. Balon-balon sudah tertata rapi. Hiasan, bunga-bunga semua sesuai dengan permintaan Raisa anak gadisku. Ulang tahun Raisa yang ke delapan ini, semua sesuai kemauannya. Kue dengan tinggi satu meter juga sudah berdiri tegak di sana dengan hiasan kelopak mawar di sekelilingnya. Teman-teman SD Raisa sudah datang. Ke mana anak gadisku ini?


Aku melangkah menuju ke lantai atas rumah. Sudah jam tujuh malam, acara harusnya segera di mulai. Setengah delapan aku harus sampai di cafe. Ada meeting penting yang harus kuhadiri. Raisa, ke mana kau nak?


“Raisa? Di mana kamu sayang?”


Kubuka pintu kamarnya. Ada tumpukan kado dariku di atas meja. Kupandangi sekitar, mencari-cari keberadaannya. Dia sedang berdiri di depan jendela kamarnya yang langsung menghadap ke halaman rumah.


“Raisa, ayo turun. Teman-temanmu sudah datang.” bujukku.


Raisa menggelengkan kepala. Gaun putih panjang membuatnya terlihat manis. Aku telah menyewa piñata rias untuk memoles wajah polosnya yang cantik seperi mamanya.


“Kenapa sayang?”

“Om Badut belum datang, Papa.”

“Sebentar lagi sayang. Papa sudah mengundangnya.”

“Beneran Pa? Ngga bohong kan?”

“Serius. Papa selalu memberikan apapun yang Raisa mau.”

“Asik!” Raisa memelukku senang.


Kulirik arloji di tanganku. Sudah jam tujuh seperempat. Sialan juga badut itu. Badut yang kata Raisa langganan di sekolahnya telah kubayar di muka untuk acara ini. Benar-benar tidak tahu diuntung! Maunya makan duit orang tanpa bekerja.


“Lihat Papa! Om Badut datang!” teriak Raisa kegirangan dan berlari ke luar kamar.


Aku tersentak. Senyum itu, sudah lama sekali aku tidak melihatnya di wajah Raisa. Senyum yang hilang delapan bulan yang lalu setelah kematian mamanya, istriku.

***

Acara ulang tahun di mulai. Semua tamu Raisa sibuk bernyanyi. Si Badut sialan itu ikut memimpin, berjingkrak-jingkrak kegirangan. Tiup lilin dan potong kue untuk Raisa. Potongan pertama untukku. Potongan ke dua untuk Badut sialan itu. Si Badut menyunggingkan senyum. Aku tahu, dia pasti mengejekku.


Entah sihir apa yang digunakan untuk mengambil hati Raisa putriku. Bisa-bisanya Raisa membandingkan aku dengan Badut sialan itu. Kalau bukan karena Raisa, aku tak akan sudi memanggilnya. Setengah delapan, gara-gara badut itu mungkin aku tidak bisa memenangkan tender.


Buru-buru aku berjalan ke luar rumah tanpa berpamitan dengan Raisa. Aku harus pergi apapun yang terjadi.


“Papa! Mau ke mana?” teriak Raisa dari depan pintu.

“Papa pergi sebentar sayang. Ada pekerjaan penting yang harus Papa selesaikan.”


Kulambaikan tangan sekilas. Raisa cemberut dan masuk ke dalam rumah. Ini demi kamu sayang.


Kulajukan mobilmu dengan kencang. Kucoba menelfon Ana sekretarisku yang sudah standby di café. Kulirik bangku di sampingku. Ke mana tas kerjaku? Berkas itu harusnya aku bawa saat meeting.


Kuhentikan mobilku dan berbalik arah ke rumah. Aku baru ingat, saat pulang kerja tadi, Raisa bersikap manis dan membawakan tasku ke dalam ruang kerjaku. Ya Tuhan, Raisa!


***


Aku berjalan masuk ke dalam rumah. Terhenti mematung melihat Raisa dari depan pintu. Dia tertawa, lebar sangat lebar sampai-sampai memegangi perutnya. Teman Raisa yang lain juga sama, mereka tertawa-tawa karena permainan si Badut sialan itu. Sudah terlalu lama, aku tidak melihat tawa renyah Raisa. Raisa memeluk Badut itu, mengecup pipinya perlahan.


Ada perasaan panas menjalar di dadaku. Rasa yang sulit di jelaskan. Mungkinkah aku cemburu?


“Raisa.” Panggilku.


Raisa menoleh, berlari memelukku.


“Papa! Om Badut lucu sekali.”


Raisa menarik tanganku, mendekatkanku kea rah badut itu.


“Papa belum kenalan kan sama Om Badut? Om Badut ini pintar sekali membuat Raisa tertawa.” cerita Raisa penuh antusias.


Badut itu mengulurkan tangannya. Kusambut uluran itu.


Si Badut kembali bermain dengan Raisa dan anak-anak yang lain. Mereka kembali tertawa, membahana di ruang tamuku.


Aku bertanya, lebih tepatnya bertanya kepada diriku sendiri. Kapan terakhir kali aku membuat Raisa tertawa lepas seperti itu? Membuat Raisa lupa dengan kesedihan, memeluknya, mencium pipinya. Sudah berapa lama aku melewatkannya?


“Pak Ray, maafkan saya.” kata Badut itu menyadarkanku.

“Maafkan saya karena sudah telat datang di ulang tahun Raisa.” katanya lagi.

