Jiah My Id

The Power of Anak Kampung

Powered by Blogger.
Showing posts with label Pernikahan. Show all posts
Showing posts with label Pernikahan. Show all posts

After Party

Bismillaahirrahmaanirrahiim....

Enggak terasa masa-masa itu kini berganti. Yang kemarin deg-degan dan ikutan pusing telah usai. Kakak laki-laki saya sudah menikah tanggal 13 Januari kemarin. Alhamdulillah banget ya!

After Party, sekarang Kakak saya lebih sering di rumah mertuanya. Praktis apa-apa saya yang ngurusin walau sebelum Kakak nikah saya juga ikutan ribet ini dan itunya.

Tumplak Punjen

Bismillaahirrahmaanirrahiim....

Tumplak Punjen, tadi pagi saudara saya baru melaksanakan ritual tersebut. Jadi, Om saya, adik sepupu Bapak baru nikah dan dia ini anak bontot di keluarganya.


Nikah Muda?

Bismillaahirrahmaanirrahiim....

Nikah Muda? Emang ada masalah? Yang nikah siapa? Yang biayai hidup nanti siapa? Kok situ yang sewot?

Terus terang waktu dengar berita pernikahan anak Ustad Arifin yang bernama Alvin, saya lumayan telat. Dia nikah Minggu, saya tahunya Senin dan buka FB pada hari Selasa, pada heboh. Maklum waktu itu saya lagi mbolang. Mana nggak ada sinyal, hihihi. Saya acungi jempol deh buat Alvin yang serius dengan nikah mudanya di usia 17 tahun.

Balapan Nikah

Bismillaahirrahmaanirrahiim....

Gara-gara nulis Nikah Siri Bikin Hepi, ada yang ngajakin Balapan Nikah! Bayangkan!!! Stasiun Balapan, Rossi balapan senggolan, masa nikah juga balapan?


Entah. Terus terang, sekarang ini saya belum nyiapin target usia untuk nikah. Nikah kan bukan hanya tentang akad sah, tapi lebih. Saya masih memperbaiki diri. Saya mau dapat orang spesial, makanya saya juga harus jadi spesial. Prinsipnya kan gitu. Apa yang kita tanam, itulah yang kita panen.

Dari segi fisik dan usia, saya memang sudah pantas. Malah kalau orang kampung tahu usia saya yang 17+ enam, mereka akan nyirnyir karena saya lumayan terlambat nikah. Biasalah, kebanyakan orang kampung kan nikah di bawah usia 20 tahun. Soal menjaga anak, dari bayi baru lahir sampai balita saya bisa. Ganti popok, bisa. Nyusuin, bisa. Pakai botol, hehehe.

Masak?

Tenang! Masakan anak kampung, saya bisa. Kalau model Restoran dan Chef terkenal, ya belum bisa sih, hihi. Tapi kan saya bisa bedain palawija. Mana Kunci, Kencur, Kunyit, saya tahu kok.

Terus kenapa belum nikah?

Belum ada yang ngelamar, hihi.

Toh kalaupun ada yang ngelamar, saya nggak langsung iyain. Saya merasa, kesiapan batin dan mental masih kurang. Kadang, saya belum bisa sabar menghadapi anak-anak. Balita-Batita mah gampang. Kalau anak-anak kan beda.

Bagaimana kalau calon suami punya buntut? Bisa nggak saya jadi Ibu yang baik untuk buntutnya? Meneruskan rasa kasih dari Ibu kandungnya? Bagaimana kalau dia single tapi punya tanggungan adik-adik serta Ibu yang Janda? Jangan-jangan nanti saya suka adu mulut sama mertua. Bagaimana dan bagaimana, pertanyaan itu selalu muncul.

Saya nggak takut, trauma, atau apa pun. Cuma saya butuh kesiapan mental untuk menghadapi semua yang terjadi pasca nikah. Itu saja. Ketika sudah menikah, kita perlu kesiapan untuk memiliki dan kesiapan untuk ditinggalkan. Kita tak pernah tahu, kapan ajal/cobaan datang. Bisa jadi mereka datang saat kita sedang bahagia-bahagianya. Semacam klimaks suatu cerita.

Setelah cobaan, bukankah kita harus survive?

