Monday, 30 September 2013

Prompt #28: Janjiku

Hujan turun begitu derasnya. Petir bersautan memekakkan telinga. Kututup telingaku, meredam semua suara yang ada. Mobil itu melaju dengan kencang seperti terburu-buru. Samar, aku melihat pengendara di dalamnya. Ciiittt!!! Mobil itu terperosok pada tanah yang basah. 


Source

Aku melihat lelaki itu mengumpat, menyumpah-nyumpah pada keadaannya saat ini. Dengan susah payah, lelaki itu mencoba mengeluarkan mobilnya dari tanah basah. Dia berhasil dan melajukan mobilnya dengan kencang. Bruak!!! Motor di depan mobil berguling sementara mobil itu menabrak pohon  begitu saja.


Aku tersentak dengan apa yang kulihat.


"Nin! Sepertinya ada yang jatuh!" kataku pada Nina teman kantorku.

"Didetik keberapa?"

Aku menatap Nina. Dia seperti acuh, tapi aku tahu dia tidak ingin aku terlalu hawatir dengan 'Penglihatanku' itu.

"Sepertinya orang terdekatku, siapa ya?"

"Berdoa aja, semoga dia baik-baik saja. Positif thinking, okey?"

Aku mengangguk pelan. Bukan sekali ini saja aku melihat kejadian seperti itu. Beberapa kali orang yang tak kukenal hadir ketika mereka akan mengalami suatu hal. Lalu kali ini, siapa?

***

Hujan masih enggan pergi. Tanah itu masih basah. Aku berjalan mendekat, seolah tak percaya.


"Hai, Mas!" kataku tercekat. Kutarik nafas sejenak,

"Aku membawa novel ini, Maya Maia. Kemarin kamu bertanya, kenapa aku minta ijin memanggilmu Mas? Karena novel ini. Nathan bilang, panggilan Mas itu so sweet. Tapi kemudian aku meralat, harusnya seperti sejak dulu, empat tahun yang lalu. Kak Aga, cukup itu. Nina kemudian bertanya, bukannya lebih bagus pakai Mas? Aku bilang saja, aku bercita-cita putus denganmu. Apa aku terlalu jahat? Entahlah. Bersamamu empat tahun lebih merupakan berkah yang tak terkira dan aku ingin memutuskannya. Bukan karena ada orang lain, bukan itu. Tapi, mendengarmu masuk ICU, aku menangis sendiri. Sepertinya, aku takut kehilanganmu. Aku janji Mas, aku tidak akan meminta putus, aku janji!" kataku panjang lebar. 

Hujan masih membasahi. Cairan hangat menetes di pipiku, mungkin air hujan lirihku. 

"Mas Aga? Ini mimpi kan? Ayo bangun! Bangun!"

Andai aku bisa melihat kejadian itu lebih dulu. Aku pasti melarangmu untuk menjemputku dengan motormu itu.

Nisan itu masih berdiri, tak ada suara.



Notes :
Mungkin aku sedang jahat kali ya karena menulis ini. Tapi jujur, aku tidak bermaksud apa-apa dengan ini. Mungkin rasanya seperti Ariel X yang menangis karena mendengar Andra kecelakaan. Tapi ini real, nyata bukan fiksi. Kemarin, temanku baru saja melihat seseorang jatuh. Setelah di cek pada SMSnya, ternyata temannya mengabarkan pacarnya kecelakaan dan masuk ICU. Malam sebelumnya, dia masih senyam-senyum karena minta ijin memanggil pacarnya itu dengan sebutan Mas gara-gara novel Maya Maia. Pagi ini, kabarnya duka datang. Pacarnya meninggal. Jujur, aku sedih :hwa . Apa yang harus aku katakan pada temanku ini? Life must go on. Tapi, mengatakan seperti itu, bukan hal mudah bukan? Semoga temanku ini tabah menghadapi cobaan ini. Untuk dia yang hanya kuketahui namnya, semoga kau mendapat tempat terbaik di sisi-Nya. Kamu baik, aku percaya. Kamu meninggal diusia sebelum 20 tahun. 


Yang kuingat, sering kali temanku bilang ingin putus. Bukan karena ada yang lain, ingin saja katanya. Tuhan kali ini mengabulkan doanya, meski dengan cara yang berbeda. Putus untuk selama-lamanya. Bisa mendapat penglihatan lebih, kadang menjadi anugerah tapi mungkin sedikit mengerikan ya? Mari kita doakan dia ya teman-teman?

Friday, 27 September 2013

Maya Maia

Setelah kemarin sukses menjadi makhluk paling ngga jelas di HeartChime: GIVEAWAY DIBUKA!!! Dung tak dung tak jes! dengan hadiah novel Maya Maia, akhirnya malam jum'at 26-27 September aku berhasil menjadi kuntilanak semalam huahahah :uhuk .


Bisa dibayangkan, betapa gejenya aku ketawa tengah malam di kamar. Santai bok! Aku ngga sendiri. Ada Phi, teman tidur yang juga lagi baca novel lain :smile .


Baiklah, mari kita kenalan sama Maya Maia, salim-salim dulu gih :hepi .


Judul : Maya Maia
Penulis : Devania Annesya
Penerbit : PlotPoint
No. ISBN : 9786029481501
Cetakan Pertama : Juli 2013


Baca sekilas judulnya, kaya nama penyanyi yak? Tapi jangan salah, ini ngga bahas Maya-Maia yang itu. Sama sekali!


Jadi, itu ceritanya gimana dong kakak? :wek


Mau tahu atau mau tahu banget? :uhuk


Jadi, ceritanya begini #PasangMukaJutek :jiah .

Maya, anak gahul nan somse ini sengaja kuliyah [Baca : kabur] ke London dan berlama-lama di sana. Karena si Maya ini ngga kelar-kelar kuliyahnya, orang tuanya pun berang dan memulangkannya dengan paksa untuk segera di tunangkan dengan seorang bernama Jojo, teman kecil Maya [Ralat : anak cowok yang suka dijaili Maya]. Dasar Maya yang memang geje, dia ngga pulang langsung ke Jakarta tapi malah transit ke Tulungagung, rumah Anisa sahabatnya.


Maia, cewek alim, lugu banget nan ndeso. Dia sama sekali belum pernah ke Jakarta. Niatnya, mau kerja sama keponakan teman Bu liknya bernama Jojo. Begitu sampai di Stasiun Pasar Senen, muka melasnya kelihatan banget. Kaya mukaku yang unyu tanpa dosa :shy .


Joni-Jojo, tukang reparasi komputer. Gayanya slengekan, jarang mandi. Tapi entahlah, kenapa aku mendadak terpesona dengan sifatnya yang absurd ngga jelas gitu. Menarik kan? Ngangguk ajalah :uhuk . Dia ini calonnya Maia.


