Friday, 24 March 2017

Lamaran

Bismillaahrrahmaanrrahiim....

Lamaran. Yang namanya perempuan kalau dapat lamaran itu harusnya senang. Apalagi kalau yang melamar itu pujaan hati atau seorang lelaki yang memang diimpikan. Bahkan ada lho acara TV yang khusus untuk lamaran agar mengesankan dan tak terlupakan.

Lamaran, ajakan menikah sendiri ada yang romantis ada yang biasa. Tergantung masing-masing individu karena tingkat rasa romantis setiap orang itu beda.

Ji, ini ngomongin Lamaran siapa sih?

Ehm, errr sebenarnya saya malu buat cerita. Ini lamaran saya, bahahaha. Lamaran yang tidak saya duga sama sekali karena saya tidak kenal siapa orangnya.

Pixabay

Semua seolah sudah siap, sayanya yang tidak. Entah mengapa saya ragu. Saya mau menolak saja. Tapi Mbak saya lihat calonnya. Katanya oke. Menurut promo orang, agamanya baik. Hanya seperti itu?!

Ji, bukankah dalam agama Islam jika ada Pemuda baik agamanya maka pilih lah dia?

Iya betul, tak diragukan lagi. Tapi, ini hidup saya. Baik agamanya, kerjaannya dzikir di mushola tapi enggak kerja, kita mau makan apa? Saya lagi berpikir realistis!

Jadi ketika kami berhadapan dengan beberapa orang mengelilingi, saya grogi sendiri. Saya menunduk jangan sampai otak saya blank. Jika saya terdiam tak bicara, bisa gawat. Karena apa? Masih percaya kata orang yang mengartikan diamnya gadis tanda setuju. Heh?!

Dengan suara bergetar saya bertanya, "Apa mimpimu?"

Dia menjawab panjang lebar yang sayangnya bukan bercerita tentang mimpinya. Dia menjelaskan pengetahuan agama. Mungkin maksudnya untuk menarik perhatian saya. Jadi setelah dia diam, saya bertanya kembali tentang mimpinya.

Sambil menjawab, dia menarik tangan saya dengan kencang. Saya menjerit, kaget. Tak apa seorang lelaki yang mau melihat calonnya dari telapak tangan dan muka, tapi bukan dengan pegangan yang kencang. Saya meronta, semua orang membantu agar dia melepaskan tangan saya. Saya lari, tapi tangan itu begitu kuat. Saya terengah dan terbangun. Ya Allah, untung cuma mimpi, alhamdulillah!

Sirius saya ngeri sekali. Mimpi kok ya sampai segitunya. Mungkin gara-gara kemarin ikut #APAHchallenge karena hidup #IniBukanSinetron.

Dari awal saya sudah mau nolak. Enggak nyangka aja kenapa twist endingnya kaya gitu. Tadinya saya mau beralasan sudah punya orang yang saya suka tapi dia belum siap atau saya belum move on dari cowok yang saya taksir.

Mimpi adalah bunga tidur. Tapi mimpi kali ini mungkin cerminan ketakutan saya. Saya tidak takut menikah, tidak sama sekali. Saya takut dilamar orang yang tidak tepat.

Orang yang tepat itu seperti apa?

Setidaknya saya kenal dia. Satu dua kali pernah bicara entah lewat mana. Kalau orangnya tiba-tiba datang dan dapat info hanya berdasarkan KATANYA baik, katanya ini itu, saya butuh pemikiran ulang. Dan yang paling penting karena saya hidup di desa dengan banyak pemikiran tentang pamalinya menolak sebuah lamaran dan jika menolak, jodohnya akan susah. Ini jelas mengganggu saya. Padahal seorang gadis itu berhak menolak lamaran jika dirasa kurang cocok.

Ini hidup saya, dan saya dan dia yang menjalani pernikahan nantinya. Saya tidak ingin menikah karena tuntutan usia apalagi ucapan 'Mumpung ada yang mau'. Karena menikah itu bukan akhir pencapaian tapi sebuah permulaan dari kehidupan yang baru.

Gak ada yang salah jika seorang menikah di usia yang tak muda. Tak masalah jika seorang perempuan memilih hidup sendiri. Namanya juga pilihan hidup. Toh kalau makan enggak minta kamu!

Bagaimana dengan mimpi yang saya tanyakan?

Well, saya mau orang yang bersama saya punya mimpi. Entah besar atau kecil yang penting dia punya mimpi agar dalam hidup kita semangat untuk mencapai sesuatu.

Begitulah kisah lamaran absurd yang untungnya hanya mimpi. Bagaimana dengan kalian? Pernah punya pengalaman nolak lamaran atau dilamar dengan aneh? Share dong biar bisa jadi bekal kalau ada yang beneran nglamar, hahaha!

Sampai jumpa. Happy blogging!

19 comments:

  1. Hahahah baru mau kasi selamat eh ternyata mimpi. Semoga segeraaa ya hihi

    ReplyDelete
  2. Ternyata mimpi. Hehehe. Kalau aku pribadi juga termasuk orang yang tidak menginginkan dilamar oleh orang yang tidak tepat. Orangtua terkadang merencanakan perjodohan tapi rasanya kok aku gak sepaham ya sama jodoh menjodohkan. Hahaha.

