Thursday, 17 December 2015

Kampus Fiksi Semarang 2015

Bismillaahirrahmaanirrahiim....
Menyambung cerita saya di KetikaAnak Kampung pergi ke Kota, tujuan saya ke Semarang waktu itu adalah untuk menghadiri Kampus Fiksi yang diadakan oleh Diva Press @KampusFiksi. Pada pertemuan kemarin, 29 November 2015 kita membahas tulisan non fiksi.
Bagian pertama adalah kuis. Karena saya telat, jadi saya hanya ikut beberapa soal. Setelah itu, dari Mbak Qurotul A’yun @ayunqee memberikan pelajaran tentang self editing. Apa itu?
Self editing adalah membaca ulang keutuhan tulisan dan kelayakan naskah. Alasan kenapa harus mengedit agar memperbesar peluang naskah diterima, memperkecil kesalahan. Saat naskah kita bagus, maka mengeditnya akan semakin teliti.
Landasan mengedit ada 3, yaitu: KBBI, EYD, Selingkung atau aturan lokal yang dibuat penerbit, dan setiap penerbit tidak selalu sama.
Apa sih yang harus diedit?
  •   Isi dengan membaca ulang, validitas, sara, sarkas dan jangan lupa riset.
  • Fokus dengan tema/ judul tulisan, jangan melebar. Di sini lah kita butuh yang namanya kerangka tulisan atau outline.
  • Pola  kalimat (SPOK) dengan menghindari kalimat ambigu agar tidak multi tafsir.


Sistematika penulisan
  •  Naskah sistematis, disajikan runtut. Biasanya menggunakan piramida terbalik.
  •  Jangan mengulang materi.
  •  Pembahasan berbelit dan berulang membuat bosan.
  •  Jika tulisan cukup 200 halaman, jangan diperpanjang menjadi 300 halaman.

Dalam proses editing, kita tidak boleh lupa dengan yang namanya diksi/pilihan kata. Yang perlu kita perhatikan antara lain:
  • Diksi sesuai KBBI. Jangan membuat KBBI tandingan.
  •  Jangan menggunkan diksi yang maknanya bertentangan dengan KBBI. Contoh: Kau acuhkan aku. Padahal arti acuh = peduli.
  •   Jangan bakukan kata berdasarkan asumsi, istilah sendiri. Contoh: Mangkel jadi mangkal.
  •  Jika ada istilah asing, gunakan footnote. Jika ada padanan bahasanya, lebih baik gunakan itu.
  • Penggunaan tanda baca dan kapital berpengaruh pada kalimat. Contoh: “Ayo bikin sate Ana.” Yang betul, “Ayo bikin sate, Ana.”


Memasuksi sesi utama, kita diajari pengetahuan tentang Prinsip-prinsip Pokok Menulis Esai, Artikel, nonfiksi oleh Pak Edi Akhiles (Edi Mulyono), CEO Diva Press.
Pramenulis:
  • Menabung dan memilih ide (Kegelisahan intelektual). Bisa dari bacaan, perenungan, pengamatan, dan aktualitas.
  • Mastering (Penguasaan mainstream)makin detail makin kuat.
  • Panjakan landasan teori yang hendak digunakan untuk membedah ide.
  • Memahami common sense (titik temu) dan proposisi (benang merah dari berbagai teori).
  •  Outline/kerangka tulisan.
Saat menulis:
  •  Buat opening yang memikat.
  •  Runtut, sistematis antar kalimat.
  • Disiplin outline.Bisa juga memberi selipan dari tokoh terkait.
  • Teknik analisis serupa dengan orang yang hendak naik gunung. Menanjak, puncak, menurun.
  • Akhiri dengan kalimat impresif, menghentak, menggugah dan berkesan dalam hati.

Pasca menulis:
  • Endapkan tulisan.
  •  Self editing.
  • Pertajam hal-hal yang kurang.
  • Perkaya diksi
  • Kirim ke media yang diinginkan.
  • Good attitude.

Problem umum dalam menulis:
  • Menulis dari ruang kosong, miskin ide.
  • Metodologi (cara berpikir) mencakup urusan pendekatan/perspektif dan kerangka/landasan teori bedah ide tulisan.
  • Memahami karakter media/pembaca yang disasar.
  •  Terjebak gaya kliping.
  • Tidak buat outline
  • Tidak diendapkan
  • Tidak sabar menempuh proses kreatif
  • Sombong atas kemampuan sehingga abai untuk berdoa.

Materi di atas merupakan hal yang saya dapat ketika mengikuti Kampus Fiksi. Walaupun pembahasannya non fiksi, tapi bisa juga dijadikan pelajaran ketika menulis fiksi. Walaupun Cuma ngarang, logika dalam fiksi juga dibutuhkan.
Tiga jam ternyata singkat banget. Meski harus bersusah payah ngebis dari Jepara ke Semarang sendirian, rasanya tetap senang karena bisa mendapat pelajaran yang akan saya gunakan sampai mati. Oh iya, dari acara ini saya juga ketemu teman baru seperti Mbak Arina dan Mbak Ika yang sama-sama seorang blogger.
Terima kasih buat semua team Kampus Fiksi, Mbak Susi, Mas Catur, Mas Syaiful yang rela ikut telat karena nunggu saya. Pak sopir Trans, bis dan angkot yang saya tumpangi. Dan kedua orangtua saya yang pusing setengah mati karena anak gadisnya suka ngilang sendiri.

Doa saya, semoga tahun depan bisa ikut lagi. Rencananya nanti bukan hanya materi, tapi kita langsung praktek menulis fiksi. Peernya, saya harus punya laptop jika mau ikut Kampus Fiksi lagi. Nabung setahun euy!!! Kalau sampai tak ada Kampus Fiksi, salahkan saja Jokowi! #Eh. Saya yakin, Pak Jokowi mendukung kreatifitas anak negeri.

Sampai jumpa lagi!!!!

13 comments:

  1. Sebenarnnya waktu di sekolah dulu sudah dikasih tau sama guru soal ini, tapi sering lupa. Makasih udah diingetin lagi :D

    ReplyDelete
  2. Oke, noted. Trims sharing ilmunya Mbak...

    ReplyDelete
  3. wah lengkap banget ilmu yg didapet di kampus fiksi
    smg ikut lg tahun depannya

    ReplyDelete
  4. Ilmunya bermanfaat banget Jiah.. makasih udah sharing. Seandainya di Serang ada Kampus Fiksi ini, sayapun pasti ikut :)

    ReplyDelete
  5. wuihhh catet ah walopun ini untuk fiksi, bisa menjadi bahan ku nanti kalo mau menulis non fiksi

    ReplyDelete
  6. Wah makasih mbak udah disharing ilmunya :D

    ReplyDelete
  7. saya punya ini mbak http://www.soearamoeria.com/2015/12/berwacana-jangan-dikaitkan-dengan.html

    ReplyDelete
  8. Jadi kangen Kapus Fiksi di Malang deh. Kapan diadain lagi, ya?

    ReplyDelete
  9. Wahhh udah semarang aja nih roadshownya wah ada Mbak susindra, eh pak edi tambah kasep pisan euyyy.

    ReplyDelete
  10. makasih mbak, ilmua ciamik banget

    ReplyDelete

Mana jejak tulisanmu?