Jonathan-Jojo, si cowok tampan, tampan banget dah. Direktur utama bok. Calon suami idaman deh ya. Cuma, dia ini Gagal Move On. Duh! Mas tampan ini. Cantikan juga aku :smile . Nah! Si Jojo yang ini bakal calonnya Maya.


Cerita berawal dari insiden Pasar Senen di mana masing-masing penjemput  -Jojo-Jojo- salah jemput orang. Maya bertemu Jojo-Joni sedangkan Maia bertemu Jojo-Jonathan. Kehidupan pun berubah, semua berubah menjadi tidak biasa. Maya yang serba ada mendadak jadi babu di rumah Jojo. Sedangkan Maia, hidup seadanya malah dibawa ke apartemen mewah.


Semua berjalan di luar kewajaran. Beberapa waktu berlalu, atas dasar ini itu, Maya akhirnya mengetahui bahwa jodohnya telah tertukar.


Pertanyaannya, apa yang akan dilakukan Maya? Bagaimana dengan Maia di sana? Joni-Jonathan, bagaimana sikap mereka? Apakah semua hanya kebetulan semata?


Aku sendiri berkeyakinan bahwa tidak ada yang namanya kebetulan. Teori Kosmos yang diagungkan itu sama sekali tidak berlaku.

Tidak seorang wanita pun di dunia ini yang suka menjadi yang kedua kalau masih memiliki kesempatan menjadi yang pertama dan satu-satunya.
83

Mana yang lebih menyakitkan, mereka yang memiliki kenangan lalu kehilangan atau mereka yang kehilangan tanpa memiliki kenangan?
129

Novel ini, ngga melulu membahas tentang jodoh mereka yang tertukar. Banyak bagian yang kusuka. Ada Mamanya Maya yang gahul abis bikin ketawa. Ada juga Putri, adik Joni yang geje abis. Dan ya, ada beberapa makhluk lagi yang bikin nyengir kuda. Kelakuan Joni-Jojo yang bikin aku keki setengah mati. Sampai-sampai bengong, narik napas, ih wow, arghhh :jiah .


Mungkin ada sesuatu yang tidak perlu diucapkan untuk didengar, mungkin ada sesuatu yang tak perlu disampaikan untuk dipahami. Mungkin ada sesuatu yang tak perlu disemai untuk kemudian tumbuh, bersemi. Rumit..., tetapi sederhana untuk sekedar dimengerti.
202

Bagaimana mungkin kamu pergi begitu saja setelah semua hal yang terjadi?
Kamulah yang terburuk!
Karena kamu datang serupa angin, mengisi ruang yang hampa untuk kemudian pergi begitu saja, seakan tidak terjadi apa-apa.
211

Ini tentang hidup, cinta dan kebetulan. Hidup, tentang arti keluarga, orang tua, sahabat dan juga cinta. Kalau baca bagian Joni dan Putri, mendadak ingat Kakak :hwa . Nangis bombay karena sering ngrepotin dia :hiks .

Dan kau hadir merubah segalanya
Menjadi lebih indah
Kau bawa cintaku setinggi angkasa
Membuatku merasa sempurna
Dan membuatku utuh tuk menjalani hidup
Berdua denganmu selama-lamanya
Kaulah yang terbaik untukku


Sering kali hidup tidak berjalan seperti yang kita inginkan. Bukan Tuhan tidak mau memberikan. Hanya saja, kadang Tuhan menunda atau bahkan memberikan yang lebih baik dari apa yang kita minta. Berkaca pada masa lalu, bahwa memang ada timbal balik atas apa yang kita lakukan.


Dia, adalah jodoh yang Tuhan ciptakan. 
Kau hadir, merubahku menjadi seseorang yang lebih baik. 
Seseorang yang bisa membuka diri dengan cinta. 
Seseorang yang bisa lebih kuat. 
Seseorang yang lebih menghargai orang lain. 
Cinta, tidak ada yang keliru atau kebetulan tentang ini. 
Jiah~

Wednesday, 25 September 2013

Prompt #27: Malam Pertama

Tubuhku menegang melihat Nay duduk manis di depan cermin. Rasanya panas tubuh ini, keringat dingin mengalir. Aku sempat menelan ludah beberapa kali saat memandangi tubuh Nay yang terbungkus lingerie seksi. Rasanya seperti mimpi melihat Nay di sini, di kamar ini.

"Vin, sini! Kenapa di situ aja?" kata Nay mengagetkanku.

"Iya, sebentar Nay. Aku kunci dulu pintunya."

Dia tersenyum kemudian aku berlalu menuju pintu. Aku harus memastikan semua pintu terkunci.

Dengan malu-malu aku mendatangi Nay yang sudah duduk di ranjang pengantin. Mama yang menghiasnya untukku dan Nay. Ranjang dengan taburan bunga mawar. Nay terlihat begitu cantik sama seperti dua belas tahun yang lalu.

"Malam ini kamu cantik, Nay!" pujiku.

"Berarti, kemarin-kemarin aku ngga cantik dong?"

"Ngga gitu. Maksudnya kamu lebih cantik malam ini." jawabku malu-malu.

"Vin, lebih deket dong!"

"Kenapa Nay? Apa ini kurang deket?"

"Aku pakai parfum baru lho. Coba deh cium di sini!" kata Nay menunjukkan leher mulusnya.

Lagi-lagi aku menelan ludah. Nay benar-benar berpengalaman tentang hal ini.

"Wangi!" kataku setelah mencium lehernya.

"Kalau eyelinerku sudah rata belum?" tanya Nay sambil mendekatkan tubuhnya ke arahku.

Jantungku seperti berhenti berdetak. Ya Tuhan! Wajah Nay begitu dekat. Matanya yang belo, bibirnya yang merah merona ingin sekali kukecup lembut.

"Vin?"

"Ya!"

"Gimana?" katanya mengedipkan mata.

"Sekarang?"

Nay mengangguk. Aku merebahkan tubuh Nay di ranjang. Perlahan, kudekatkan wajahku ke wajahnya. Kurapal doa kemudian mencium keningnya perlahan. Sesenti lagi aku turun ke bibir merahnya, dan...

"Mama! Mama belum bobok kan? Reza ngga bisa bobok!" terdengar suara Reza, batita anak semata wayang Nay di depan pintu.

"Belum sayang." jawab Nay tersenyum geli saat memandangku.

Aku bangkit menuju pintu. Kubuka perlahan dan Reza segera berlari ke arah Nay.

"Reza ngga bisa bobok di kamar baru. Papa Vino, Reza boleh bobok di sini kan?" katanya merajuk.