Itulah kenapa saya mulai belajar survive dari sekarang. Saya tak ingin membebani laki-laki. Bukan berarti Ibu Rumah Tangga itu tidak baik. Setidaknya, saya nanti jadi Ibu Rumah Tangga yang mandiri, beli peralatan rumah tangga kaya Panci Shabu-Shabu sendiri, nggak ribut minta dibeliin kuota untuk ngeblog (Orang Kampung saya sering ribut kalau pasangannya online, blogger aja nggak ada), atau beli buku sampai nggak kebaca, atau beli baju diskonan tanpa habisin uang tabungan. Kalau suaminya mau beliin sih, ya ho oh aja, hehehe.

Perlu diingat. Suami yang bertugas mencari nafkah. Uang suami adalah uang istri. Tapi uang istri, hasil kerja adalah miliknya sendiri.


Tapi, bukan berarti ketika si wanita penghasilannya lebih besar dia malah menginjak-injak suami. Namanya berumah tangga kan bukan suami saja. Tapi kerjasama suami istri.

Jangan dulu bilang cinta
Jangan dulu bilang suka
Mungkin kau akan menyerah
Pada pada ayahku
~Yuki Kato

Sebelum ngajakin nikah, yuk cek diri sendiri. Ngomong depan saya berani membelah bumi. Tapi di depan Bapakku, kau bersembunyi. Mau jadi iman  macam apa kau ini? Coba dipikir, masih mau ngajakin saya balapan nikah???

#FFRabu: Kapan Nikah?

Bismillaahirrahmaanirrahiim....

***
Sumber

Kondangan pernikahan lagi? Siapa takut! Jangan panggil Vino kalau tak punya seribu satu cara untuk menjawab pertanyaan, kapan nikah.

“Hei, Vin! Mana gandengannya?” tanya Reza, si  tukang pamer pasangan.

 “Ada! Kenapa emangnya?” 

Keyakinan itu perlu. Kan setiap makhluk diciptakan berpasangan.

“Kapan nikah?”

“Segera!”

Dia tertawa.

“Kamu nggak percaya?” Aku melirik sekitar, “Kenalin, dia calon istriku!”

Perempuan yang baru lewat di sampingku bingung. Aku mengedip-ngedip.

“Betul, Nay?” tanya si Reza.

Perempuan itu mengangguk canggung.

“Selamat ya Be! Akhirnya Babe Harun punya mantu juga. Saya permisi dulu, Be!”

Reza kabur, sementara aku merinding waktu nengok ke belakang.

“Jadi, kapan kamu ngelamar Nay?”

***

#FFRabu @MondayFF #Pernikahan #JanganTanyaKapanSayaNikah

badge

Nikah Siri Bikin Hepi

Bismillaahirrahmaanirrahiim....



Kenapa judulnya provokatif banget ya? Apakah saya korban nikah siri dari pejabat kaya raya? Oh tidak! Saya belum nikah, masih ting-ting lho! #Promosi.

Jadi begini, nikah itu akad menghalalkan seorang perempuan untuk dimiki. Nah, untuk nikah siri adalah nikah yang sembunyi-sembunyi. Sembunyi di kolong meja? Yaelah, nggak gitu juga kali! Maksudnya sembunyi dari khalayak ramai. Nikah siri ini sah menurut agama. Jadi kalau mau iya-iya, hayuk ah! Hahahay.

Rukun nikah:
1. Dua mempelai
2. Wali
3. Dua orang saksi
4. Akad Ijab qobul

Jadi kalau mau nikah siri, empat orang yang hadir saja udah menuhi syarat lho! Gimana? Asik kan nikah siri itu?

Kok empat, dua mempelai nggak dihitung?

Mempelai perempuan itu nggak wajib hadir dalam akad dan mempelai laki-laki juga boleh diwakilkan jika ada halangan. Gimana? Nikah ini enak banget rukunnya, lha kok pada kumpul sapi!!!

Eh itu, maharnya nggak wajib kelihatan?

Nggak juga. Dicicil juga boleh, asal si mempelai perempuan ridho.

Lho Ji, penghulunya mana?

Penghulu mah kalau situ nikah secara resmi, negara. Kalau nikah siri, ijab qobul antara wali dan mempelai pria/wakilnya, sudah sah. Asik banget nggak sih?

Masih ada pertanyaan? Helo? Saya nggak lagi ngajar ilmu fiqih. Tanya Pak/Bu ustad sono!

