Wednesday, 27 March 2013

Berani Cerita #04 : Unwritten


Aku melihat sekitar, bersiap dengan pakaianku. Aku yakin dia, lelaki itu akan datang lagi. Tepat!

"Hai, apa kabar? Aku senang bisa ketemu kamu lagi,"
"Oh ya? Aku baik-baik saja. Oh iya aku..."
"Boleh duduk disini?"
"Ah iya, silakan"
"Ini untukmu,"

Dia mengerutkan dahi,

"Kertas kosong?"
"Aku ingin memulai sesuatu yang baru, bersamamu, kamu mau?"
"Tentu saja,"
"Aku tak mampu menuliskannya, aku tidak bisa membaca pikiranku sendiri. Aku mencoba berlari, pergi menjauh dari segala tradisi di desa yang menyatakan wanita tidak perlu sekolah karena akhirnya pun dia akan jadi ibu rumah tangga, hingga...."
"Aku menemukanmu di tengah deras hujan, begitukan?"
"Iya. Aku menikmati tiap air yang menetes,"
"Tapi kenapa lidahmu tidak bisa merasa dengan baik?"
"Entahlah, harusnya aku bisa merasa itu sendiri, untukku sendiri. Maka dari itu aku ingin selalu bersamamu,"
"Aku tidak mungkin menghianati istriku,"
"Aku tak peduli,"
"Gila kamu!"
"Biarlah. Chef? masih kosong kertasnya?"
"Aku sudah bilang, aku tidak bisa menghianati istriku dengan memberikan resep nasi goreng andalannya untukmu,"
"Ayolah Chef, aku sudah datang jauh-jauh dari kampung ke Seoul untuk menjadi chef yahud. Siapa tahu Chef, Lee Min Hoo mau makan nasi gorengku,"
"Makin ngaco saja kamu, cuci piring dulu sana! Kadang kala resep itu tidak tertulis tapi dirasakan, ingat itu!"

202 kata

Maafkan aku karena Bahasa Inggrisku ngga begitu bagus :uhuk  . Geje nih ceritanya, padahal udah dengerin lagunya Natasha Bedingfield – Unwritten, udah nulis liriknya, udah diterjemahin juga :smile . Ribet banget yah :uhuk

Saturday, 23 March 2013

Prompt #6 : Black 2

Kiyaaaa~ Ini aku.....
Maaf pamirsa komentator Prompt #6 : Black , aku tidak bisa menjelaskan satu-satu pertanyaan kalian yang keren-keren itu. Jadi sebenarnya cerita Prompt #6 : Black itu begini. 

Noura adalah adik Tuan Black. Karena Black adalah seorang mavia, maka dia merahasiakan Noura demi keselamatannya. Nah, hari itu Noura yang memang tidak diketahui bahwa dia adalah adik Black datang untuk menemui Black. Dasar Nouranya konyol, dia akting-aktingan begitulah. Saat melihat Min Hoo, Noura naksir. Adegan tembakan itu, yah Noura sendiri yang nembak wong dia yang pegang pistol. Jadikan dia jingkrak-jingkrak gitu waktu digendong Min Hoo. 

Begitulah kira-kira cerita yang aku maksud. tapi sayang para komentator yang keren, aku kurang bisa menjelaskan dan terkesan membingungkan. Huh, akhirnya berkat penjelasan dari seorang mbak Latree, aku buat lagi nih Prompt #6 : Black 2 untuk mengobati kegejeanku sendiri hihihi. Selamat menikmati, siapkan tissue :uhuk

***

Noura menggeliat berusaha lepas dari security. Sebelum pintu benar-benar tertutup, dia masih sempat berbalik dan berteriak, "Saya sudah mencari anda bertahun-tahun, Tuan Black. Tiga hari lalu saya melihat facebook anda dan menemukan kisah yang sama seperti yang selalu diceritakan Ibu saya."

Black, pria setengah abad memandangi Noura dari layar monitor CCTVnya.

"Kisah di facebook? Kisah yang mana? Mungkinkah dia yang selama ini ku cari?" tanya Black pada dirinya sendiri.

Noura masih berada di gerbang depan rumah Black. Perlahan, dia melihat security berjalan menghampirinya dan menyuruhnya masuk. Dengan langkah pasti, Noura berjalan di belakang security gagah itu. Akhirnya, Black mau menemuinya juga.

Black sudah menunggu Noura di ruang tamu.

"Siapa namamu?"
"Saya Noura, benar anda Tuan Black?"
"Benar. Kisah apa yang kamu temukan di facebook? Apa ibumu bernama Farida?" tanya Black to the poin.
"Benar sekali. Apa Tuan mengingatnya?"
"Anakku..."

Noura tertegun, sementara Black memeluk tubuhnya.

"Sebentar, anak? Saya anak Tuan?"
"Iya, kamu anakku dan Farida. Maafkan ayah yang telah meninggalkanmu sewaktu masih dalam kandungan,"
"Masa sih? Mana mungkin?"
"Kamu tidak percaya?"
"Mana mungkin Tuan ayah saya? Saya sipit, ibu saya indo, lha Tuan? Black,"

Source

Noura my version :wek
Source

Tuan Black :uhuk
"Lalu kisah di facebook dan nama ibumu itu? Bukankah kisah itu tentang pencarian seorang anak?"
"He? Bukan, GeEr amat nih Tuan Black,"

Black terdiam.

"Lalu kisah apa?" tanya Black kemudian
"Itu lho, kisah tentang penjual nasi goreng di gang kelinci. Waktu ibuku hamil, beliau sering makan nasi goreng yang katanya buatan orang Item, Tuan Black bukan? Nah, saya ini lagi hamil, jadi bisakah anda buatkan nasi goreng untuk saya?"

Black ngunyah kompor :uhuk

257

Friday, 22 March 2013

Setelah Tiga Tahun



Tahun ini adalah tahun ketiga aku lulus MAN. Tidak duduk di bangku sekolah selama hampir tiga tahun itu rasanya, hem, seperti ingin memeluk Dude Harlino tapi tidak berani karena belum halal : uhuk #ditabok Mbak Sari :smile .










Harusnya yah, kalau aku kuliah, mungkin sudah masuk semester 6. Hooo, bisa juga aku mengambil skripsi lalu jadi sarjana seperti Putri Cahaya yang bisa menyelesaikan S1nya dalam waktu 3 tahun 3 bulan, keren sekali aku ini :uhuk . Tapi kenyataannya, yang nyata dan paling nyata, aku tetaplah aku yang sekarang ini bekerja. Yah, ibarat kata, aku adalah seorang wanita karir :uhuk .










Apa aku kecewa? Tidak juga. Apa pun yang terjadi dalam hidupku, meskipun dulu saat MAN aku berencana untuk langsung kuliah dan ternyata gagal, aku tetap bahagia dan bersyukur. Tidak sampai menangis bombay atau bunuh tanaman :smile .










Awalnya memang aku ingin sekali kuliah, sama seperti sahabatku si 2 Aquarius, tapi ya itu. Selain kendala dana, keberanianku pun tak ada. Andai aku bisa lebih berani menantang dunia. Dengan nekat pergi dari rumah untuk kerja sambil kuliah, andai saja. Kenyataannya aku terlalu takut pada orang tuaku. Aku takut mereka hawatir dengan keberadaanku, apalagi tiga tahun yang lalu aku sama sekali tak tahu seluk beluk dunia yang fana ini.