"Boleh dong! Sini!" jawabku.

Kubuka slimut ranjang pengantinku. Reza dengan gesit masuk ke dalamnya, memeluk Nay erat. Bukankah menjadi hal yang istimewa saat menikah langsung dapat bonus?. Buy one get one free.

Kurapal doa, kupejamkan mata. Begitu saja.


***

Notes :
Susah nulis ginian.... kacau banget kan ya? :uhuk

Monday, 23 September 2013

Flames to Dust

Oke, kali ini aku akan kembali mereview cerbung yang ditulis oleh Mba Annesya. Yah meskipun beliau lagi sibuk promo novel terbarunya Maya Maia, berhubung sudah ditulis ngga ada salahnya kalau diposting  :smile *NggaPenting. Flames to Dust ini sebenarnya sudah posting sekitar bulan april 2013. Dibanding cerbung X, jelas lebih dulu cerbung ini. Dari pada ba bi bu ngga jelas, yuk mari baca hehehe :smile .


Flames to Dust bercerita tentang seorang gadis cantik yang berprofesi sebagai pramugari bernama Renatha. Renatha memiliki mata hijau yang indah karena ayahnya yang berkebangsaan Jerman. Renatha juga memiliki sahabat bernama Nadia. Nadia sendiri tidak punya orang tua kandung tapi punya orang tua angkat yang sangat menyanyanginya.


Disuatu ketika, Nadia menjatuhkan hati pada seorang penulis bernama Jonas Antariksa. Mereka akhirnya menikah. Kehidupan mereka baik-baik saja. Renatha masih menjadi sahabat baik Nadia dan juga Jonas.


Raisa, anak Nadia dan Jonas lahir. Permasalahan datang tatkala Renatha merasa jatuh cinta pada Jonas. Jonas sendiri dilema, bagaimana bisa seorang yang dianggapnya sahabat malah menyukainya? Renatha hanya berusaha jujur dengan perasaannya. Cinta, baiknya memang diungkapkan daripada dipendam akan semakin terasa sakit.


Renatha merasa iri dengan Nadia karena dia memiliki apa-apa yang tidak dimiliki Renatha. Ada Raisa anak Nadia yang manis yang bisa diajaknya berdongeng ria. Jonas, suami Nadia yang baik hati, sabar dan begitu pengertian dengan tingkah gila Nadia.


Jonas sendiri, seolah kurang tegas dengan sikap Nadia yang melewati batas. Hingga permasalahan meruncing, lelah dan butuh penyelesaian. Saat itulah, Jonas merasa membutuhkan sosok Renatha. Renatha sendiri antara bimbang, kebingungan. Benar dia mencintai Jonas, dulu. Tapi sosok Raisa yang polos, mengingatkan Renatha akan kenangan dirinya sendiri saat kecil. Ibu Renatha, selalu mendongengkannya. Raisa seperti cerminan dalam diri Renatha kecil. Renatha hanya ingin Raisa mendapatkan kasih sayang utuh tanpa cela, tidak seperti kisah hidupnya.


Saat membaca cerbung ini, Mbak Annesya berhasil membuatku bingung, tidak bisa memilih. Aku tidak bisa menyalahkan Rentha dengan adanya perasaan cinta itu. Sebagai Jonas, seorang suami harusnya mengingatkan istrinya. Rumah tangga akan harmonis jika ada rasa saling antara suami dan istri. Nadia, jika dia tidak bisa seutuhnya mencintai Raisa, itu bukan salahnya. Aku tahu, Nadia bingung bagaimana cara mencintai seorang anak sedangkan dia sendiri tidak pernah merasakannya.


Yang menarik perhatianku adalah sosok Davi. Ya, laki-laki yang sering berkencan dengan banyak wanita itu kemudian merasa tertarik dengan sosok Renatha. Karakter Davi sendiri sudah hidup saat pertama kali dimunculkan. Setiap benda yang hidup selalu meminta takdirnya.


Membaca cerbung ini, aku terharu dibagian akhir. Cinta tetaplah cinta, tak mudah mengubahnya untuk menjadi benci. Ketika sahabat ini terpisah jarak, waktu dan permasalahan yang belum ada penyelesaiannya, akhirnya mereka bertemu dalam suasana haru :hwa .


Ketika kesempatan untuk mengungkapkan cinta itu muncul, sebisa mungkin kita akan mengatakannya. Tak peduli, apakah saat mengungkapkannya kita terlihat polos, begitu bodoh. Bagiku sendiri, itulah cinta. Cinta yang tulus bukan memperlihatkan keunggulan kita, tapi justru memperlihatkan kita yang apa adanya.


Pertama kali nangis baca cerbung Mbak Annesya ya ini. Dia berhasil membuatku menahan rasa haru dan romantisme yang murni. Sebelas dua belas deh kaya novel terjemahan. Meskipun cerbung ini belum lolos audisi novel waktu itu, aku percaya cerbung Flames to Dust ini akan menemukan jodoh penerbitnya, segera. Amin :smile .


Good luck buat kita semua….
Keep on writing!!! :smile

Sunday, 22 September 2013

[Bukan] Bidangku

Lahir sebagai wanita adalah takdir. Tapi ketika kita sudah hidup, bernafas, dewasa, hidup adalah pilihan dan kemenangan bukan lagi perjuangan.


Dulu aku suka sekali berhayal Sampai sekarang jelas iya. Pernah aku mengungkapkan hayalanku pada seorang teman. Kalian tahu apa jawabannya?

“Ji, jangan menghayal tinggi-tinggi. Nanti jatuhnya sakit lho!”

Dulu sih minder kalau dibilangin seperti itu. Tapi sekarang, ini hidup gue, ini kemauan gue, resiko juga gue yang nanggung :uhuk .


Tak masalah bila saat ini aku banyak berhayal. Yang jelas, berhayalnya kearah positif dan disugestikan dengan kuat. Insya Allah semua bisa terjadi :smile .


Terus, kamu berhayal apa dong Ji?


Sebagai gadis yang normal, aku ingin jadi wonder woman :uhuk .

Aku bukan wonder womanmu
Yang bisa terus menahan
Rasa sakit, karna mencintaimu :luph

Hah! Bukan wonder woman itu smile . Aku punya 100 mimpi yang Insya Allah akan terealisasi amin :smile . Untuk mimpi wonder woman ini aku khususkan untuk anak-anakku nanti :uhuk .


Aku ingin menjadi Ibu yang terbaik untuk mereka. Aku bisa menjadi apa saja yang mereka mau, yang bisa mereka jadikan contoh dan teladan yang baik. Aku akan menjadi guru yang baik untuk mereka. Pokoknya menjadi apapun deh :smile . Bukan berarti menjadi wonder woman itu bisa terbang, merayap di dinding. Yang penting sih, intinya aku bisa merayap di hatimu :uhuk .


