Saturday, 2 November 2013

Masuk Neraka Siapa Takut : Miss Pelit Sok Elit


Mendapat nilai bagus, tinggi di kelas adalah dambaan setiap siswa/siswi. Kadang, orang tua sendiri, lebih bangga jika nilai matematika anaknya 10 ketimbang nilai agamanya yang 10. Tidak dapat dipungkiri, seringkali orang tua mati-matian mengikutkan anaknya les agar nilai akademiknya tinggi. Padahal, tidak semua anak pintar di bidang akademik. Banyak juga lho yang pintar di bidang lain. Ya, karena kecerdasan otak kiri dan kanan mereka memang berbeda.


Aku sendiri, saat sekolah memang lebih ditekan pada nilai akademik. Tapi jangan salah, dalam ilmu agama, orang tuaku juga memberikan porsi lebih. Sekolah diniah, ngaji atau something yang berbau agama.


Hadeh, intronya kok ke mana-mana sih :uhuk . Baiklah, kita mulai :smile .


Aku selalu terbiasa belajar sendiri. Mbak dan Kakak jarang sekali nemenin belajar begitu juga Bapak dan Bu e. Dulu pernah sih sama Mas diajarin belajar. Kadang juga sama temen SD ngadain belajar kelompok. Serius nih belajar kelompok? Aku sih serius, tapi teman yang lain, audeh. Kalau ada PR, maunya ya ngerjain bareng, saling mengingatkan kalau salah. Tapi ujungnya, nyontek teman yang sudah ngerjain. Sebel banget tau :jiah .


Masuk MTsN, aku juga masih sering belajar sendiri. Meskipun teman seangkatan di pondok banyak, tapi ngga ada yang satu kelas ditambah lagi gurunya berbeda. Kadang kelasku ada tambahan materi soalnya memang masuk kelas spesial. Persaingan di kelas juga sangat ketat. Kalau ulangan atau tes, jarang banget ada yang nyontek. Malu tau :shy . Kelas unggulan kok nyontek :etc .


Sampai ujian nasional, bagi kami sekelas pantang buat nyontek. Tapi, kadang gurunya pesen, itu teman kamu bantuin, kasian *Errr :jiah .


Masuk MAN, ngga terlalu banyak perubahan. Aku tetap belajar sendiri, masih anti dengan yang namanya nyontek. Sering kali saat ada PR, pagi-pagi pada ribut sendiri, nyontek dong! Katanya. Aku paling sebel setengah mati kalau dimintain contekan. Hello? Semalaman kalian ngapain? Kenapa ngga belajar? Kenapa musti nyontek? Rasanya itu ya, kamu kerja keras, tapi orang lain yang nerima hasil kerja kerasmu. Hadeh cape deh!


Setiap kali tes, aku juga melakukan hal yang sama. Aku ngga akan ngasih contekan selama aku ngga nyontek. Sampai-sampai, mereka mencapku sebagai Miss Pelit Sok Elit. Gayanya selangit kalau soal pelajaran. Masa bodoh deh ya :uhuk .


Seiring berjalannya waktu, ternyata idealis yang dijunjung tinggi itu pun mengikis seiring bertambah majunya jaman dan isu global warming. Pelajaran seolah menjadi lebih sulit, dan pastinya, standar nilai yang ditetapkan bertambah tinggi.


Masuk progam IPA, tak melulu menguasai pelajaran di dalamnya. Terbukti, aku dan teman-teman lain justru banyak remidi di pelajaran eksakta. Aneh? Tidak sama sekali. Remidi di pelajaran eksakta seolah menjadi sesuatu yang lumrah. Memalukan!


Dari sanalah, idealisme tentang anti mencontek mulai terkikis. Tiap malam saat mengerjakan PR, bingung dengan rumus apa yang harus dipakai. Terpaksa dan nekat, pagi-pagi akhirnya mencontek juga dengan teman yang sudah mengerjakan PR. Rasanya malu, tapi kita harus mengerjakan PR demi nilai yang diagung-agungkan itu.