Oke, aku memang terbiasa hidup hemat, terbiasa puasa, terbiasa dengan segala kesulitan. Tapi sesulit apapun keadaanku yang dulu, aku masih bisa pulang ke rumah. Lha terus kalau aku kabur ke kota lain yang jarang ku singgahi, mau jadi apa aku ini? Apalagi tanpa restu orang tua, apa artinya? Nothing.










Sekarang, inilah aku, inilah hidupku. Aku percaya, ini adalah jalan yang terbaik yang Allah berikan untukku. Kalau saja tiga tahun yang lalu aku bisa langsung kuliah, aku mungkin akan menghabiskan banyak uang, jadi anak manja yang ngotot minta kiriman, mahasiswi gaptek, tidak gahul, tidak tahu ngeblog, tidak tahu twitter, tidak tahu bahwa dunia nyata ini itu begitu indah dengan adanya dunia maya.










Jadi, selama hampir tiga tahun apa yang ku kerjakan?










Setelah lulus, pekerjaan pertamaku adalah bantu kakak jualan pop ice waktu ada hajatan di tempat tetangga. Aku menyebutnya side job. Aku juga sering mengantarkan jajan yang Bu e buat ke sekolah-ku dan ke RT sebelah. Selain itu, aku juga melamar pekerjaan dibeberapa tempat. Alhamdulillah, 2 Agustus 2010 aku mulai bekerja di showroom mebel orang Korea. Hidup baru saja dimulai :uhuk










Semua pengalaman pertamaku ada disana. Pertama hidup dengan orang Korea, meskipun tidak seganteng Lee Min Hoo. Pertama ngecengin bule [secara yang datang kebanyakan turis luar] dengan bahasa Inggrisku yang tidak ada bagus-bagusnya. Pertama kali aktif di dunia maya, dari facebookan, twitteran, bloggeran, ngegame dan lain-lain :etc . Coba kalau aku kuliah, tidak pernah dapat tuh pelajaran seperti itu :uhuk . Benar-benar alhamdulillah :smile . Sekarang aku sudah pindah kerja. Sudah hampir satu tahun booo :uhuk . Masih ku ingat postingan mungkin yang mengakhiri masa kerjaku di showroom lalu hiatus. Wah, ternyata waktu kian bergulir :smile .










Setelah tiga tahun ini, ternyata aku baru sadar bahwa passionku tidak sama dengan apa yang ada di otakku tiga tahun yang lalu. Setiap hari, dari kecil sampai MAN, aku terus di cekoki matematika. Otakku mengaku cinta, karena bagi logika matematika itu mudah. Aku juga pernah menulis Cintaimu kekuatan dan kelemahanku tentang matematika yang sebenarnya menjadi dilema yang luar biasa.










Dalam pengambilan jurusan di kelas XI pun terjadi dilema antara IPA dengan Matematikanya atau Bahasa dengan sastranya. Yah, aku suka keduanya. Akhirnya pun aku memilih IPA, karena aku percaya aku mencintainya. Sampai kelulusan pun aku masih tak menyadari tentang sesuatu yang ada di hatiku. Aku masuk IPA, tapi nilai jurusan remidi jadi hal biasa, meskipun nilai matematikanya lulus. Berbeda dengan nilai bahasaku, bahasa Indonesia, Inggris, Jawa, dan bahasa Arab nilainya diatas rata-rata.










Setelah hampir tiga tahun ini, aku sadar. Ada cinta yang tumbuh, terbiasa menjadi bagian dalam hidupku, menjadi duniaku, oksigenku. Aku suka sastra, aku suka menulis dan aku baru menyadarinya. Sekali lagi, logikaku memaksa. Ini bukan hanya teori karena aku punya blog dan menulis di dalamnya. Semua orang pun bisa, kalau mau. Tanpa harus bilang, aku suka sastra. Ku telisik semua, mengambil bukti bukan hanya bualan pujangga.










Aku menemukannya, rentetan kertas yang berisi potongan kata, curahan hati yang tercecer dimana-mana. Aku menemukan buku diary usang yang berisi banyak cerita. Aku menemukannya, kartu perpustakaan sekolah yang banyak meminjam buku sastra dari pada buku pelajaran. Buku lama yang entah terbit tahun berapa. Novelet Lupus, Dari Avemaria ke Jalan Lain ke Roma, Perempuan di sarang Penyamun, Tamu, Ziarah, Pagar Kawat Berduri, Layar Terkembang, Romeo dan Juliet, Sri Sumarah, dan masih banyak lagi. Mungkin aku bodoh, aku tak merasakan keberadaannya. Kenyataannya, dalam kehidupan sebelum tiga tahun lalu dan sampai saat ini, buku-buku sastra, novel selalu berada disamping bantalku.










Tiga tahun ini, menyadarkanku dengan passion yang sebenarnya ada sejak aku kecil. Aku menemukan benang merah yang selama ini ku cari. Kenapa aku suka teater, kenapa aku suka drama, kenapa aku membuat nama pena Jiah sejak tahun 2006, yah ini jawabannya. Karena Sastra, karena kata, karena menulis, karena mereka adalah hidupku.










Tiga tahun bukan waktu yang sebentar. Tiga tahun ini memang indah. Aku menemukan semuanya di dunia maya. Ada teman, sahabat, dan duniaku yang membuatku sadar dan merasa bahagia dalam menjalaninya. Nalar hanya akan membawa kita dari A menuju B, tapi imajinasi mampu membawa kita dari A kemana saja - Albert Einsten . Yah, benang merah yang ku ucapkan saat temanku bertanya apa yang ku suka. Aku suka menghayal, aku tidak suka menghafal tapi lebih suka memahami. 







Aku percaya, tidak ada kata terlambat untuk mengakui cinta meski setelah tiga kali tujuh tahun usiaku :smile . Tak ada kata lain selain syukur alhamdulillah karena selama hampir tiga tahun aku menyadari kebodohanku ini. Aku mendapat semua darinya, kecuali cinta dari dia yang memang belum ku temukan :uhuk










Oh iya, selamat ulang tahun untuk Dija yang manis, Dija cakep jangan lupain kakak ya :uhuk [Ngaku muda] . Selamat ulang tahun juga buat Pascal dan Alvin yang ganteng, dan selamat ulang tahun buat mas bro RZ Hakim semoga makin mesra sama mbak Pit :uhuk . 










Hidup itu indah jika kita banyak bersyukur. Bukankah Allah akan menambahkan nikmat jika kita mau bersyukur? :smile











"POSTINGAN PENUH RASA SYUKUR INI UNTUK MEMERIAHKAN SYUKURAN RAME RAME MAMA CALVIN, LITTLE DIJA DAN ACACICU"

Tuesday, 19 March 2013

Prompt #6 : Black


Huh, lelah sekali hari ini. Hey, ada apa di luar sana? Kenapa terdengar begitu ramai? 

“Apa yang terjadi? Kenapa di luar terdengar sangat ramai?” tanyaku pada Min Ho asistenku.
“Ada seorang gadis yang ingin bertemu anda Tuan Black. Mungkin saja dia gembel, seperti orang-orang yang sering datang kemari untuk meminta uang,”

Ku coba menengoknya meskipun Min Ho melarangku. Noura? Tak salah lagi, itu Noura.  Noura menggeliat berusaha lepas dari security. Sebelum pintu benar-benar tertutup, dia masih sempat berbalik dan berteriak, “Saya sudah mencari anda bertahun-tahun, Tuan Black. Tiga hari lalu saya melihat facebook anda dan menemukan kisah yang sama seperti yang selalu diceritakan Ibu saya.”