Bicara nikah siri, tahun 2003 Mbak pertama saya, Mbak Santi jadi korban nikah siri. Sampai hari ini, dia masih hepi tuh pernah nikah siri. Berhubung waktu itu saya masih SD, jadi urusan orang dewasa macam itu saya tidak dikasih tahu, apalagi tempe. Saya tahunya setelah beberapa tahun Mbak saya nikah.

Mbakmu dinikahi laki-laki beristri, Ji?

Heh! Sembarangan! Dia nikah sama guru ngajinya di pesantren, masih single. Padahal, katanya kakak ipar saya ini kalau ngajar nyeremin, ahahah!!!

Menurut almarhum Kyai kami, KH. M. Dalhar, foto berdua sebelum nikah itu nggak boleh. Waktu itu jadwal akad nikah negara pagi sedang acara lamarannya sore di hari sebelumnya.

Kok nggak sekalian, Ji?

Nggak tahu juga sayanya. Saya kan waktu itu masih kecil #Alasan.

Acara lamaran itu bersamaan acara Gawe, ngundang banyak orang, tetangga, sodara, banyaklah. Resepsi kalau orang kota. Di acara ini, Mbak saya juga dirias, jadi pengantin gitu. Kalau sudah nyewa Padi-padi atau perias kan ada foto-fotonya. Nah disinilah maksud daripada larangan foto sebelum sah jadi suami istri.

Terus acara nikah sirinya gimana?

Kata Mbak saya, Mbak bersama Bapak pergi ke ponpes. Nah mereka nikahnya di sana. Maharnya sepuluh ribu perak. Nggak sabar dong nunggu malam pertama?!!!

Jadi setelah sah, Mbak saya salim sama suaminya. Setelah ituuuu...., tulit-tulit, pulang ke rumah masing-masing!!! Asik kan??? Ahahaha!!!

Mereka akhirnya bertemu pas lamaran seserahan. Foto-foto lalu keluarga dan kakak ipar pulang. Pagi hari datang lagi untuk akad resmi negara. Acaranya lebih panjang, lebih khusu’ dan pastinya terang-terangan karena banyak yang menyaksikan. Nikah dua kali bok. Gimana nggak asik?

Meskipun begitu, para perempuan jangan mau diajak nikah siri. Kalau nikah sirinya kaya Mbak saya mah silakan, toh akhirnya nikah resmi juga. Tapi kalau asal-asalan nikah siri, say big no!!! Bagaimana pun, nikah siri itu merugikan perempuan. Statusnya kurang jelas. Habis nikah, enak-enakan terus ditinggal, situnya jadi gadis bukan, janda bukan. Mau nikah lagi tapi secara agama istri orang. Harus ada ucapan talak dulu. Jadi ribet deh urusannya.

Nikah ya nikah saja. Nggak punya uang? Sabar, puasa sambil usaha. Mau nikah tapi uang pas-pasan? Ya ke KUA. Kalau punya uang lebih ya resepsi, atau sederhananya walimatul ursy. Mau buat kenangan, foto kamera, nyewa Foto Wedding Bandung, atau kamera HP juga bisa. Gaya dikit karena uang lebih bisa ngasih Souvenir Photobooth atau apalah buat rame-rame. Nggak pun nggak masalah. Mau hubungan halal itu nggak susah kok. Sudah cukup hubungan nggak jelas dan bikin dosa. Mending nikah #KasihKode.

Ya sekian dulu pelajaran Fiqih kita #Eh. Habis ini saya mau cerita pernikahan Mbak kedua saya, hahaha. Ada yang mau tahu??? Nati saja lah! Hahahay! 
Sampai jumpa!!

Diikutkan dalam Giveaway Pernikahan dan Souvenir Pernikahan



Hadiah, foto pernikahan yang burem dan dua anak mereka yang unyu pas kecil :D





Nama dalam Ijab Qobulmu

Bismillaahirrahmaanirrahiim....

Saya adalah makhluk Tuhan yang  jarang nyampah status karena kalau pun saya nyetatus, jarang yang komentar :uhuk . Tapi kali ini, saya mau ngorek sedikit tentang dua status yang saya buat di bulan Maret ini :smile .