Konsekuensinya jadi wonder woman itu harus bisa segalanya dong? Tentu saja iya :smile. Maka dari itu, aku belajar menjadi apa saja.


Kok jadi apa saja sih? Dulu kamu masuk sekolah jurusan apa? Kalau jadi apa saja, kan bukan bidangmu?


Dulu memang sih aku masuk jurusan IPA. Kok jadi blogger dan menulis? Halah, kenapa coba? Bukan bidangku? Itu bukan masalah yang besar kok :smile .


Menjadi wonder woman itu bisa apa saja dan aku sudah mencobanya. Aku bisa jadi chef, bisa jadi tukang cuci, bisa jadi kuli galon, bisa jadi guru, bisa jadi murid, bisa jadi karyawan, bisa jadi pengusaha sukses amin, bisa jadi apapun deh :smile .


Aku berusaha melakukan apa saja yang kuyakini aku pasti bisa. Tidak ada kata tidak bisa sebelum kita mencoba. Aku tidak mau membatasi dengan kata ini bukan bidangku sehingga tidak mau mengerjakan apa saja.


Jadi dokter, tidak hanya fokus pada kesembuhan pasien. Bukankah dokter boleh jadi pengusaha? Jokowi aja biar pun seorang Gubernur DKI Jakarta, tapi dia juga seorang pengusaha. Ustad Yusuf Mansyur, beliau juga pengusaha lho.


“Siapa yang akan tahu jika jodoh kita adalah seorang yang mapan. Maka belajarlah untuk berwirausaha atau mencari maisyah hingga kelak kita bisa membantu dia” Hadilah – Juni 2013 Hal 6-7


Siapa pun kita, jangan berkecil hati tentang suatu hayalan dan mimpi. Bermimpi itu kan gratis, ngapain takut bermimpi? Intinya, jangan membatasi diri dengan mengatakan ini bukan bidangku. Kita bisa kok, pasti bisa menjadi apa saja. Di mana ada kemauan, disitu pasti ada jalan. Wonder woman!!!


“Khayalan ini diikutsertakan dalam Giveaway Khayalanku oleh Cah Kesesi Ayutea

Saturday, 21 September 2013

About Maya Maia

Ini bukan tentang Duo Maianya Maya Estiyanti ya, catet! :uhuk


Sebelum berjudul Maya Maia, ada dua judul yang penulis sodorkan. Bukan ke aku, tapi ke penerbitnya :uhuk . Pernah nonton Sinetron Amirah? Putri Yang Ditukar!? Nah! Itu dia yang akhirnya jadi judul sebelum Maya Maia :smile .


Kok Kakak Jiah tahu sih? Hayooo, ketahuan stalkerin Kak Nessya ya? :smile


Halah! Gitu aja di bahas! Kalau kalian pembaca HeartChime, jeli sedikit aja, pasti tahu deh cerita Maya Maia. Memang ngga pernah di publish kaya Masihkah, Atran When You're Away [Lagi masuk penerbitan], Flames to Dust, dan X. Perhatiin dong label pada tiap postnya, pasti nemu deh yang namanya JYT hehehe.


Jadi, kali ini mau nulis tentang Maya Maia?

Source

Kagak. Ini cuma sekedar alasan dibalik kenapa pengen baca dan miliki Dude Harlino eh Maya Maia.


Sebenarnya, aku bukanlah fans Kak Nessya :wek . Jauh-jauh hari aku sudah daftar jadi haternya, suer ngga bohong :peace . Tanya aja sama dia langsung kalau ngga percaya. Dia itu sering bully aku. Oh iya, dia juga sering buat aku nangis :hwa gara-gara Gagal Move On dari X . Sebel bangetz deh :hiks . Terus alasan pengen baca Maya Maia apa?


Karena aku iri. Catet dan garis bawahi tebal.


Yah, aku iri banget sama dia. Kok bisa sih bikin cerita yang panjang kali lebar gitu? Aku aja kalau sudah buat FF bingung kalau buat cerpen. Setelah buat cerpen, bingung kalau nulis FF. Lha ini, kok bisa nulis sepanjang itu? Patut dicontoh :smile . Sudah berulang sih, si Kakak satu ini ngomel kasih semangat buat aku nulis. Tapi ya, gitu deh :uhuk .


Tag line : Percayakah kamu dengan kebetulan?


Aku bukan tipe orang yang percaya dengan kebetulan.  Kebetulan itu ngga ada. Yang aku yakini, antara Maya dan Maia itu memiliki benang merah yang akhirnya menghubungkan keduanya. Percaya pada takdir? jelas. Tapi aku juga percaya bahwa takdir bisa diubah kalau kita mau mengubahnya.


Seperti kata Atran When You're Away, kita bisa membaca alam, angin yang berhembus, kalau saja kita mau. Alam akan membentuk sebuah konspirasi sesuai apa yang kita pikirkan. Pokoknya begitu deh :uhuk .


Sayangnya, pada HeartChime: GIVEAWAY DIBUKA!!! Dung tak dung tak jes!, aku ngga boleh ikut :hwa . Nangis guling-guling deh ih. Aku yang sudah terlanjur terkenal sebagai Miss GA dan sering menang [Alhamdulillah], ngga boleh ikut :hwa . Bener-bener pengen lempar galon si Kakak Annesya ini :hiks .


Kalau peserta lain pengen banget tanda tangan plus tanda bibir Kak Nessya, aku lebih suka tanda tangan dia di atas cek satu milyar! Itu lebih ajib bok. Ngga usah pakai tanda bibir, kaya bibir dia paling seksi aja. Kalau boleh mah, aku minta foto dia yang paling seksi. Kenapa begitu? Soalnya biar nanti pas kita - aku dia - ketemu, aku bisa bully habis-habisan :uhuk .


"Kak Nessya sekarang gemukan? Dulu di foto agak kurusan deh. Ketahuan banget sekarang sudah kaya raya, sering bagi-bagi duit, sering keliling Indonesia, ahahah."

"Iya, Jiah. Sekarang tambah seksi akunya." jawabnya malu-malu :wek


Kenapa sih aku heboh gini? Alasannya apa coba? Jangan-jangan kena virus Annesyalisme?


Ngga ada alasan yang mendalam sih :uhuk . Ngurusin badan, maaf peserta HeartChime: GIVEAWAY DIBUKA!!! Dung tak dung tak jes! itu sesuatu banget. Buat belajar sih biar nanti kalau SISI LAIN buar GA ngga pusing :smile . Oh iya, kalau aku jadi juri X factor kan sudah mumpuni, hahaha :uhuk .