Aku tak menyangka, secepat itu dia menemukan keberadaanku. Aku ingin memanggilnya, tapi aku takut jika rahasia yang ku sembunyikan selama ini terbongkar. Aku masih memperhatikannya dari  jendela ruanganku. Semakin hari, Noura terlihat hebat. Semua security di tendangnya dan dia berhasil kabur. 

“Buka pintunya, cepat!” suara Noura, cepat sekali dia

Perlahan pintu ku buka. Dengan kasar, dia masuk dengan Min Ho sebagai sandranya. Noura, mengacung-ngacungkan pistol ke arahku dan juga Min Ho.

“Apa kabar Tuan Black?”
“Baik. Cepat sekali kau menemukanku?”
“Menemukan Anda bukanlah hal yang sulit,”
“Lepaskan Min Ho, dia tak tahu apa-apa,”
“Dia? Tuan Black, sepertinya aku mulai menyukainya. Bagaimana kalau dia untukku?”
“Apa kau tak lagi menyukaiku?”

Perlahan Noura melepaskan Min Ho dan menyuruhnya pergi. Pintu terkunci, Noura masih saja mengacungkan pistolnya. Mungkin kali ini aku akan mati.

“Sekarang Anda makin tampan Tuan Black. Apa Anda tak ingin mengucapkan salam perpisahan untuk seseorang? Hari ini mungkin Anda akan mati,”
“Seseorang? Baiklah, tolong sampaikan ini padanya. Sayangku, jaga diri baik-baik, jangan sampai identitasmu terbongkar sehingga mereka membunuhmu dengan keji. Bos mafia musuhku masih mencari keberadaanmu,”
“Hanya itu Tuan Black?”
“Ah iya, jangan melakukan hal konyol lagi,”
“Hasta la fista baby,”

Dor!

Hanya ledakan kecil, Noura tergeletak. Pintu di dobrak dengan paksa.

“Anda tidak apa-apa Tuan Black?” tanya Min Ho memastikan keadaanku.
“Bawa gadis ini ke rumahmu, mungkin dia akan berguna,”
“Gadis ini? Kenapa dia pingsan? Jangan-jangan dia mata-mata musuh,”
“Sudahlah, bawa saja dia,” perintahku.

Min Ho menggendong tubuh Noura. Sebelum mereka pergi, Noura sedikit membuka mata dengan kerlingan nakal khasnya. Noura, adikku dengan segala kegilaannya. Biarlah, dari pada mafia lain yang menangkapnya atau sekalian saja ku masukkan dia di penjara bawah tanah agar aku bisa memantaunya, hahaha ....

384

Saturday, 16 March 2013

Berani Cerita #03 : When In Room

Ku lihat deretan baju yang bertengger manis disana. Ada gaun, gamis, kaos yang semuanya new arrival. Ku lirik kanan kiri memastikan semua baik-baik saja. Si pelayan tersenyum padaku aku pun membalasnya. Dia menawarkan ini itu, tapi ku katakan aku bisa memilih sendiri.

Ku dekati baju-baju yang benar-benar menggoda imanku. Di desa, mana ada model baju seperti ini? Wah, Emak di kampung kalau liat yang kinyis-kinyis kaya gini pasti langsung ngiler. Ku lihat label yang tertera. Bused dah, mahal bener.  Baju belum jadi, tanpa lengan gini kok harganya sampe setengah juta. Santai-santai, aku harus bersikap elegan. Semua akan baik-baik saja. Perlahan ku ambil beberapa helai gaun. Aku berjalan menuju ruang pas di pojok ruangan. Huh, untung suasana ngga terlalu ramai, jadi aku bisa berlama-lama di dalam sana.


Waw... Mulutku menganga melihat ruang pas yang bener-bener bagus. Rasanya aku benar-benar terpesona.  Ku gerakkan kain penutupnya agar semua kegiatan yang ku lakukan tidak terlihat orang lain. Wah, bener kata Suparmi temen FBku. Ruang pas disini memang oke punya. Kacanya besar, tempat duduknya yang nyaman, kain penutupnya juga tebal. Pas banget sesuai rencana yang sudah ku rancang.

Stop! Aku harus memastikan sesuatu. Kaca disini bukan kaca dua arah. Jangan-jangan ada kamera disini. Bisa mati kalau sampai ketahuan. Pertama, sesuai petunjuk yang ku baca di Google. Tempelkan ujung jari pada kaca. Jika ada jarak, berarti itu kaca biasa. Jika tidak, berarti itu kaca dua arah. Oh yes, kaca biasa. Aku bisa menjalankan aksiku.

Ku ambil HP yang sejak dari tadi berada dalam saku. It’s show time. Ku monyongkan bibir, cekrik! Gaya dua jari, peace.... Cekrik! Gaya senyum paling manis, cekrik! Em, gaya apa lagi yah?

“Mbak, sudah apa belum? Gantian dong?” kata seseorang membuyarkan semua kegiatanku
“Iya mbak, sebentar lagi saya keluar,” jawabku

Ku pandangi wajahku di kaca ruang pas. Ngga sia-sia aku kesini. Ruang pas ini memang mempesona. Lumayan udah ambil beberapa foto buat di upload di FB, hihihi.... Sekali lagi ah.... 1, 2, 3...

Cekrik!

322 Kata


Lampu Bohlam #3 : Pesona

Notes :
Aku belum pernah masuk ruang ganti sama sekali, katrok.com :uhuk . Mainnya di pasar sih :hepi

Friday, 15 March 2013

Prompt #5: Dilema


Roni menghempaskan lembaran itu ke lantai. Marni terdiam melihat Roni yang tampak gelisah.

"Tidak, jangan sekarang. Kasihan Ririn jika dia tahu tentang ini semua." Ucap Roni pada dirinya sendiri.

"Semuanya baik-baik saja kan Yah?" tanya marni istri Roni

Marni memungut kertas yang baru saja dijatuhkan Roni dan membacanya.

“Ini hasil seleksi pemain drama yang akan tampil di ulang tahun SMA Ririn kan Yah?”
“Iya, kenapa harus sekarang? Besok ulang tahun Ririn,”
“Apa ada yang salah? Ririn masuk menjadi salah satu pemainnya,"
"Apa Bunda tidak membacanya? Ririn mendapat peran sebagai Bawang Merah. Ayah tahu betul, Ririn menginginkan peran Bawang Putih. Ayah tidak bisa membayangkan wajah kekecewaan Ririn. Dia pasti akan marah besar,"
"Sudahlah Yah, Ririn adikmu sudah besar, dia pasti bisa mengerti,"

Roni hanya menunduk. Hadiah yang telah dipersiapkan untuk Ririn adik yang telah dirawat sejak kecil pasti tak akan berguna. Ririn yang keras kepala pasti akan marah besar karena keinginannya tidak terpenuhi. Lalu, apa yang harus Roni lakukan?

"Kak Roni, mbak Marni Ririn mau...."

Roni kaget dengan kedatangan Ririn. Roni segera merebut kertas pengumuman itu dari tangan Marni sebelum Ririn membacanya.