Setiap kali tes atau ulangan, kadang aku meminta bantuan teman. Ini rumusnya yang mana? Ini golongan apa? Cos tangennya berapa? Seperti hukum alam, ada yang namanya timbal balik. Kalau aku minta bantuan teman, sebisa mungkin aku juga bantu mereka. Ada pelajaran yang selalu kita amalkan berupa simbiosis mutualisme dimana kita bisa saling menguntungkan.


Sampai kelas XII dan ujian pun, kami masih mengamalkan simbiosis mutualisme itu. Saat ujian apa lagi. Bahkan guru yang jadi panutan pun melegalkan untuk saling membantu atas nama baik sekolah. Demi kelulusan 100% yang dibanggakan itu.


Hasil dari kelakuanku apa coba? Sampai lulus pun mereka masih mencapku Miss Pelit Sok Elit. Jengkelin banget kan ya? Sudah di bantu, tetep aja tuh cap ngga ilang. Dalam beberapa hal, sebenarnya aku serius dalam belajar dan mengerjakan soal. Aku yakin, tanpa mencontek pun, aku bisa menyelesaikan soal tersebut dengan nilai yang lumayan.


Yang paling menyakitkan adalah ketika kenyakinan itu terbantahkan dengan nilai yang standar sementara yang mencontek malah mendapat nilai lebih. Mereka tertawa di atas podium, bangga dengan semua prestasi yang terlihat.


Mencontek memang seolah menjadi sesuatu yang lumrah, legal dan selama ngga ketahuan ngga akan ada masalah. Apakah ini tergolong dosa?


“Dan tolong menolonglah dalam kebaikan dan jangan tolong-menolong dalam keburukan dan dosa.”


Aku tahu, ini adalah dosa. Tapi bagaimana kalau gurunya sendiri yang mengajarkan tentang dosa itu? Siapa yang dipersalahkan? Dalil guru yang di gunakan sendiri adalah demi nama baik sekolah. Jadi ini salah siapa?


Masih ingat kah dimana ada seorang anak SD yang tidak mau mencontek lalu dibully guru dan juga teman-temannya di sekolah? Anak yang jujur saja dari kecil mental kejujurannya sudah dimatikan, bagaimana kalau mereka besar?


Belajar dari semua hal yang telah terjadi, selayaknya kita terutama aku akan berusaha mendidik anak-anakku nanti dengan kejujuran. Semua belajar dari rumah. Jika rumah sudah mengajrkan kebaikan, aku yakin saat di tempat lain pun kebaikan itu akan tetap menular.


Sebagai guru sendiri, sebaikanya kita berkaca, sudah pantaskah kita menjadi teladan? Kita adalah pencetak generasi muda, pembimbing yang banyak ditiru. Pantaskah jika kita mengajarkan mereka tentang kebohongan demi kebaikan?


Saatnya kita memperbaiki diri. Yang terjadi di masa lalu, biar menjadi catatan buruk untuk diperbaiki. Mari kita mengajarkan tentang kebaikan, tentang kejujuran, tentang segala yang patut diteladani dari Rosulullah. Mari kita mengajarkan anak-anak kita percaya diri, meyakinkan diri mereka bahwa mereka itu hebat.


Beri pengertian mereka tentang mencontek, tolong menolong dalam keburukan itu tidak baik. Ajarkan mereka tentang memilah mana yang boleh di contek mana yang tidak. Mencontek dalam kebaikan justru sangat di sarankan.


Tung Desem sendiri yang seorang pengusaha dan pembicara keturunan China mengajarkan tentang mencontek. Bukan tentang keburukan tapi tentang kebaikan. Darinya aku belajar tentang ATM. Amati, tiru dan modifikasi.


Kita juga bisa mencontek dari cara Rosulullah dalam mendidik anak-anaknya. Beliaulah suri tauladan yang sudah dijamin masuk surga.


