Sunday, 23 March 2014

Beda Keyakinan

Bismillaahirrahmaanirrahiim....

***

Aku melirik jam tanganku. Setengah jam lagi pesawatku berangkat. Tapi, Mia masih saja menyandarkan kepalanya di bahuku. Dia menangis, habis putus. Padahal sudah satu bulan yang lalu. Dia rela mengejarku hanya untuk curhat. Menyebalkan! Takkah kau lihat aku, Mia?


"Mi, nangisnya sudah apa belum?"


Mia menatapku dan menyandarkan kepalanya lagi dibahuku.


"Aku baru nangis, belum juga ngomong banyak." omelnya.

"Ceritanya ntar kalau aku pulang dari Australia. Aku udah mau berangkat."

"Kamu itu nggak peka ya, Fan. Aku itu baru putus dan kamu malah kabur. Kamu nggak mau lagi jadi sahabatku?"


Aku udah bosen jadi sahabat kamu Mia. Aku cinta kamu, tapi kamu tidak.


"Bukan begitu, Mi. Aku butuh observasi kampusku. Aku nggak mau ribet kalau sudah kuliah nanti."

"Kalau males ribet, kuliah di sini kan bisa. Kita bisa bareng terus."


Kita bareng tapi kamu jalan sama orang lain. Kapan aku move onnya, Mia?


"Nggak selamanya kita bersama, Mi. Kita punya kehidupan masing-masing. Aku punya mimpi, kamu juga."

"Sekali ini dengerin semua yang aku omongin!"

"Dewasalah, Mia! Aku mau berangkat!"

"Kau pikir, meninggalkanku disaat seperti ini adalah tindakan dewasa? Masalahku terlalu complicated, Fan. Aku butuh kamu untuk menyelesaikannya."

"Yang kamu butuhkan itu Reno, bukan aku. Sini HPmu biar aku telfon si Reno berengsek itu!"

"Dia mau terbang ke Kanada."

"Dia mau terbang dan kamu tidak mengejarnya?"

"Buat apa? Kita sudah putus!"

"Kenapa masih nangis? Kamu itu sudah sering mutusin cowok, lha ini putus sama Reno sampai galau. Kamu cinta mati sama dia?"

"Masalahnya, dia yang mutusin aku!"

"Dia? Kenapa?"

"Kita beda keyakinan. Biasanya semua cowok selalu satu keyakinan sama aku, tapi sekarang lain."

"Keyakinan itu hak asasi setiap orang. Dalam hubungan percintaan, banyak kok yang berbeda keyakinan tapi tetap bertahan. Tapi lebih baik kita cari yang satu keyakinan sama kita."

"Setelah aku pikir, aku mulai percaya dengan keyakinan Reno. Aku mengikuti keyakinan dia."

"Apa? Kamu pindah keyakinan? Demi Reno? Aku tahu itu hak kamu, tapi langkahmu terlalu mengerikan!"

"Keyakinan Reno tidak seekstrim itu, Refan. Kak Doni juga percaya dengan keyakinan Reno."

"Tunggu, Kak Doni juga? Kalau kalian sudah satu keyakinan, bukannya itu akan mempermudah semuanya? Kamu sama Reno bisa bersama."

"Masalahnya, aku juga perlu tahu apa keyakinanku sama dengan keyakinanmu."

"Kau tahu apa keyakinanku, Mia. Sejak kecil kita selalu beribadah bersama," aku menunduk, terlalu berat. Aku tidak mungkin bersama Mia kalau kita berbeda keyakinan.

"aku pasti akan merindukan saat kita beribadah bersama." sambungku kemudian.

"Kamu ngomong apa sih, Fan? Bukan keyakinan yang itu."

"Keyakinan yang mana lagi? Aku cuma punya satu keyakinan dan kamu tahu itu."

"Reno yakin bahwa kamu itu cinta aku dan aku juga sebaliknya. Awalnya kami beda keyakinan. Tapi setelah Reno mutusin aku, kurasa, aku nggak bisa jauh dari kamu, Fan." 

Aku melongo, terbengong sendiri dengan kata-kata Mia.

"Jadi, apa keyakinan kita sama? Aku bela-belain ngejar kamu sampai bandara ini."

"Kamu nembak aku?"

"Aku nanya bukan nembak. Lagian Kak Doni nggak mungkin minjamin pistolnya ke aku."

"Keyakinan kamu nggak salah, aku juga."

"Oh ya udah.  Sekarang kamu bisa pergi ke Autralia."

"Terlambat. Aku mau di sini sama kamu."

Credit

3 comments:

  1. hoo.. keyakinan hati toh maksudnya :D

    ReplyDelete
  2. ihik ihik..flash fiction yg indah di endingnya..bagus banget :)

    ReplyDelete

Mana jejak tulisanmu?