"Eh, pada kenapa sih? Kok mukanya tegang gitu?" tanya Ririn penuh curiga.
"Tidak ada apa-apa Rin, beneran," jawab Roni.
"Rin, tadi kamu mau apa? Mbak Marni anterin ya?"
"Ririn mau liat apa yang Kak Roni sembunyikan itu., bolehkan?" rengek Ririn

Marni dan Roni saling memandang. Perlahan Marni mengangguk mengisyaratkan agar Roni memberikan kertas pengumuman itu pada Ririn. Walau bagaimana pun, cepat atau lambat Ririn akan tahu.

Ririn menerima kertas itu dengan semangat. Dibacanya perlahan dan perubahan mimik wajahnya membuat Roni dan Marni sedikit hawatir.

"Apa-apaan ini? Bagaimana mungkin aku bisa mendapat peran Bawang Merah? Aku sudah mati-matian berlatih untuk memerankan Bawang Putih, kenapa jadi begini? Kakak ini bagaimana sih? Apa tidak bisa menukar peran? Lalu buat apa Kakak jadi Kepala Sekolah kalau begini saja ngga bisa?" Ucap Ririn penuh Amarah.
"Maafkan Kak Roni Rin. Kakak memang belum bertemu dengan juri drama ini,"
"Kak Roni jahat. Ririn benci, benci ini," ucap Ririn berurai air mata.

Marni berusaha memeluk Ririn, tapi dia mengelak. Roni tidak tahan melihat adiknya berurai airmata seperti itu. Kedua orang tuanya yang sudah di surga pasti akan mengutuk dirinya yang tak becus mengurus adik semata wayangnya.

"Sekarang, Ririn mau pergi. Jangan halangi Ririn,"
"Kamu mau kemana Rin? Kita bicarakan ini baik-baik ya," ucap Marni
"Kakak tidak mau kamu pergi dengan keadaan seperti ini. Kita cari solusinya," sambung Roni
"Solusi apa? Bukankah semua telah terjadi? Tak ada yang bisa di perbaiki. Biarkan Ririn pergi,"

Ririn berlari kemudian Roni mengejarnya. Sedetik kemudian dia berhenti.

"Oh iya, aku belum salim yah? Akting ku tadi gimana Kak? Bawang Merah sekarang lagi booming. Siapa tahu gara peran ini, langsung ada produser yang ngajakin aku syuting," bisik Ririn pada Roni yang hanya terdiam membisu.

461


Monday FlashFiction

Thursday, 14 March 2013

Kehilangan

Aku tidak menyebut ini cinta, ini hanya intikali semata ~ John Terro

Kalau ini, aku malah belum bisa menyebut ini cinta. Mungkin hanya sebuah rasa yang terpendam dan memang harta terpendam yang tidak perlu diotak-atik lagi :uhuk .


Aku bertemu dengannya untuk pertama kali saat mendaftar sekolah :uhuk . Dia, pendiam sama diamnya sepertiku #Ciyeee :uhuk . Waktu itu dia bersama ibunya dan aku bersama bapakku. Biasalah namanya orang tua, pengen aja lihat transkrip nilai ujian anak-anaknya. Joinan tuh para orang tua, aku juga lihat sih :uhuk . Nilainya, bagus, pinter dia.  Dia itu namanya ... #Sensor . Oh namanya itu, kaya nama teman SDku :uhuk .



Setelah ujian seleksi dan pengumuman yang ternyata aku bisa masuk sekolah tersebut :smile . Setelah MOS 3 hari, kami siswa-siswi baru mendapat pembagian kelas. Pucuk dicinta ulam (ikan) di air [Pepatah apa ini?] aku sekelas sama dia :uhuk .


Karena sudah kenal sebelumnya, kami pun akrab. Bangkunya juga ngga jauh-jauh amat dari tempat dudukku :uhuk . Aku dibaris pertama, dia nomor tiga dibelakangku. Kalau ditanya rasanya gimana? Biasa aja sih, kan aku ngga menyebut ini cinta :wek .  Namanya juga anak baru lulus SD, mana ngerti soal cinta-cintaan? Aku juga ngga ngerti kenapa ngobrol sama dia itu menyenangkan. Mungkin sih karena kesan pertama yang baik kali yah.


Sebenarnya, aku adalah seseorang yang gampang sekali mengagumi orang lain, suka sama orang lain, tapi ngga gampang jatuh cinta. Rasa sukanya itu pun ngga bisa instan, ketemu langsung gimana-gimana. Semua itu perlu proses dan pemasakan yang matang :uhuk .  Tapi untuk mengagumi sesosok dia, jujur aku ngga tau alasannya. Dari kepintaran? Semua teman sekelasku pinter cuy, anak rangking semua. Jadi alasannya apa? Entahlah.


Setelah beberapa bulan, kami memang akrab ditambah lagi teman sebangkunya juga baik banget. Kadang-kadang diskusi bertiga juga. Yah seru-seruan gitu. Suatu hari, aku ngobrol sama dia. Ngobrol biasa gitu. Eh ngga taunya ada yang nyorakin. Katanya aku sama dia ada apa-apa. Padahal iya sih, aku menganggap dia sahabat yang baik :uhuk . Tapi toh akhirnya, kami saling menolak masing-masing. Maksudnya, kami bilang kami ngga ada hubungan spesial selain pertemanan sama seperti teman lain.


Mulai dari sanalah, dia menjauhiku :hwa . Aku kehilangan dirinya :hiks . Kalau aku lebih mengartikannya, kehilangan teman ngobrol, teman diskusi. Maklumlah, teman sebangkuku juarang ngomong.


Waktu berlalu, kami naik kelas VIII. Dia masih teman sekelasku. Cuma tempat duduknya jauh banget dari jangkauanku. Yang masih sama, dia masih diemin aku coba. Ngomong aja kalau ada sesuatu yang penting. Kalau ngga ada? Yah berlalu deh.


Suatu hari, dalam pelajaran Bahasa Indonesia kami ditugaskan untuk membuat denah rumah masing-masing. Tiba-tiba dia liatin denah rumah yang ku buat. Wah, aku sudah GeEr tingkat dewa. Oh jangan datang ke rumahku. Aku jarang di rumah :smile . Dia Cuma bilang, “ Oh daerah ini? Aku sering lewat waktu main ke rumah si A. Kadang kalau aku pergi ke sekolah, aku juga lewat sini,” . Just it :etc .


Oh iya, dia juga seseorang yang pernah menegurku ketika rambut panjangku terlihat saaat berkerudung. Katanya gini, “Buat apa pakai kerudung kalau rambut belakangnya kelihatan,” . Padahal, banyak teman di kelas juga seperti itu. Tapi kenapa aku aja yang ditegur? Aha! Mungkin karena pacarnya berambut pendek, makanya rambutnya ngga kelihatan, trus dia menegurku :uhuk.


Aku belum bilang ya? Waktu kelas IX, dia pacaran sama teman cewek sekelas kami. Yah, tiga tahun kami sekelas terus. Bosen aku. Ceritanya aku masih sebel gara-gara kehilangan dia, sahabatku yang dulu.


Sampai kelulusan pun, ngga ada kata-kata spesial pakai telur yang terucap. Kami sama-sama gembira karena satu kelas bisa lulus. Nilai kami juga lumayan, bisa masuk sekolah favorit. Salaman massal satu kelas, standar ajalah.