Awas aja Kak Nessya kalau ngga menangin aku!!!!!
Aku lempar galon!!!!!


Percayakah kamu dengan kebetulan?
Tidak! Ini bukti kerja keras Mbak Nessya dalam mencari jodoh untuk tulisannya. Tulisan bisa terbit itu bukan suatu kebetulan belaka, tapi usaha, kerja keras dan doa.


Sukses buat Maya Maia dan kita semua!!!! Aminnn :smile

Friday, 20 September 2013

HeartChime: GIVEAWAY DIBUKA!!! Dung tak dung tak jes!

Maya Maia
Percayakah Kamu dengan kebetulan?

Maya sengaja berlama-lama kuliah di London. Tapi kini ia terpaksa pulang ke Jakarta, kembali ketemu panas, macet, dan orangtuanya yang sudah menyiapkan perjodohan untuknya.

Sebaliknya, Maia seumur hidup tinggal di Tulungagung. Ini kali pertamanya ke Jakarta demi mencari kerja. Dia gugup setengah mati di kereta menuju Stasiun Senen, dan sampai di sana malah bertemu Jonathan, bukan Joni.

Walau bernama mirip, Maya dan Maia, punya rencana yang berbeda, dan urusan cinta sama-sama tak ada dalam rencana itu. Apalagi soal punya hidup yang tak sengaja tertukar. Maya yang biasa hidup serba-ada mendadak kini bersama Joni yang tukang reparasi komputer. Sementara Maia yang tidak mengerti apa-apa soal Jakarta, kini diantar Jonathan untuk tinggal di apartemen mewah.

Ini adalah cerita soal hidup, cinta, dan kebetulan. Dan pertanyaannya: Percayakah kamu dengan kebetulan? 


Hello, ya udah lah yah, kalau udah kumpul dicucus aja GIVEAWAY-nya. Syaratnya gampang banget, cuma kudu punya akun twitter dan blog. Punya twitter kan ya, kalo ga punya, bikin gih, cuma 5 menit doang jadi. Ga usah banyak alasan! #ceplesSatu2 :D

Kalian cuma harus posting  di blog alasan kalian kenapa kamu "PENGEN BACA MAYA-MAIA". Linknya kalian mention-kan ke twitter saya (@D_Annesya), twitter 2 juri (@jiahjava dan @jurnalphobia), serta twitternya penerbit (@_Plotpoint). Hashtagnya #MayaMaia. Gitu doang... gampang bangeeeettttt.

Hadiahnya dua novel MAYA MAIA beserta tanda tangan dan tanda bibir dari saya!


foto kiriman dari temen, Pak Wo
#MayaMaia di Gramedia Pondok Indah Mall, Bandung

Di tunggu sampai tanggal 20 September ini!

Wednesday, 18 September 2013

Sunday, 15 September 2013

Eksis Ngeblog

Aku membuat blog ini pada agustus tahun 2010 atas dasar keisengan. Namanya juga iseng, tidak tahu bagaimana ke depannya nanti. Setahun kemudian, aku baru mulai mengisinya dengan sedikit serius meskipun tulisannya jauh dari kata bagus. Sampai saat ini, terhitung dua tahun aku menuangkan apa yang aku pikirkan di sini, di Sisi Lain


Bukan perkara mudah mengingat semua keterbatasan yang kumiliki. Tapi aku percaya, tidak ada yang sia-sia dengan apa yang kutulis. Paling tidak, semuanya bisa menjadi catatan yang kelak bisa di baca anak cucuku nanti :uhuk .


Selama dua tahun juga, aku sering mengalami pasang surut dalam ngeblog. Aku pernah hiatus, pernah juga mandek gara-gara banyak kerjaan. Pokoknya macem-macemlah. Tidak ada rumusan tertentu untuk tetap mengeksiskan diri dalam dunia perbloggeran. Sampai hari ini, aku masih belajar bagaimana caranya agar tetap eksis.


Untuk eksis, pertama adalah patokan tema yang akan aku tulis. Biasanya memang tulisan curhatan, geje. Tapi sekarang, aku lebih menata blog ini bukan hanya sebagai diary pribadi, tapi lebih. Dimana orang lain bisa mengenalku dari tulisan-tulisanku.


Untuk mendapatkan tema menulis, aku bisa mendapatkannya dari sekitarku. Misalnya tempat tinggal, kantor, atau buku dan cerita yang ku baca. Nah! Kalau dari sekitar belum memancing otak untuk bisa menuliskan sesuatu, maka yang kulakukan biasanya adalah mencari give away, kuis atau mengikuti challenge tertentu seperti di Monday Flash Fiction dan Berani Cerita.


Dalam sebuah give away atau kuis, biasanya kita di berikan tema tertentu untuk membuat tulisan. Nah, di sini otak kita mulai terangsang untuk memikirkan tema tersebut. Untuk Monday Flash Fiction dan Berani Cerita, kita biasanya diberikan prompt tertentu dan mengeksekusinya menjadi sesuatu yang berbeda. Intinya sih, dalam hal ini kita di berikan tantangan dan berusaha untuk menyelesaikannya pada deadline yang sudah di tentukan. Bukankah ini sangat mengasyikkan mengingat kita bisa menaklukkan diri sendiri agar tetap menulis?


Untuk eksis, aku juga berusaha menjalin pertemanan, persahabatan di dunia maya ini. Bewe, saling menyapa, komentar merupakan sesuatu yang tidak bisa ditinggalkan. Nikmatnya ngeblog itu ketika ada yang di rindukan. Entah menulis atau teman dunia maya. Lagi-lagi, kita berusaha untuk tetap hidup di dalamnya.


Menulis itu, menuangkan apa yang kita pikirkan. Tak peduli itu bagus atau tidak, intinya kita tetap belajar untuk menungkan apa yang kita pikirkan. Eksis itu ada. Kita ada karena tulisan-tulisan kita. 


Mau eksis ngeblog? Yuk mari berkaca. Lihat! Kita ada. Tinggal diri sendiri, mau tidak kita tetap eksis? Mau eksis? Maka menulislah. 


Saturday, 14 September 2013

Andra Bukan Andra

Aku baru saja mendudukkan pantatku di bangku saat suara berisik para gadis mengganggu telingaku. Saat ini jam istirahat. Memang menjadi rutinitas yang wajar mendengar jeritan gila mereka.

“Andra!!! I LOVE YOU!!!” kata para gadis yang saling menyahut.

Aku tahu betul, Andra cowok paling popular di sekolah selalu menjadi yang nomor satu. Anak kelas XI itu, wajahnya memang tampan. Tinggi dan otaknya juga tidak terlalu buruk. Apa peduliku dengan dia? Aku di sini untuk belajar, bukan untuk mengejar lelaki. Persetan dengan Andra.