    ReplyDelete
  3. ho oh sama seperti mbak Rian, saya juga baru mau kasih selamat ke Jiah..

    xixixii ih kalau beneran, jangan diterima itu cowok begitu.. belum apa apa udah main pegang aje.. untung ga dikeplak ya..

    saya juga menikah melalui ta'aruf, pertama kali bertemu pun pas ta'aruf.

    asli awalnya saya jg bingung mau mengiyakan atau tidak. apalagi suami saya itu ndak masuk standar suami dgn tinggi badan yg saya idam idamkan.

    keluarga saya yg laki laki semua tinggi2, 175-183cm range tinggi badan adik laki laki dirumah. sdgnkan suami cm 165cm, cm beda 2cm dari saya yg 163cm.

    eh tapi nikah kan ga cuma harus dgn yg tinggi, rupanya benar, suami saya baik banget orgnya. alhamdulillah ga nyesel kok menikah lewat taaruf.

    ReplyDelete
  4. saya belum pernah di lamar sih mba.. tapi klo melamar udah sekali.. Berjalan lancar dan diterima. Cuma menikahnya harus mundur dari rencana awal semula

    ReplyDelete
  5. Aduh, Mbak Jiah ini ternyata. Udah penasaran akhirnya gimana. Kirain bakal dapat undangan nih Webers kopdar ke Jepara. Hehe

    Pokoknya didoain yang terbaik. Semua datang tepat pada waktunya. Soalnya saya juga dulu dapat lamaran tak terduga. Jadi penasaran banget tadi sama endingnya. Hehe

    ReplyDelete
  6. biar cuma "katanya" gapapa jadi bahan pertimbangan asal yang bilang "katanya" itu banyak orang, bukan cuma satu dua orang...hhihihi

    ReplyDelete
  7. Aih, saya kira beneran ini tadi Mbak Jiah. Setiap orang memiliki pengalaman yg berbeda ttg lamaran ini. Di keluarga besar saya rata2 yg melamar adalah orang yg memang dikenal oleh si cewek dan keluarga. Acara lamaran hanya sbg formalitas.

    ReplyDelete
  8. Baca pembukaannya, saya langsung lega, alhamdulillah, akhirnya Jiah dilamar. Eh...ternyata hanya mimpi. ^_^
    Semoga mimpinya jadi kenyataan ya..dilamar seseorang yang benar-benar pas. Sebenarnya,meskipun kita sudah mengenal dekat atau kenal lama dengan calon pasangan,tetap aja mesti ada penyesuaian ketika mulai berumah tangga. Hidup bersama dalam satu atap, pasti harus banyak penyesuaiannya.
    Jadi.... semoga gak terlalu banyak pertimbangan ya..., karena pasti butuh penyesuaian lagi. he he he

    ReplyDelete
  9. Ternyata hanya mimpi he..he.. kalau menolak lamaran kerja sih pernah, kalau "lamaran" rasanya berat dan belum terpikirkan.

    ReplyDelete
  10. Nggak usah takut dilamar orang yang kurang tepat. Percaya aja hati mbak akan menuntun sendiri kok..

    Karena saat melamar seseorang sesungguhnya ia seorang laki2 yg berani mbak, ia berani menyingkirkan keraguannya, dan menyingkirkan pikiran "saya takut melamar orang yang tidak tepat untuk saya".

    Hehehehe...

    ReplyDelete
  11. selamat ya jiah, sudah dilamar walaupun dalam dunia alam tidur tapi mari kita doakan semoga segera terealisasi dengan bahagia dan berakhir dengan sejahtera

    ReplyDelete
  12. Ga siap komen sebenernya, ngelanjutin baca juga agak gimana gitu waktu baca awalnya.

    Untung cuma mimpi, tapi kita juga harus berpikir realistis.


    Ah udah ah, kebanyakan komen padahal hati lagi baper2nya.

    ReplyDelete
  13. semua gara gara APAHchallange ya jadi sampe kebawa mimpi begitu dah sampe segitunya berarti dampah apahchallange haha

    ReplyDelete
  14. Duhh, ya. Bagus cuma mimpi. Aku baca sambil ngebayangin kok ya jadi ikutan ngeri.
    Aku jadi berpikir kalau cowok yang di mimpi itu agamanya masih di ragukan juga. Ehiya gak sih? Ah lupain aja deh😂

    ReplyDelete
  15. Ya ampun untung cuma mimpi ya mbak. Aku gak pernah percaya dengan katanya, katanya untuk hal seserius ini. Semoga mendapatkan orang yang tepat ya mbak. Amin...

    ReplyDelete
  16. Duuh...Jiah bikin deg-deg an deeh...

    Tapi iya banget!
    Kita sebagai perempuan berhak menentukan siapa yang bakal jadi pendamping hidup (in syaa allah) sehidup - sesurga.

    Kalo ga bisa bawa ke surga ((ilmu agamanya kuat)) buat apa..?

    ^^

    ReplyDelete
  17. Alhamdulillah cuma mimpi ya.
    Eh tapi bener sih, jgn cuma liat agamanya bagus aja, tp liat aspek2 lain.
    Aku keinget ayah tmnku yg agamanya bagus tapi pelaku kdrt, jd kdng malah pengetahuan agamanya bikin keblinger. Akhirnya ayah tmnku itu cerai sih ma ibunya.
    Tapi milih seseorang yg bagus agamanya jg gk salah, tapi aspekain jg oke tentu saja :D

    ReplyDelete
  18. aaaah jiah, aku udah serius bacanya, seneng. Mudah-mudahan segera ya dilamar

    ReplyDelete
  19. Kirain beneran :D
    mudah mudahan lekas ya mbak.. Hehe

    ReplyDelete

Mana jejak tulisanmu?