Kami mendaftar di sekolah yang berbeda. Semua kembali normal, seolah kita memang tidak pernah berjumpa. Aku tahu dia sekolah dimana, hanya sebatas tahu dari beberapa teman. Aku dengan kehidupannku, dia dengan kehidupannya.


Tahun 2010, ketika kita sudah lulus SMA, aku tak tahu dimana dia kuliah. Pernah ketika tahun 2011, saat aku sudah aktif ber FB-an ria, aku menemukan teman-temanku yang dulu. Di sebuah akun, aku menemukan fotonya. Nama FB yang dia pakai juga mirip nama aslinya. Langsung saja ku add dan beberapa waktu di konfirmasi olehnya. Ini ku lakukan bukan karena ada rasa padanya. Aku hanya berfikir, kita sudah sama-sama besar. Masihkah ada kesempatan untuk menjalin pertemanan lagi? Seperti dulu saat pertama kali bertemu.


Setelah menjalin pertemanan di FB, aku masih canggung untuk menyapanya. Aku hanya membaca status-statusnya. Dia sering kali menggunakan Bahasa perancis. Setres mode on deh :uhuk . Hingga suatu hari, dia menggati PP dengan foto seorang perempuan. Aku kira, dia pacarnya. Tapi kenyataannya, akun FB itu milik seorang perempuan yang mungkin saja pacarnya, bukan akun miliknya. Kiyaaa~ aku salah add :uhuk .


Sekarang ini, aku tak tahu sama sekali kabarnya. Aku memang sengaja tidak mencari tahu, apa untungnya coba? #ModusPedagang . Apa aku masih kehilangannya? Sepertinya aku lebih takut kehilangan waktu untuk  berkarya daripada memikirnya :uhuk . Kalau suatu hari aku bertemu dengannya, kira-kira apa yang akan ku lakukan? Ah, biarlah semua mengalir apa adanya :smile .


Tulisan ini diikutsertakan pada Giveaway Tentang Cinta yang Tak Kesampaian/Terpendam

Wednesday, 13 March 2013

Berani Cerita #02 : Rama

Dalam suasana malam yang mencekam di tengah hutan, beberapa orang berlarian tak tentu arah. Tak ada cahaya, hanya gelap yang menyapa.

DOR!

Suara tembakan melesat jauh dikegelapan malam. Krek! Gedebug! Perlahan terdengar jelas suara ranting yang tertindih tubuh yang ambruk lemah tak berdaya. Aku berlari mendekat, memastikannya. Apa dia baik-baik saja atau malaikat maut telah mencabut nyawanya?


"Dia mati. Bawa mayatnya. Akhinya kita bisa istirahat setelah berlari seharian ini," ucapku pada anak buahku.
"Siap Inspektur!" jawab mereka serempak.


Malam ini, tepat saat bulan purnama bersinar. Seorang buronan pelaku pembunuhan, mati akibat timah panas yang bersarang di dadanya. Akhirnya aku bisa bernafas lega. Aku akan pulang, menemui bayiku yang lahir ke dunia pagi tadi saat aku sedang bertugas.

***
Delapan tahun kemudian.

Rama anak laki-lakiku duduk manis di sampingku. Dia terlihat begitu gagah diusianya yang masih sangat muda. Dari kecil hingga usianya yang kedelapan tahun, aku selalu mengajarinya tegas dan berwibawa seperti ketika ayahku mendidikku waktu kecil dulu. Silfia, istriku sering protes. Katanya aku terlalu keras dalam mendidik Rama. Aku mencoba memberikan jawaban yang logis. Bukankah buah jatuh tidak jauh dari pohonnya? Aku hanya menerapkan pendidikan ketegasan, kedislipinan seperti yang sering diajarkan oleh orang tuaku dulu.


Suasana sudah ramai. Perkumpulan antar jendral ini selalu diadakan setiap tahun dan setiap orang slalu memamerkan kehebatan anak-anaknya. Aku yakin betul, anakku pasti akan menjadi seperti yang ku mau. Aku telah melakukan yang terbaik untuknya.


Rama pergi menuju panggung acara seperti anak-anak yang lain. Semua anak-anak jendral yang hadir akan menampilkan keahliannya. Jauh-jauh hari aku sudah mengajari Rama berbagai hal. Mulai dari tenis, golf, berenang, catur, menembak, semua yang sering jendral-jendral lain lakukan. Rama, kelak saat dewasa pasti akan jadi Jendral Bintang Lima sepertiku.


Semua anak tampil memukau dan para orang tua pun bertepuk tangan dengan riuhnya. Kini tiba giliran Rama. Aku sudah bersiap dengan segala penampilannya. Rama, tidak membawa raket, catur, mau pun pistol-pistolan yang ku belikan. Perlahan dia mengeluarkan kertas dan pensil kemudian mencoret-coretkan sesuatu diatasnya.


Perlahan dia memperlihatkan hasil coretannya kepada semua orang. Aku hanya melongo melihatnya dengan sedikit melotot. Semua orang menahan Tawa. Rama yang aku banggakan di depan semua orang dengan segala keahliannya hanya membuat gambar tangan yang tidak ada mutunya dalam acara sehebat ini.



Rama melihatku. Semua orang mencibir, saling berbisik tentang kebodohanku. Aku berkata rama hebat, dia bisa apa saja. Tapi ini? Air mata menetes di pipinya, dia terisak. Perlahan Silfia bangkit dari kursinya, aku menahannya. 


"Biar aku saja yang menjemputnya," ucapku
"Biar aku saja. Aku tak mau kamu memarahinya,"
"Percayalah padaku,"


Aku melangkah mendekati panggung. Rama hanya tertunduk, sepertinya dia takut padaku.


“Sayang, kamu hebat. Ayah bangga padamu,” bisikku sambil memeluk tubuh mungilnya.


Setidaknya, peristiwa pemukulan ketika aku berusia delapan tahun tidak terjadi juga pada Rama. Yah, dalam acara yang sama ayah memukulku karena aku menggambar baju perempuan di depan semua orang.


465 Kata

Quote : 
“Buah jatuh, tidak akan jauh dari pohonnya”
“Ajarlah anak-anakmu, bukan dalam keadaan yang serupa denganmu. Didiklah dan persiapkan lah anak-anakmu untuk suatu zaman yang bukan zamanmu. Mereka akan hidup pada suatu zaman yang bukan zamanmu.”

Tulisan ini juga diikutkan pada Lampu Bohlam #2 - Pohon

Tuesday, 12 March 2013

Bapak

Aku sudah sering kali menuliskan sesosok Bu e disini. Bu e, wanita yang hebat, lebih hebat dari siapa pun. Kali ini, aku ingin menulis tentang Bapakku. Seorang lelaki yang hebat dan tangguh. Dulu, Bapak adalah orang yang cukup keras. Dengan kumisnya yang tebal, Bapak cukup terlihat garang. Sauranya keras dan juga lantang. Sering kali Bapak marah saat anak-anaknya bertengkar. Tapi aku selalu percaya, dibalik kegarangannya Bapak adalah sosok penyayang.

Ketika Aku Pergi dari Rumah, entah mengapa sosok Bapak ah yang paling ku rindukan. Bapak sedikit keras kepala, aku juga. Kami sering beradu argument dalam berbagai hal. Dulu jaman aku masih labil, sering kali ingin marah gara-gara kalah omong sama Bapak. Yah beginilah kalau dua orang keras kepala sedang beradu.