"Dan stelah kmarin nyanyi lagu duetnya Ariel Tatum n Ari Lasso, baru keinget kalo ada legenda dg tokoh bernama Ken Arok n Ken Dedes. Kalo drakor Heartstring, ada Lee Shin n Lee Gyu Won. Jadi, adakah teori yang menyebutkan tentang larangan menggunakan nama depan yang sama dalam sebuah cerita?
15 Maret pukul 10:52"


Latar belakang dari status ini adalah ketika saya baca review sebuah novel dan menemukan sesuatu yang lucu. Si periview bilang, sebaiknya kalau buat nama tokoh jangan menggunakan huruf yang sama seperti Amela dan Arga. Katanya bikin bingung. Si penulis yang katanya editor ngasih teori aneh. Masa nama tokoh aja diributin? Saya sih fine-fine aja ya baca novel dengan nama tokoh yang hampir sama. Yang ingin saya tanyakan, mana sih teori yang disebutkan itu?



Toh pada kenyataannya, Ariel Tatun duet sama Ari Lasso. Ken Arok menikahi Ken Dedes. Anang nikah sama Ashanti. Lalu ada Arie Untung sama Venita Arie. Jadi apa sih yang salah dengan nama yang sama? Satu komentar teman saya,


"Devania Annesya Rennie Candradewi di atas adalah contoh status gagal move on


Maksudnya saya disuruh move on nutup kasus dan pembahasan review itu :uhuk . Iyah saya depresi bahas tuh review sampai nulis e-mail panjang kali lebar hihih :uhuk . Ya sudahlah :smile .

"Besok Dude nikah. Saya nyiapin tali, Jeng @mentionsari nyiapin apa?
@jiahjava on Twitter · 21 Maret pukul 20:08"


Ini status sedang naik daun :uhuk . Saya niat pakai banget mau move on ya dengan nggak nulis Dude dan pernikahannya. Tapi, ya lucu juga sih status ini. Status yang saya tulis merupakan kiriman dari twitter karena saya sedang memention @mentionsari yang -juga- patah hati? karena Dude.


Inti dari status ini adalah saya pengen move on dari Dude dan ternyata banyak yang komentar. Saya juga dapat kiriman "Yang tabah ya" di dinding FB maupun mentionan di twitter. Kenapa saya milih tali? Mau gantung diri? Yo enggak lah. Life is beautiful you know!!! Iseng biar kelihatan dramatis huahahha :uhuk .


Kenapa sih Dude milih Alyssa? Padahal usia saya dan dia jauh lebih muda saya :uhuk . Cantiknya ya cantikan Alyssa tapi saya ini anaknya Bu e yang paling cantik kalau di rumah. Err karena kedua kakak perempuan saya sudah punya rumah sendiri :wek :uhuk .


"Rosalina Susanti Saya yg gak suka2 amat sama Dude aja pengen nyakar2 tembok liat ekspresi mereka selepas akad "

Saya ngikik bener baca komentar Mbak Rosa. Dia sirik banget wekeke.


Jodoh, rejeki, mati itu Tuhan yang nentuin. Tapi toh kita kudu berusaha mencari yang terbaik bukan hanya menunggu. Dude tuh diusia 33 tahun akhirnya menemukan tambatan hati setelah berita bla bla bla itu. Habis ini poster Dude di buku diary, saya copot aja kali ya :uhuk . Move on!!!


Inti dari kenapa Dude menikah sama Alyssa ya karena kita memang beda standar. Dan yang paling mendasar adalah karena kita beda keyakinan, itu aja sih :smile .

Happy to marry for Dude and Allisha. I'm Happy for you :smile :hiks :hwa


Artikel ini diikutkan dalam Giveaway Blogger Dengan Dua Status di BlogCamp

Untuk Nama yang [Tak] Kusebut dalam Doa

Bismillaahirrahmaanirrahiim....


Dear Zaujy


Hai kau di sana, apa kabar? Aku di sini baik-baik saja. Ada yang berbeda? Kau tahu, ini memang sedikit berbeda Zaujy. Kau masih ingat surat awal tahun 2014 yang kutulis untukmu di diaryku? Tentang keinginanku menuliskan surat untukmu di blogku. Kalau boleh jujur, sebenarnya sudah lama aku ingin menulis khusus tentangmu. Tapi, rasanya lebih baik aku menulis suratku untukmu di diaryku :smile .


Dan kenapa kali ini aku menulis di sini? Aku pikir, tidak ada salahnya sekali lagi aku menulis ini secara publik. Siapa tahu kau membacanya sehingga dengan segera bisa menemuiku.


Kau ingat kapan aku mulai memanggilmu Zaujy? Awal tahun 2011, aku menyebutmu Zaujy yang artinya suamiku. Aku memulai semuanya, memulai untuk mencintaimu, hanya membuka hati untukmu. Entah sudah berapa surat yang kutulis untuk mendekatkan diri denganmu. Dan walaupun sampai sekarang kita belum bertemu, aku tetap akan menulis surat untukmu sampai kapan pun.