“Nay! Ayo ke lapangan bola!” ajak Tya teman sebangkuku.

“Males, ah!”

“Kak Andra lagi main bola. Kabarnya anak kelas XI tanding sama anak kelas XII.”

“Terus? Gue harus bilang, oh my God!

“Nay! Kamu tolol atau apa sih? Ngasih dukungan dikit kenapa? Bagaimanapun, kamu kan tetangganya.”

Aku nyengir. Yap! Andra memang tetanggaku. Terus, masalah buat kalian semua?

“Aku lebih suka Bale dari pada Andra.”

“Terserah! Bale item aja dilike. Payah!”

Memang, kalau Bale hitam kenapa? Dia ganteng, main sepak bolanya juga bagus. Lagian, sekarang Bale jadi pemain top dunia. Andra! Tidak ada apa-apanya deh.

***

Hari ini aku berangkat lebih pagi. Ada piket pagi ini membuatku harus ekstra untuk menyelesaikan semuanya sebelum anak-anak masuk kelas. Biasanya aku berangkat normal. Suasana sekolah yang sepi, sepertinya memang sangat aman dan menyenangkan.

Aku baru saja selesai membuang sampah ketika tanpa sengaja aku menabarak seseorang. Kubersihkan rokku sambil mengucapkan maaf sebelum aku mendongakkan kepala.

“Andra?”

“Hai Nay!”

“Maaf. Aku ngga sengaja.”

“Ngga papa, Nay.”

“Tumben pagi-pagi sudah datang.”

“Tumben? Setiap hari aku selalu datang lebih pagi, Nay.”

“Masa?”

“Ngga percaya? Besok, kamu boleh kok nebeng motor aku.”

Mataku menyipit, 

No!

Aku meninggalkan Andra yang masih melongo.

“Kenapa?” tanya Andra.

“Males aja!”

Aku terus berjalan tanpa menengok ke belakang. Andra pikir aku bisa segampang itu untuk berboncengan di atas motornya? Memperhatikan punggungnya, mencium aroma parfumnya. Memeluk tubuh kekarnya? Ih No! Ah! Aku bukan perempuan gampangan. Membiarkan Andra mendekat, itu sama artinya mempersilakan diri sendiri masuk ke dalam kandang buaya. 

***
Masih seperti hari yang kemarin-kemarin. Teriakan demi teriakan menggema memanggil nama Andra. Aku berjalan menuju perpustakaan dan menoleh ke arah lapangan. Andra tersenyum lebar saat mata kami saling bertemu. Hei! Mungkin saja bukan tersenyum ke arahku. Aku saja yang kege-er-an. Aku melirik ke samping kanan dan kiriku. Tidak ada orang. Dasar Andra!!!

***
Aku meraba laci mejaku. Tidak ada. Aku membuka tas ranselku, juga tidak ada. Kemana buku tugasku? Ya Tuhan! Banyak tugas yang kukerjakan dan kucatat di sana. Bagaimana ini? Mana hari ini ada tugas yang harus dikumpulkan lagi.

“Tya, kamu tahu ngga buku tugasku?”

“Buku tugas? Yang bagaimana? Warnanya apa Nay? Hello Kitty atau yang gambar Bale?”

“Yang biru muda itu lho. Polos. Biasanya aku buat ngerjain tugas.”

“Kemarin bukannya kamu bawa ke perpustakaan?”

“Iya, yang itu.”

“Bentar-bentar. Kayanya kemarin Andra bilang dia nemuin buku di perpustakaan.”

“Andra?”

“Iya Andra.”

Sial! Pantas saja dari kemarin dia senyam-senyum tak tentu. Ternyata ini tujuan utamanya? Mengambil bukuku kemudian tidak mengembalikannya. Rumah beda satu gang saja tidak mau mengembalikan. Jangan-jangan, ini hanya alat agar aku mau berangkat bareng saat ke sekolah. No!

Aku bangkit dari tempat dudukku kemudian melenggang pergi.

“Mau kemana, Nay?” tanya Tya.

“Mau ngasih pelajaran buat Andra!”

“Lho? Kok? Nay, tunggu…!”

Jarak dari kelasku menuju lapangan bola cukup jauh. Aku berlari menuju lapangan bola di mana Andra sedang bermain bola. Rasanya panas, mengingat kelicikan yang dia lakukan. Aku bukan perempuan gampangan! Andra harus mencatat itu dalam otak tololnya.

“Andra!” teriakku. Aku berjalan ke tengah lapangan.

Andra menoleh, permainan berhenti. Semua mata melihatku.

“Ada apa, Nay?”

“Ada apa? Sini balikin bukuku!”

“Buku? Buku apa?”

“Buku tugasku. Aku tahu, ini pasti rencana jahatmu. Cepetan balikin!”

“Rencana jahat apa coba? Buku yang kamu maksud, buku apa?”

“Sudah, jangan banyak mulut! Dasar buaya!”

Andra memandangku tak mengerti. Kuayunkan kepalan tanganku pada perutnya. Aku melenggang pergi dan semua orang menyerbu Andra. Jeritan demi jeritan menggema.

“Hei! Anak kelas X! Lu kok berani-beraninya buat malu Andra? Pake nonjok segala lagi!” kata teman sekelas sekaligus fans Andra.

“Bodo amat!” kataku berjalan menjauh.

Andra! Ini belum ada apa-apanya.

“Nay!” teriak Tya.

“Apa?”

“Aku panggil ngga nyaut-nyaut. Kamu tadi ngapain di lapangan? Kok jadi ribut kaya gitu? Heboh banget deh! Kamu tadi nendang bola ke gawang?”

“Aku habis ngasih pelajaran sama si Andra! Pake tinju maut!”

“Ha?”

“Kok ha, sih?”

“Emang, Kak Andra ngapain kamu? Dia macem-macem sama kamu? Harusnya kamu bersyukur Nay, bisa diapa-apain sama Kak Andra!”

“Gila!”

“Kok gila?”

“Katamu dia yang nemu bukuku? Dia ngga mau balikin, aku labrak aja! Pake ini!” kuperlihatkan kepalan tanganku pada Tya.

Oh my God, Nay!  Bukan Kak Andra!”

“Ha?”

“Andra anak X 5 Bukan Kak Andra!”

“Jadi, Andra bukan Andra?”

“Kamu sih! Aku tadi kan belum selesai ngomong!”

“Ah, what ever. Sudah terlanjur!”