Bu e, Bapak adalah orang tua yang hebat. Bapak selalu bekerja keras untuk keluarga. Bapak selalu berperinsip bahwa anak-anaknya harus berpendidikan lebih baik darinya. Semua anak Bapak harus lulus pendidikan minimal. Pendidikan minimal disini bukan wajib belajar sembilan tahun, melainkan minimal untuk bisa masuk kuliah. Empat dari lima anak Bapak yang hidup semua telah lulus MAN. Kini tinggal adikku yang masih duduk dibangku MAN kelas X. Bagaimanapun caranya, tak peduli hutang atau telat membayar, yang penting anaknya bisa sekolah.

Sekarang, Bapak sudah tidak muda. Bapak tidak sekeras dulu lagi. Bapak jauh lebih friendly. Mungkin, semakin tua seseorang, maka sikap bijaksananya akan semakin kuat. Oh iya, yang lebih keren lagi adalah  sudah tiga tahun ini Bapak berhenti merokok.

Kalau ditanya ungkapan cinta apa yang bisa ku berikan kepada Bapak  jujur aku tidak tahu. Bapak bukan sosok pecinta puisi. Bapak bukan orang yang suka basa-basi. Kalau iya ya iya, kalau tidak maka tidak. Yah, ini memang bukan hari Bapak  Tapi toh kapan pun kita bisa menyampaikan terimakasih untuk Bapak kita. Meskipun dia jarang di rumah, bukankah dia bekerja untuk kita? Untuk memberikan nafkah anak istrinya?

Bapak, aku tau kau tak sehebat Habibi
Yang bisa jadi presiden dan menciptakan pesawat terbang
Aku tahu, kau tak seganteng Jet Li
Yang jadi aktor musuh pun ditendang
Kau hanyalah Bapak
Bapakku yang ku banggakan
Bapak, terimakasih atas semua pengorbananmu
Terimakasih atas semua kasih sayangmu
Terimakasih atas cintamu

Maaf, sampai hari ini aku masih merepotkanmu
Dengan kekuatan doa darimu, aku percaya
Semua akan indah pada waktunya


Tulisan ini diikut sertakan dalam Lomba “Ungkapkanlah Cintamu”

Monday, 11 March 2013

[Berani Cerita #02] : Ngerasani


Arghhh!!!

Aku benar-benar pusing. Deadline www.beranicerita.com mendekati garis finish. Tapi apa? Ide sama sekali ngga muncul. Baru bikin FF aja otak sudah soak. Bagaimana jika kata di dunia ini habis? Semua kata telah terungkap dan telah diterjemahkan menjadi bahasa yang indah. Lalu aku tak mampu lagi berkata. Bagaimana ini?

Bluk-Bluk-Bluk

Aku begidik, suara beluk sedikit mengagetkannku. Ah, burung hantu itu kadang-kadang bikin ricuh. Hey, apa yang salah dengan burung hantu?

Aku berjalan menuju jendela kamar menjauhi monitor komputerku. Ku perhatikan burung hantu itu yang samar-samar terlihat bertengger manis di dahan pohon jambu. Entah apa yang dia lakukan disana? Di Pohon jambu milik tetangga sebelah.

Sorot matanya tajam, hidungnya pesek. Eh, itu hidung apa paruh yah? Kata orang tua, kalau ada burung hantu bernyanyi di dekat rumah seseorang, itu menandakan akan ada yang meninggal. Apa itu salah burung hantu? Menurutmu? Bukankah hidup, mati semua telah digariskan oleh-Nya?

Dilihat lama-lama, tuh burung hantu sepertinya melihat ke arahku. Udah kaya Limbad aja dia. Ah, Limbad kan juga punya burung hantu. Kemarin aku baca berita, Limbad nyalon jadi Bupati Tegal. Keren banget tuh orang. Mungkin nanti ngomong sama rakyatnya pakai bahasa isyarat kali ya? Atau mungkin akan diwakilkan oleh burung hantunya? Ngga bisa bayangin deh dia yang ngga ngomong di TV eh mau berorasi.

Sebenarnya, apa sih yang Limbad lihat dari seekor burung hantu? Kenapa bukan yang lain? Sapi, kambing, ayam, sekalian buat ternak. Burung hantu itu, matanya nyeremin meskipun memang terlihat tegas. Jarang ngomong, sepertinya introvert banget dia, ngga cocok jadi penyiar radio atau pun presenter. Kalau siang merem terus kalau malam mandangin orang sampai begidik. Tapi nyatanya, burung hantu menjadi motivator terbesar Limbad dalam berbagai aksi. Kadang-kadang kalau setanku kumat, pengen juga aku nyekik burung hantunya Limbad. Kira-kira apa yang terjadi ya?

Jah, tuh burung terbang ke arahku. Apa dia mendengar suara hatiku? Apa dia tahu aku sedang ‘Ngerasani’ dirinya? Arrggg!!!

Mati lampu. File yang ku tulis belum ku save.

Quote dari Kebudayaan Atena :
"A wise old owl sat on an oak;  The more he saw the less he spoke; The less he spoke the more he heard;  Why can’t we all be like that bird?"

Notes :
318 Kata
Ternyata membuat cerita yang tersirat itu.... :uhuk

Saturday, 9 March 2013

Prompt #4: Boneka untuk Risa


"Ibu! Lihat! Aku bawa boneka untuk Risa!"

Ibu tersenyum kemudian berkata, “Lucu sekali. Mudah-mudahan Risa suka. Ibu antar ke kamarnya sekarang?”

Bayu mengangguk senang, selalu seperti itu. Apa dia tidak lelah? Aku saja sudah lelah melihatnya terus membawakan boneka. Mungkinkah ada sedikit rasa menyesal bersarang di kepalanya?

Bayu, mantan pacar Risa sejak setahun yang lalu. Dia masih tetap Bayu yang sama, yang telah mencuri hatiku  sejak SMA dan hati Risa yang kini linglung tak mau ingat apa-apa.

"Rana, aku putus dengan Risa," kata Bayu yang sedikit mengagetkanku.

Aku diam sejenak memandangi meja makan di sebuah cafe yang sering Bayu dan Risa kunjungi. Sejak tiga bulan ini kami memang sering bertemu membicarakan berbagai hal terutama tentang pekerjaan. Bayu menjadi rekan bisnisku, tak ada yang salah jika kita sering bertemu.

"Kenapa? Apa ada yang salah dengan Risa?" tanyaku kemudian.
"Dia tak pernah salah, hanya saja aku mulai menyadari satu hal, aku tak lagi mencintainya,"

Hatiku berdesir, mungkinkah Bayu menyadarinya? Menyadari cintaku yang selalu ada untuknya? Apa dia tak sadar, yang menerima pernyataan cintanya itu aku, bukan Risa kembaranku.

"Aku sadar, kini aku mulai mencintai ..."
"Bayu?" Ucap Risa memotong perkataan Bayu dan jelas saja itu sangat mengagetkanku.
"Rana, kamu..."
"Risa, aku mohon jangan berfikir macam-macam. Ini tidak seperti apa yang kamu pikirkan," jelasku

Risa berlari dengan air mata dipipi. Aku juga merasakan sakit yang sama. Aku dan Bayu mengejarnya ke luar cafe. Beberapa orang berkerumunan di pinggir jalan. Risa, tergeletak tak berdaya dengan darah yang keluar dari kepalanya.

