Tuesday, 7 April 2015

Anak Ibu

Bismillaahirrahmaanirrahiim....

***

Tarik napas, embuskan. Tarik lagi, embus! Aaaa!!! Kenapa suaraku aneh? Kuraba leherku. Apa ada radang ya? Bisa gawat kalau begini. Besok aku lomba menyanyi. Kalau suaraku tidak kembali, bagaimana aku bisa menang?

"Hei, ada apa, Sayang? Ibu kaget denger teriakan kamu," Ibu melongok membuka pintu kamarku.

"Suara Dani aneh, Bu. Padahal besok Dani ada lomba nyanyi," jelasku.

Ibu menghampiri dan duduk di sebelahku. Ranjangku berdecit, sedikit protes dengan beban tubuh kami.

"Coba buka mulutnya!" Kubuka mulut, Ibu memeriksanya.

"Tidak ada yang aneh. Badan kamu juga tidak panas," kata Ibu seraya menyentuh dahi dan leherku. Lalu aku kenapa?

"Astaga! Jangan-jangan kamu mulai puber! Kenapa Ibu sampai tidak sadar dengan perubahan kamu? Maaf kan Ibu ya!" Aku mengangguk sementara Ibu mengelus kepalaku.

Ibu menjelaskan ketika anak laki-laki memasuki usia akhir SD mereka mengalami puber. Ibu bilang itu semacam peralihan dari anak-anak ke remaja. Suaraku yang sedikit serak itu salah satu ciri puber. Aku mengangguk sekenanya.

Harusnya saat ini Ayah yang mendampingiku. Akan jauh lebih mudah melihat langsung perubahan nyata seorang laki-laki. Saat aku bertanya tentang Ayah, Ibu menunduk sedih. Tak ada penjelasan. Ibu tersenyum lalu pergi.

Pernah aku melihat Ibu menangis diam-diam di kamarnya. Ketika aku mengintip, terlihat Ibu memegangi selembar foto. Wanita berkebaya putih berjarik coklat yang sedang tersenyum.

Ketika melihatku, Ibu menyembunyikan foto itu. Aku berlari ke arahnya. Tangannya dengan sigap mendekapku. Wajahku bersembunyi di dada datarnya yang naik turun menahan isakan. Aku mendongak, tanganku terulur mengahapus air mata yang ada di pipinya turun ke leher dengan sedikit tonjolan di tengah. Tidak peduli siapa Ayahku, aku tetap anak Ibu.

***

Notes:
Lewat fiksi saya jadi anak-anak, cowok lagi!!! Eh, dah sering ding jadi 'aku' cowok :wek :uhuk :hai

“Flashfiction ini diikutsertakan dalam Tantangan Menulis FlashFiction – Tentang Kita Blog Tour”

9 comments:

  1. Jadi inget kasus mbak jiah dikira cowok.. hahaha :D ternyata emang terbukti.. hihi :D

    ReplyDelete
  2. Ibu tangguh mah ini y mbak..
    Oke deh..ditunggu fiksi mbak sbg cowok lg ya mbak...hihihi...

    ReplyDelete
  3. Maksudnya si ibu ini dulunya seorang laki-laki? atau dia ini memang ayahnya tokoh anak yang beralih peran jadi ibu?

    agak bingung. :)

    ReplyDelete
  4. @ hanya: errr inget aja
    @ inda: ntar kapan2 ngefiksi pake cowok lg mbak
    @ bang riga: pd dasarnya, ibunya itu cowok, anak Ayah. Gitu sih intinya
    @ mbak lidya: gay kan laki-sama laki mbak. Akunya bahas anak sma orgtua doang sih hihih

    ReplyDelete
  5. Nice, Jiah :)
    Makasih yah, udah ikutan.

    ReplyDelete
  6. emang mbak dikira cowo ya? saya mah dari awal gak menganggap cowo kok. lah jadi inget sama bapak2 dan ibu2 yang manggil saya mas kalo lagi motoran haha

    ReplyDelete
  7. Hoalah.. terus ibunya kemana ? baru nggeh kalau bapaknya di panggil ibu #eh

    ReplyDelete
  8. Ibu = Ayah. Lah, terus Ibunya kemana yah??

    ReplyDelete

Mana jejak tulisanmu?