Ya Tuhan! Bagimana ini? Nasi sudah jadi bubur. Andra sudah terlanjur malu. Aku tidak mungkin lagi mencabut kata-kata yang sudah keluar tanpa permisi saat di lapangan tadi. Tonjokkan itu, pasti sangat sakit! Gila! Mimpi apa aku ini? Kok bisa sih salah mengira? Padahal pelajaran mentaksir waktu Pramuka nilainya bagus.

Jam masuk berbunyi. Aku kembali ke kelas dan mendapati buku tugasku di atas meja. Aku memandang dan menyentuhnya tak percaya.

“Andra, anak kelas X 5 tadi yang balikin.” kata Tya.

Aku beringsut di atas meja. Bodoh! Bodoh! Bodoh!

***

Langit mendung semendung hatiku. Aku masih belum bisa memaafkan diriku dengan insiden penonjokkan Andra di lapangan bola tadi. Semua mata memandang sinis ke arahku. Sialnya, pendukung Andra terlalu banyak. Mereka bisa-bisa datang ke kelas hanya untuk marah-marah padaku. Itu saja kalau di sekolah. Bagaimana kalau mereka membuntutiku dan mendapati rumahku berdekatan dengan rumah Andra? Bisa mati mendadak aku. Aku bukan siapa-siapa di sini. Mungkin aku akan meringkuk di dalam kelas sampai siswa-siswi lain pulang. Gila! Aku ketakutan.

Langit meneteskan air matanya. Mungkin dia juga merasa sedih sama dengan yang kurasa. Ah! Itu hanya alasanku saja. Hanya sebuah pembelaan bodoh. Mencari pertolongan pada siapa lagi selain pada Tuhan?

Aku berdiri mematung di teras depan gerbang sekolah. Sendiri. Sebenarnya masih ada satu dua anak yang ke sana ke mari di saat hujan lebat seperti ini. Setidaknya, mereka bukan fans Andra. Paling tidak, aku bisa aman untuk hari ini. Entah untuk hari esok.

"Belum pulang, Nay?"

Jantungku berpacu, siapa yang memanggilku? Aku menengok, sepertinya,

"Andra?"

"Iya, ini aku. Kenapa Nay?"

"Kok kamu belum pulang?"

"Kok  balik  nanya, sih? Aku tadi ketiduran di UKS. Perutku sakit. Rasanya melilit-lilit bagaimana gitu."

"Sakit? Pasti gara-gara tonjokkanku tadi ya? Maaf ya? Sekarang apa masih sakit?"

"Iya aku maafin. Tapi, masih terasa sakit, Nay."

"Sebelah mana? Mana yang sakit?"

Aku meraba lengan kiri Andra tapi tangan kanannya menghentikanku. Mata kami bertemu. Dia memandangku sambil menggenggam tanganku lalu di letakkan di dada kirinya. Jantungnya berdetak hebat membuat nafasku sesak.

"Sebelah sini, jauh lebih sakit, Nay!"

"Di sini? Jantung? Kamu sakit jantung?"

"Bukan, Nay. Hatiku yang sakit."

"Hati? Bukannya hati di sini?" kutarik tanganku dan menunjukkan letak hati di perut kananku.

"Pokoknya sakit, Nay!"

"Bodo amat. Aku mau pulang!"

"Jangan!"

Andra meraih tanganku.

“Jangan pergi, Nay,” pintanya. Aku memandang mata coklatnya yang teduh.

“Jangan pergi dari hatiku.” sambung Andra.

“Sinting!”

Andra menarikku, memenjarakanku dalam dadanya yang hangat.

“Aku memang sinting, Nay. Semua karena kamu.”

“Lepaskan, Andra!” kataku meronta.

“Kadang pembalasan jauh lebih kejam, Nay.”

“Lakukan apa pun yang kamu mau! Biar puas sekalian!”

“Kamu yakin?” kata Andra menghadapkan wajahku ke wajahnya.

“Tentu saja. Memang kamu mau apa?”

“Aku mau ini!” 

Andra semakin mendekatkan wajahnya. Aku kaget, tak siap dengan serangannya yang tiba-tiba hanya bisa memejamkan mata. Ya Tuhan! Tolong aku! Semoga ini bukanlah hal yang buruk. Aku merapal doa, membiarkan bibirku komat-kamit.

Satu, dua, tiga detik hingga satu menit berlalu. Andra melepaskan tubuhku. Kubuka mata perlahan. Dia tersenyum memandangku.

“Apa kata Ibumu nanti kalau sampai aku menciummu tanpa permisi? Lagian, apa kata fansku kalau perempuan yang meninju perutku malah dapat ciuman? Bisa-bisa mereka ikutan meninjuku lagi!” katanya terkekeh.

Wajahku panas. Mungkin kini berubah menjadi merah gara-gara sindiran Andra itu.

“Ayo pulang, Nay!”

Aku mengangguk mengiyakan ajakan Andra. Dia menarik tanganku, menggenggamnya lembut. Merasakan getaran hangat yang menjalar dari ujung kaki hingga ubun-ubunku.

“Langit kok masih mendung aja ya? Padahal hujan sudah reda.” ucap Andra.

“Langitnya cerah kok.”

“Cerah dari mana, Nay? Mendung gini!”

“Cerah kok. Suer!”

“Kamu lihat langit yang mana sih?” tanya Andra memandang wajahku.

“Itu, di situ. Langit di matamu cerah banget!” jawabku tersipu.

****

Love at School @AlamGuntur

Friday, 13 September 2013

Jaga Lilin

Malam 12 September 2013, aku sempat berubah ketika menjaga lilin :uhuk . Sebelumnya, si Phi, junior sekaligus teman tidurku, ku ajak muter-muter desa sambil beli sesuatu yang dia suka. Dari jam sembilan malam sudah siap-siap buat tidur dulu baru bangun jam 00.00 . Nyatanya apa yang terjadi? Aku sibuk #Ngok balesin mentionan para peserta HeartChime: GIVEAWAY DIBUKA!!! Dung tak dung tak jes!. SMS an juga sama yang punya hajat laporin tuh peserta. Sambil belajar jarimatika sama dengerin cerita si Phi. Lengkap sudah sampai jam sebelas malam lebih. Masang alarm dan tidur :smile .


Pukul 23.55 aku bangun gara-gara alarm. Tengok sebelah, ternyata dia masih tidur. Wes, ambil lilin siap berubah :etc . Aku berjalan ke dapur untuk ngidupin lilin. Maklum, ngga punya korek api :uhuk . Lilin menyala, horeee :hepi . Balik ke kamar, bangunin si Phi. 


Phi, bangun lu. Giliran jaga, hahaha :uhuk

Benarkah aku beruba? :smile


Yap. Aku bangunin si Phi sekitar jam dua belas malam. Nih tiup lilinnya, dan berubah!!! :uhuk . Phi masih setengah sadar, bangun, duduk dan make a wish baru tiup lilik :uhuk . Setelah prosesi selesai, dia bilang aku so sweet :luph . Phi, salah satu korban gombal gembelku senyam senyum ngga jelas :uhuk .