Kemarin aku berhayal tentangmu. Ah! Aku memang terlalu sering berhayal bertemu denganmu. Tapi aku percaya, pertemuan kita nanti akan jauh lebih indah dan tak terduga. 


Aku berhayal tentang pernikahan kita. Setelah kau mengijabqobulku, malam pertama kita menjadi suami istri kau memberiku sebuah kado buku. Kau bilang, salah satu tulisan didalamnya membuatmu terkesan. Aku membukanya dan menemukan buku berjudul Benang Merah. Dengan polosnya aku bertanya, tulisan mana yang kamu suka? Kau menunjuk tulisan berjudul Dear Zauji. Aku tertawa, tapi kau tak mengerti. Hei! Itu suratku untukumu. Lalu kita sama-sama tertawa karena kau memang tak tahu nama penaku.


Kau tahu, Allah memang mentakdirkan setiap sesuatu secara berpasang-pasang. Lalu kenapa sampai hari ini kita belum bertemu juga? Apa ada yang salah? Tentu saja tidak ada. Ini bukan tentang jodoh di tangan Tuhan, tapi jodoh itu di tangan kita. Kita yang lebih tahu kapan kita akan bertemu.


Allah akan mempertemukan kita kalau kita sudah siap. Bukan hanya siap lahir, tapi batin juga. Bagaimana kita menjadi lebih dewasa dari biasanya. Bagaimana kesiapan kita untuk berkomitmen dengan janji pernikahan yang bukan sekedar perjanjian biasa. Perjanjian dunia akhirat.


Dan saat ini, aku tahu dan kita sama-sama tahu bahwa kita sedang mempersiapkan diri kita menjadi yang terbaik. Aku tahu kau hebat, kau kuat lebih dariku yang mungkin kata orang aku begitu keras seperti baja. Yang perlu kamu tahu, aku tidak mau menjadi besi atau baja. Aku mau jadi magnet dengan segala yang aku punya untuk menarik magnet yang ada didirimu.


Ketika kita bertemu nanti, kau tak perlu menjadi sempurna karena aku pun sama tak sempurnanya. Cukup menjadi kau yang biasa, kau yang sederhana karena aku mencintaimu dengan sederhana. Ini bukan surat merayu, ya kau tahu bahwa aku tak pandai merayu sama sepertimu.


Ini suratku untukmu, untuk nama yang tak kusebut dalam doa. Jangan salahkan aku Zaujy jika aku tak pernah menyebut namamu. Ini bukan karena aku tak mencintaimu atau hatiku berpaling. Ini karena aku memang tak tahu namamu. Apalah arti sebuah nama? Toh setiap aku berdoa selalu memantapkan hati untukmu, Zaujy. Yang terpenting, saat ijab qobul nanti, kau menyebutkan namaku dengan benar. Dan jika kau masih ngeyel minta disebut dalam doaku, untuk kesekian kalinya aku bertanya, siapa namamu?


Istrimu
Jiah~

http://jarilentikyangmenari.blogspot.com/2013/12/ga-kusebut-namamu-dalam-ijab-dan-qabul.html
GA Kusebut Namamu dalam Ijab dan Qobul

Benang Merah

Bismillaaahirrahmaaanirrahiiim.....

Ketika sepasang hati bertemu :uhuk


Mungkin rasanya akan sangat bahagia melebihi apapun saat kita bertemu dengan pemilik tulang rusuk kita. Buku Benang Merah ini berisi berbagaimacam tulisan tentang pernikahan. Ditulis dengan sepenuh hati oleh penulis tamu Kemilau Cahaya Emas.

Foto kiriman Mbak +Nurmayanti Zain 

Geje juga ternyata aku bisa nulis pernikahan wekekek :uhuk . Apalagi pas jadi penulis tamunya setahun yang lalu. Dua puluh tahun nulis tentang apa itu pernikahan :smile . Patut dipertanyakan, itu tulisan beneran aku yang nulis apa bukan ckckck.


Hayuk berburu Benang Merah di Gramedia, Toga Mas. Pokonya di toko-toko buku sudah adaaaaa :smile .

Tulisan lain tentang Benang Merah ada di empunya Kemilau Cahaya Emas : Buku Benang Merah