“Sudahlah. Toh kamu sudah datang.” kataku tak peduli.


Kuperhatikan Raisa yang sibuk menyalami tamunya yang akan pulang. Dia terlihat begitu senang.


“Pulang dari makam saya langsung berdandan kesini Pak. Jadi telat. Sekali lagi maaf.”


Aku menatap badut itu.


“Makam?”

“Iya Pak Ray. Anak saya baru saja meninggal karena kecelakaan lalu lintas.”


Ya Tuhan! Aku mentapnya tak percaya.


“Aku turut berbela sungkawa.”

“Terimakasih Pak Ray.”

Bapak tidak sedih? Harusnya Bapak ijin untuk ini.”

“Sedih? Tentu saja saya sedih. Dia satu-satunya anak lelaki saya. Mau ditangisi, toh dia tidak akan balik lagi Pak. Yang bisa kami lakukan ya legowo, ikhlasin dia di sana. Kalau kita nangisin terus, justru menghambat jalannya di sana. Lagian, Pak Ray sudah bayar saya di muka. Saya tidak tega melihat Raisa sedih. Pak Ray lihat tadi? Semua anak tertawa. Apa jadinya kalau saya ingkar janji?”


Aku terhenyak. Apa yang telah aku lakukan?


“Pak Ray, saya pamit dulu ya?”

“Iya Pak. Aku dan Raisa akan mengantar sampai rumah.”

“Tidak usah repot-repot Pak Ray. Anda dan Raisa sudah terlalu baik kepada keluarga saya. Uang yang Anda berikan kemarin bisa biayai anak-anak sekolah. Terimakasih Pak Ray.”


Kupandangi punggung Badut yang kubilang sial tadi. Dia mendekati Raisa. Berpamitan dan memeluknya sekilas. Bagaimana bisa? Badut yang menurutku sial, ternyata berbalik arah. Dia sedih, tapi masih mampu menghibur orang lain. Sedangkan aku?


Aku masih ingat saat mama Raisa meninggal. Aku terpukul berat. Berhari-hari aku mengurung diri di kamar, mengisi separuh hati yang telah pergi. Rasanya dunia runtuh, tak sanggup lagi kaki berpijak di bumi. Aku bahkan mungkin tak peduli dengan keberadaan Raisa yang juga merasakan kehilangan yang sama.


Dua minggu setelah kepergian mama Raisa, aku menyibukkan diri dengan bekerja. Menghabiskan waktu dengan kerja dan kerja. Aku hanya mengantar Raisa ke sekolah. Aku tak peduli bagaimana penampilannya, kuncir dan kepangan biasanya mamanyalah yang mengurus semuanya. Yang kuingat dan tidak pernah berubah setiap pagi selalu ada secangkir teh di meja seperti yang selalu dilakukan mama Raisa. Mungkinkah Raisa yang menyiapkannya?


Aku mendekati Raisa yang sibuk membuka kadonya. Kupeluk tubuh mungilnya. Aku merindukan Raisa juga mamanya.


“Raisa, maafin Papa ya?”


Raisa berbalik menatapku.


“Memangnya Papa salah apa?”

“Papa tidak memerhatikan kamu. Papa sibuk sendiri.”

“Tidak masalah Papa. Raisa bisa mandiri. Raisa sudah bisa kepang rambut sendiri.”


Aku tersenyum menatapnya. Gadis mungilku.


“Kadonya banyak ya Raisa. Papa boleh minta satu?” godaku.

“Papa mau minta yang mana? Tidak ada yang cocok untuk Papa. Oh iya, kadonya mana Pa?”

“Kado? Bukannya sudah Papa taruh di meja kamar?”

“Kado yang lain Papa!”

“Apa?”

“Mama baru untuk Papa. Biar ada yang ngurusin Papa. Biar Papa tidak sedih lagi.”

Aku terhenyak dengan permintaan Raisa.

“Kan udah ada Raisa yang ngurusin Papa. Terimakasih buat tehnya ya?”

“Sama-sama Papa.” jawabnya seraya mencium pipiku.



8 comments:

  1. Iiih, trakhir2nya itu lhooo, papa butuh bgt, nak *kemudianditimpuk :D

    ReplyDelete
  2. mendapat hikmah dari om badut ya si papa

    ReplyDelete
  3. Jiah, ada satu tanya yang terus menggantung di kepala da tak kunjung menemukan jawabannya setelah selesai membaca kisahmu; kenapa tokoh papa benci pada si badut? di paragraf awal justru diceritakan kalau papa dan badut tak saling kenal.

    bagian berikutnya menyatakan bahwa kedua orang itu sudah lama kenal. terbukti dari perkataan si badut mengenai uang yang diberikan.

    ada penjelasan? :)

    ReplyDelete
  4. @attarsandhismind :
    Badut yang kata Raisa langganan di sekolahnya telah kubayar di muka untuk acara ini. Benar-benar tidak tahu diuntung! Maunya makan duit orang tanpa bekerja.

    Duit bayaran itu mas, bayaran di muka

    ReplyDelete
  5. aku mau jadi Mama barumu Nak :D
    wkwkwk

    ReplyDelete
  6. Aa gak sebaiknya kata sialan di ganti dg yang lbh enak di baca? Atau kasih tanda **, mmm bacanya jadi gimana geto

    ReplyDelete

Mana jejak tulisanmu?