Yaaa, beberapa waktu ini aku berubah menjadi sosok yang romantis, hobi ngegombal gembel. Tapi ini hanya berlaku untuk perempuan saja :uhuk . Maaf bagi yang mendadak pingsan karena gombalanku hahah :uhuk .

Romantis itu ketika kita tidak sejalan, berbeda arah, berdebat hebat, tapi akhirnya menemukan satu titik yang disebut Cinta :uhuk

Monday, 9 September 2013

Prompt #25: Untuk Sari

Jam sudah menunjukkan pukul sembilan pagi. Aku baru saja selesai memandikan Sari dan memakaikannya baju terbaik. Semalaman aku mondar-mandir memikirkan tawaran Warti. Aku bisa bertahan, tapi Sari? Ya Tuhan! Apa hidupku harus seperti ini?

"Assalamu'alaikum, Yun!"

"Wa'alaikum salam."

"Sudah siap Yun?"

"Ya, begini War. Apa ngga apa-apa kalau Sari ikut?"

"Sekali ini aja ngga papa. Ada beberapa orang yang bisa dititipin anak."

"Aku ingin yang terbaik untuk Sari. Tapi haruskah seperti ini? Jika Mas Dudi masih hidup, dia ngga akan ridho aku bekerja seperti itu."

"Ini bukan pekerjaan hina. Kalau kamu ngga ngambil pekerjaan ini, kamu mau kerja apa lagi?"

Aku terdiam. Kupandangi Sari yang memeluk boneka dengan botol susu di mulutnya. Dia tersenyum manis dan aku tidak sampai hati membuatnya menangis lagi. Dia satu-satunya milikku. Ini aku lakukan untuk Sari.

***

Aku kaget saat Warti menyodorkan baju padaku. Baju ini terlalu kecil, cukup seksi. Aku tidak pernah memakai pakaian mini seperti itu.

"Ngga ada yang lebih longgar?" tanyaku pada Warti.

"Orang-orang itu lihat bajumu. Kalau bajumu ngga mini, ngga seksi, kamu ngga akan dapat duit."

Aku tahu, apa yang dikatan Warti memang benar. Aku bergegas memakai pakaian itu. Rasanya sungguh tidak nyaman. Semua demi Sari.

Aku berjalan mendekati semua orang. Mereka memandangku tanpa sedikitpun berkedip. Aku mulai buka suara seiring musik mengalun.


"Hei kenapa kamu kalau nonton dangdut
Sukanya bilang 'buka dikit joss'
Apa karena pakai rok mini jadi alesan


Sukanya abang ini
Lihat-lihat bodiku yang seksi
Senangnya abang ini
Intip-intip ku pakai rok mini"

Semua orang bergerak, semua orang bergoyang dan aku melihatnya dari atas panggung.

"Aku tahu, suaramu memang bagus Yun. Besok ngga usah ajak Sari. Orang-orang di sini tahunya kamu masih sendiri." bisik Warti sambil menyodorkan dua lembar Ngurah Rai setelah aku selesai menyanyi.

***


Notes :
Aku lagi kesihir dangdutan #DungTakDungTakJes!!! :uhuk
Lagu : Juwita - Buka dikit joss

Sunday, 8 September 2013

Gagal Move On


Neodo, na cheoreom ireohke apeunji
Neodo, na cheoreom nunmul na neunji
Neodo, haru jongil ireohke
Chueoke saneunji, oh kkok na cheoreom

Sebenarnya, aku orangnya geje, jaim ngga mau orang lain tahu apa yang kurasa. Tapi kali ini, aku harus mengakui satu hal. Aku gagal move on :hwa .


Rasanya, sakit seperti ini kali ya. Semua gara-gara X. Mau ngisi galon aja ingat. Mau makan, ingat. Mau apa aja, X ini selalu mengahantui. Pokoknya, X ini lebih suka gentayangan dalam otakku ketimbang, Miss Kunti yang tinggal di kuburan depan rumah :hiks .


Aduh! Beh! Sakit hati aku :hwa . Ini temanku, Mbak Annesya memberikan dampak yang luar biasa dengan cerita X nya. Masa, seorang aku gagal move on dari Andra - Ariel cerbung X? :omg . Sudah baca cerita lain, tapi mereka berdua gentayangan di mana-mana. Pada hal sudah Say Goodbye to X.


Trus, aku harus bagaimana?


Aku sudah nulis review cerbungnya. Aku sudah nulis FF curhatan berjudul Andra. Mungkin tinggal berdoa, Ya Allah, satukan Andra – Ariel. Ijinkan orang lain turut membaca cerita complicated mereka dalam sebuah novel, amin.

Saturday, 7 September 2013

Karnaval

Sudah beberapa tahun terakhir aku sama sekali ngga lihat yang namanya karnaval. Karnaval di Jepara sendiri biasanya dilaksanakan pada tanggal 18 Agustus. Pesertanya sendiri dari sekolah-sekolah di Jepara dan juga pegawai pemerintah kabupaten.


Kalau jaman sekolah, dulu sering sengaja pulang ke rumah. Tujuannya banyak, salah satunya agar bisa naik angkot plus lihat karnaval gretongan :uhuk . Emang lihat karnaval bayar? Ngga sih, cuma sekalian satu jalan bok, hemat :smile .


Semenjak ngga sekolah aka lulus, jadi ngga pernah lihat karnaval. Apalagi tanggal itu ngga libur. Beberapa tahun terakhir juga bulan agustus merupakan ramadhan. Jadi ya imposible kalau ada karnaval. Peserta karnavalnya jalan kaki bok. Bisa-bisa mereka pingsan karena ngga ngga kuat, ngga ngga kuat, aku ngga kuat :uhuk . Alhamdulillah tahun ini bisa karnaval :hepi . Tapi aku ngga lihat *ngek. Tanggal 18 meskipun minggu aku kerja gitu deh.


Tanggal 22 Agustus 2013, siang hari aku ngojek jemput anaknya bos. Eh ternyata di kecamatan Bangsri Jepara ada karnaval bok. Kata orang, rutenya deket, lewati perumahannya Bapak Bupati Jepara. Yah wes, karena macet ngga bisa jalan, akhirnya jeprat jepret deh. Ini nih hasil karya fotografer amatir :uhuk


































Sekian deh hasil karya anak bangsa Indonesia. Semoga masih ada umur buat lihat karya anak bangsa macam ini :smile . kebudayaan Indonesia yang layak untuk dilestarikan :hepi .