Inilah aku yang kata temanku Miss Pelit Sok Elit yang ngga mau mencontek dan akhirnya terjerat juga untuk melakukan pencontekkan. Bukan suatu kebanggaan memang. Tapi dari sana aku belajar banyak hal. Harusnya aku lebih percaya diri dengan kemampuan yang kupunya. Harusnya aku lebih rajin belajar dan mengasah apa yang bisa aku lakukan. Harusnya aku percaya, setiap ujian yang Allah berikan itu sesuai kemampuan kita.


Mencontek ngga selamanya berujung negative. Tinggal kitanya sendiri, maunya mencontek dalam hal apa. Dalam keburukan atau kebaikan.




“Artikel ini diikutkan sebagai peserta Fiesta Tali Kasih Blogger 2013 BlogS Of Hariyanto – Masuk Neraka Siapa Takut!!!???

14 comments:

  1. Aku dulu jg suka nyontek, dan berhenti nyontek krn takut masuk neraka hehehe

    ReplyDelete
  2. Alhamdulillah, terimakasih sudah berkenan berpartisipasi ya, artikelnya sudah resmi terdaftar sebagai peserta,
    btw-kita selalu diajarkan untuk meniru orang lain dalam berbuat amal kebaikan, namun kalo meniru yang ternyata efeknya mengikis sifat kejujuran dalam diri..saya rasa itu hal yang sangat tidak dianjurkan oleh agama.....salam santun dari Makassar :-)

    ReplyDelete
  3. inget banget pas pertama kali nyontek di SMP, pelajaran fisika yg gurunya galak bener. Saking gemeterannya, buku contekannya jatuh pas gurunya lewat di sampingku. Langsung disobek kertas ulanganku hihihiiii... duduuull bgt :D

    ReplyDelete
  4. saya dulu juga akhirnya mamlah nyontek... hhmm....

    duh gimana ya

    ReplyDelete
  5. Mencontek itu dosa jamaah ya... sopo to yo seng urung tau nyontek???? hahaha

    ReplyDelete
  6. nyontek memang enaak..hehehe #lho....tapi siapa sih yang ngg pernah nyontek? aku seringannya gagal hihi, yang ada ngasih contekan yang sering...et seruuu..walaupun mungkin dosanya sama yah :D...btw...sukses GAnya yaaa...

    ReplyDelete
  7. kalau cuma ulangan sekolah, murid ketauan nyontek sama gurunya, pasti lgs dimarahin, nilai ulangan jeblok, gak jrg juga kertas ulangan disobek. Tapi kalau udah ujian kelulusan, walaaah.. guru sangar aja bantuin kasih kunci jawaban yahh, *miris emang.. ckck

    ReplyDelete
  8. errrr mencontek yak?
    jadi kebudayaan ya di negeri kita. eh bukan, rahasia umum. -_-
    sebelum ujian dilaksanakan, ujian sudah menyebar kemana-mana. Dalam hal ini berarti negatif. untuk memutus rantainya susah banget, apalagi kalau 'nilai' yang jadi ujung tombaknya...

    ReplyDelete
  9. Postingan yang menarik, Bismillah semoga berkah.

    ReplyDelete
  10. aku pernah dimusuhin sama teman-temanku karena nggak mau ksih nyontekkan, dan dipandang sinis karena aku kesannya pelit jawaban gitu....

    tapi lama-lama aku terjerat juga mirip kisahx mbak jiah... huhuhuh...

    ReplyDelete
  11. eh... aku dulu gak pernah nyontek...dapat jelek ya pasrah aja.. ahhahaha

    ReplyDelete
  12. kayaknya yang namanya dosa setiap saat membawa ketidaktenangan hati ya, Jiah. soalnya ada temen pas smp yang akhirnya ngaku klo dia dulu suka nyontek aku. aku aja ga nyadar pas dia nyontek itu aku kirain dia nyontek samping kananku

    ReplyDelete
  13. jujur, saya dulu juga pernah nyontek, hingga akhirnya saya kapok karena nilai ujian akhir justru anjlok karena kebiasaan nyontek yang tak lagi bisa dilakukan saat ujian akhir.

    ReplyDelete

Mana jejak tulisanmu?