"Rana? Sudahkah ada perkembangan tentang kondisi Risa?" tanya bayu

Aku tersentak dari lamunan di masa lalu.

"Buat apa kamu menanyakannya? Aku tak tahan dengan kondisi Risa yang seperti itu. Dia sehat, tapi pikirannya entah kemana. Apa yang sebenarnya terjadi dengan kalian? Apakah risa tahu bahwa kamu memang tak lagi mencintainya?"

"Maafkan aku Rana, aku tak bermaksud menyakiti hati Risa. Bukankah cinta memang harus dinyatakan? Risa sudah tahu, aku tak lagi mencintainya. Dia juga tahu siapa yang aku cintai,"

"Risa tahu? Ya Tuhan.... Aku tak mau seperti ini Bayu. Aku tak bisa mencintaimu jika harus mengorbankan Risa saudaraku. Aku tidak bisa bahagia diatas penderitaannya,"

"Rana, dengarkan aku!"

"Sudahlah, cukup. Semuanya sudah cukup."

"Rana, ini bukan karena aku mencintaimu, tapi...."

"Tapi apa? Kamu sangat mencintaiku? Kita bukan lagi ABG yang berkutat dengan cinta-cintaan,"

"Rana dengar! Justru ini karena kita bukan lagi ABG, tapi karena aku sadar, bersama seseorang yang ku cintai akan membuatku lebih dewasa,"

"Persetan dengan semua itu,"

"Aku memang harus menjelaskan ini padamu. Risa sudah tahu, kamu juga harus tahu,"

"Baiklah,"


"Rana, aku meninggalkan Risa bukan karena aku mencintaimu, tapi karena aku mencintai ibumu. Aku ingin jadi ayahmu,"

Aku #Rana nelen boneka.


Monday FlashFiction


438 Kata
Nglantur tenan nih cerita :uhuk

Friday, 8 March 2013

Ketika di Bus

Bismillahirrahmaanirrahim

Setelah kemarin bercerita tentang Kota Dua Kelinci, akhirnya sore tanggal 3 Maret aku balik ke Jepara. Kalau kemarin berangkatnya sendiri, sekarang pulangnya ngga sendiri :uhuk . Ini bukan lantaran disana menemukan sesosok manusia kemudian jatuh cinta dan mengajak menikah. Itu terlalu mengada-ngada dan kurang so sweet :uhuk . Ini karena Bu e, Bapak dan Irfan nyusul kesana :uhuk . Anak mamikah diriku ini? :uhuk . Jelaslah, aku anak Bu e dan Bapak :smile .


Sebenarnya kemarin itu Bapak Bu e ada acara di Rembang sama anggota ngajinya. Yah wes, mampir deh ke rumah mbak sekalian nengok cucu, si Lala. Meski cuma sehari, paling ngga sudah cukup nyenengin keluarga jauh. Oh iya, tempat tinggalnya mbak Ita dan keluarga sebenarnya lebih dekat ke kota Rembang daripada ke Pati. 


Setengah lima sore kami sudah cabut ke jalan buat nunggu bus Indonesia Jepara Surabaya. Biasanya sih jam lima sudah datang, tapi kemarin setengah enam sore baru muncul tuh bus. Itu aja yah yang barengan nunggu ada beberapa orang. Langsung deh busnya penuh ngga dapat tempat duduk. Sebenarnya aku biasa aja kalau ngga dapat tempat duduk. Wong dulu pernah balik dari rumah mbak sampai Jepara berdiri. Biasanya aku paling ngga tahan berdiri terus kesemutan. Alhamdulillah, waktu itu ngga kesemutan sama sekali, malahan enjoy aja tuh :uhuk . Bagaimana dengan kemarin? Yap, aku duduk lesehan di belakang pak supir :uhuk . 


Awalnya sih aku mau jongkok aja, tapi posisi kurang pewe jadinya yah lesehan di belakang pak supir. Mikir-mikir enak kali yah kalau bisa baca buku, tapi lampu busnya ngga dihidupin, gatot deh. Akhirnya ndomblong aja liatin jalan sambil mantengin cari-cari patung Dua Kelinci. Tapi toh kenyataannya ngga nemu :uhuk .


Sekitar di Kudus, akhirnya dapat tempat duduk jejeran sama guruku pas MAN. Kebetulan aja sih karena beliau habis ngunjungin orang tuanya. Sebenarnya, kalau pun aku ngga nyapa beliau ngga ada masalah sih. Wong aku nyapa aja beliau lupa-lupa ingat sama aku :smile .


Namanya di dalam bus, apa pun bisa terjadi. Mulai dari ngga dapat tempat duduk, desak-desakan, kecopetan [aku belum pernah, semoga saja ngga pernah] dan lain-lain. Kalau ngga dapat tempat duduk sama desak-desakan mah biasa. Paling parah kalau sore hari barengan sama buruh yang ngga mandi trus ngangkat tangan buat pegangan, OMG :omg . Rasanya sudah pengen muntah sendiri, antara bau wangi dan bau keringat. Yah, namanya juga kendaraan umum. Kalau mau santai mah pakai kendaraan pribadi :uhuk .


Lihatlah yang ada di depanmu kemudian tulislah :uhuk . Jadi, di bus yang aku tumpangi itu memiki usia yang berbeda-beda. Ada yang masih balita, anak-anak, remaja, dewasa, ibu-ibu, bapak-bapak, mbah-mbah semuanya ada. Dari yang berjilbab, ngga pakai jilbab, bertopi, memakai kaca mata, bertas besar, tas kecil semuanya ada. Tapi ada satu tempat duduk yang terus saja ku amati.


Tempat duduk tersebut dua bangku dengan posisi di sebelah kiri tempat dudukku nomor dua dari depan pintu bus. Aku sendiri duduk di posisi kanan bangku nomor tiga. Bangku yang ku amati itu dihuni oleh seorang laki-laki dan perempuan [usianya kira-kira 20-an keatas mungkin mahasiswi/siswa]. Aku berfikirnya positif aja, mungkin mereka ‘pasangan’ entah suami istri atau pacar. Namanya juga ngira-ngira :uhuk .


Awalnya, semua normal. Si cewek sibuk dengan Hpnya, si cowok rada ngantuk-ngantuk gimana gitu . Kadang aku berfikir, dosa kali yah mataku ini. Jelalatan banget ngawasin orang lain :uhuk . Setelah memasuki Jepara, penumpang sedikit berkurang. Aku panggil deh Irfan biar duduk di sampingku, biar agak pewe gitu deh.


Ketika si Irfan sudah duduk disampingku, matanya itu lho ngga berhenti-henti menatap ke bangku sebelah. Bangku yang di huni ‘pasangan’ yang ku sebut tadi . What happen? Why? Ku tengok. Ternyata mereka berdua sedang pegangan tangan. Muka mereka deket banget. Karena si mbaknya berjilbab, aku fikir kemungkinan besar mereka suami istri. Yah, nikah muda memang bisa menjadi alternatif untuk mencegah perbuatan yang ngga pantas.


Masih memperhatikan ‘pasangan’ tadi yang sebenarnya aku mulai risih ketika melihatnya. Irfan masih saja memperhatikan keduanya yang malah makin ‘mesra’ . Aku coba mengalihkan perhatian Irfan dengan meminjamkan HP milikku. Pokoknya sebisa mungkin Irfan ngga liat lagi adegan yang kurang pantas itu. Berhasil? Yah lumayan, soalnya Irfan mendadak pusing dan mual. Jadi dia coba tidur lagi deh.


‘Pasangan’ tadi masih ‘mesra’ dan aku benar-benar risih dibuatnya. Sekali pun mereka suami istri, harusnya mereka sadar tempat. Mereka bukan di rumah sendiri apalagi di kamar. Kok bisa-bisanya ‘Mesra-mesraan’ di kendaraan umum yang penumpangnya ngga hanya usia 17+ . Awalnya aku mau komplain saja atas kelakuan mereka. Tapi kemudian aku urungkan karena aku berfikir, bagaimana kalau mereka pasangan suami istri? Nanti mereka marah karena hak asasi mereka di ‘ganggu’. Intinnya sih, masa bodohlah. Mending tidur saja :uhuk


Tapi toh kenyataannya aku ngga bisa tidur. Bukan alasan takut kesasar, wong aku turunnya tepat di bagasi, tapi yah memang ngga bisa tidur. Sampai akhirnya setelah lampu hijau di kawasan SMEA Jepara, si mbak ‘pasangan’ tadi berdiri. Kaget aku, kok ngga sama si lelaki ‘pasangan’ nya?


Aku nepok jidat, istigfar, ngamuk dalam hati, sewot, uring-uringan ngga jelas liat si cewek turun duluan terus si lelakinya yang tadinya duduk langsung berdiri dan ikut turun beberapa meter setelahnya. Jadi mereka itu? Arggg ...


Sampai di rumah, setelah bla-bla, Bu e pun bercerita. Setelah dapat tempat duduk, Bu e duduk tepat di bangku depanku dan memperhatikan ‘pasangan’ itu juga . Bu e istigfar, nyebut macam-macam untuk mengekspresikan apa yang dilihatnya. Aku pun menyambung dengan ekpresi yang sama syok :shock nya ketika tau kenyataan yang ada.


Bu e langsung wanti-wanti agar aku jaga diri. Jangan sampai kejadian macam di bus itu terjadi padaku. Tadinya pun aku berfikir betapa romantisnya adegan di bus dalam drama Korea. Ngga sengaja tertidur dan bersandar dipundak seseorang. Tapi toh kalau ada yang tertidur dan nyaris mendekat, aku langsung masang tameng, menjauh agar ngga bersentuhan.


Kenyataannya, berjilbab pun ngga jadi jaminan keimanan seseorang. Masih banyak yang berlilbab tapi rambut belakang ala ‘Ekor Kuda’ masih terlihat. Banyak yang berlilbab, tapi pakaiannya ketat. Entah masih bagus mana antara badan berjilbab, tapi hatinya entah kemana dan badan tidak berjilbab tapi hati senantiasa tunduk pada-Nya.


Semua kembali pada hati masing-masing individu. Aku ngga nyalahin si mbak yang berjilbab itu. Aku tak yakin kalau aku masih lebih baik darinya. Mungkin dia ngga bisa menghindar atau ngga punya keberanian untuk melawan. Bukankah berjilbab adalah pilihan dan kemantapan hati? Bagiku, berjilbab atau pun ngga, yang penting sopan dan bisa menjaga diri. 


Aku perempuan, kita perempuan yang sekarang ini memang belajar untuk ngga asal dicolek. Aku punya harga diri, ngga sembarang orang asal nyolek. Dikira kita ini sambal yang bebas di colek sana-sini apa? Bukankah rusaknya akhlak perempuan sama artinya rusaknya negara? Lalu mau jadi apa negara kita ini? Anak-anak kita nanti?

Thursday, 7 March 2013

Kota Dua Kelinci

Bismillahirrahmaanirrahim

Mengawali postingan bulan Maret ini, hem baiknya aku cerita sedikit tentang recap bulan Febuari kemarin :uhuk . Jadi ceritanya tema bulan Febuari kemarin adalah cerita cinta. Tapi yah ujung-ujungnya ikut giveaway juga :uhuk . Ngga papalah, meskipun ada yang bilang aku ini Miss GA, Banci Kuis, Banci Kontes yang penting aku happy :hepi :wek . Kayaknya jadi kepuasan batin kalau bisa ikut Giveaway meskipun ngga menang :smile . Kalau menang? Jingkrak-jingkrak dong yah :uhuk

Lanjut? Okey :smile

Mengawali bulan Maret, tepatnya tanggal 1 Maret aku pulang ke rumah. Pertama, jeng-jeng dulu liat pameran buku di Jepara. Meskipun ngga terlalu rame, paling ngga aku masih bisa beli buku murah buat koleksi pribadi :uhuk .  Setengah enam sore, kakak jemput dan pulang deh. Malamnya, persiapan buat perjalan buat esok pagi ke Kota Dua Kelinci :uhuk

Pada tau ngga Kota Dua Kelinci itu dimana?

Kota Dua Kelinci itu adanya di Pati Jawa Tengah. Kenapa disebut Kota Dua Kelinci? Karena Produk Dua Kelinci yang terkenal itu pabriknya hanya ada di Pati, ngga ada di Jakarta. Selain Dua Kelinci, ada juga pabrik Kacang Garuda. Pokonya yang berbau kacang-kacangan ada disana deh. Ya iyalah, wong Pati Bumi Mina Tani :uhuk . Disana juga ada patung pak Tani bawa kacang. Kalau di Jepara Bumi Kartini, patung RA. Kartini gandeng anak kecil sama bawa obor gitu.

Back to topik.

Tepat setengah lima pagi tanggal 2 Maret alarmku berbunyi. Skip aja deh langsung jam lima berangkat ngejar bus Indonesia. Sayangnya, bus dah keluar dari garasi, jadi harus ngejar sampai terminal Jepara. Akhirnya sampai juga di terminal dan bus Indonesianya memang lagi ngetime . Sekitar pukul 05.40 bus Indonesia Jepara Surabaya berangkat. Awalnya aku duduk sendiri sampai di kecamatan lain di jejeri sama ibu-ibu yang juga mau pergi ke Pati.

Setelah bosen baca buku de el el, akhirnya aku milih tidur. Sampai di kota Kretek aka Kudus aku bangun. Dari situ udah ngga bisa tidur lagi. Akhirnya milih liatin jalan sambil mengagumi cintaan-Nya yang begitu indah :smile .


Memasuki kota Pati, mataku sudah ku pajang waspada. Aku penasaran banget sama patung ikon Kelinci yang tersohor itu. Hem, sampai aku turun dari bus pun sama sekali aku ngga liat tuh gigi kelinci :hwa . Kalau yang pabrik Garuda sih sempet liat, tapi yang kelinci itu lho. Kayaknya dia ngumpet ngga berani liat aku :uhuk

Yah karena aku ngga berhasil mantengin si Kelinci, jadi ya aku ngga bisa cerita apa-apa, ngga tau deh bagaimana bentuknya tuh gigi :uhuk . Cerita kali ini ditutup dengan acara telfon mbak Ita buat jemput aku. Sempat syok juga si mbak waktu aku bilang minta jemput. Lha iya, wong kemarin pas telfon-telfonan aku bilang mau ikut kakak rekreasi ke kota lain. Lha ini tiba-tiba minta di jemput aja :uhuk

Happy Blogging :smile