Tuesday, 17 December 2013

Berani Cerita #40 : Pilihan Hati

Jam kantor telah usai. Sandra terdiam menunggu Malik ke luar dari ruang Dirut. Sandra terlalu sering berselisih paham dengan Malik. Tapi kali ini, sepertinya Sandra akan terbunuh secara perlahan. Sandra duduk di kubikelnya. Masih terngiang ancaman Malik tadi. Sandra meremas tangannya, perutnya terasa tegang.


“Rio, manager kita itu sahabatku. Dia telah dijodohkan dengan puteri Dirut kita. Jangan coba-coba menggoda Rio. Aku akan membunuhmu kalau sampai perjodohan itu gagal!!!”


Kata-kata Malik terus saja terngiang di telinga Sandra. Malik orang kepercayaan Dirut dalam banyak hal termasuk urusan percintaan puterinya. Sifat Malik yang terlalu setia itu, kadang membuat Sandra sebal. Sandra mengutuk dirinya sendiri yang ceroboh. Harusnya setelah meeting dengan klien waktu itu, Sandra menolak ajakan Rio untuk makan malam. Rio begitu baik dan Sandra menyukainya.


Sandra tidak mau usaha yang dilakukan selama ini gagal begitu saja. Sandra memulai semuanya dari nol, dari titik terbawah untuk membuktikan bahwa dia bisa mandiri walaupun tanpa kerja keras dia sudah pasti mendapatkan posisi lebih dari posisinya sekarang.


Sandra bisa memastikan rencana perjodohan itu jelas akan gagal karena dirinya. Ketika rasa itu muncul dan jatuhnya pada orang lain, siapa juga yang kuasa melarangnya?


Malik baru saja keluar dari ruang Dirut. Malik mendekati meja Sandra. Wajahnya merah, matanya menatap Sandra seperti ingin menelannya sekaligus.


“Puas sekarang, ha? Apa sih maumu?” tanya Malik sinis.

“Maksudmu?”

“Jangan pura-pura tidak tahu! Perjodohan itu gagal dan semua itu karenamu!”

“Aku akui, itu semua salahku. Kenapa selalu saja Rio yang kamu pikirkan?”

“Karena dia sahabatku!”

“Kapan kamu mempedulikan dirimu sendiri?”

“Jangan mengalihkan pembicaraan! Kamu perempuan cantik dan berpendidikan. Harusnya kamu bisa mendapatkan lebih dari seorang Rio. Tinggalkan Rio, aku bisa membantumu melupankannya.”


Malik menunduk menatap wajah Sandra. Malik mendekatkan bibirnya ke bibir Sandra kemudian mengecup bibirnya sejenak.


“Apa kamu menciumku demi Rio juga?” tanya Sandra.

Malik sedikit kikuk. Dia bukan seorang yang pintar berkata-kata.

“Ini karena…, aku mempedulikanmu.”

“Aku bukan sahabatmu! Toh kita sering bertengkar, tak perlu kau mempedulikanku!” kata Sandra acuh.

Sandra beranjak dari kursinya, mengambil tas hendak pergi. Tapi Malik menghentikannya.

“Aku mencintaimu.” kata Malik lirih.

Sandra menatap Malik tak percaya.

“Aku serius! Jadi bagaimana?” ulangnya lagi

Sandra tersenyum melihat Malik semakin kikuk.

“Kalian belum pulang?” tanya seorang yang tak lain adalah Dirut mereka.

“Kami masih ada urusan yang perlu diselesaikan, Pak.” jawab Malik.

“Urusan?” tanya Pak Dirut menatap Malik kemudian mengalihkannya pada Sandra yang tersenyum tenang.

“Baiklah. Sandra, jangan lupa ke rumah Ayah jam 8. Mamamu sudah menyiapkan makan malam.” lanjut Pak Dirut kemudian meninggalkan keduanya.

“Ke rumah Ayah? Maksudnya apa, Sandra?” tanya Malik tak mengerti.

“Tidak salah kan kalau perjodohan itu gagal karenaku. Aku memilihmu, Malik.”



Notes : Suka banget bannernya :uhuk , makanya belain ikut :smile

10 comments:

  1. Yaa kadang kebencian untuk menutupi rasa cinta yang tak mampu terucap!
    Sukses!

    ReplyDelete
  2. Kemarahan yang lebih dari sekedar bawahan setia Dirut yah ... hehe

    ReplyDelete
  3. Jiah, harusnya peduli deh kalo ga salah, bukan perduli *melipir cek KBBI dulu* hihihihi

    ReplyDelete
  4. @ mbak orin : udah aq benerin heheh, manut kbbi

    ReplyDelete
  5. @ mbak orin : udah aq benerin heheh, manut kbbi

    ReplyDelete
  6. @ mbak orin : udah aq benerin heheh, manut kbbi

    ReplyDelete
  7. @ mbak orin : udah aq benerin heheh, manut kbbi

    ReplyDelete
  8. itu kenapa si Sandra seolah nggak tahu kalau dia sendiri yang dijodohkan dengan Rio? Bukannya ada perkataan Malik yang menyatakan hal itu, Jiah?

    ReplyDelete
  9. @annarsabdh : tau kok, tp mgkn kurang clue di kal ini :

    Sandra tidak mau usaha yang dilakukan selama ini gagal begitu saja. Sandra memulai semuanya dari nol, dari titik terbawah untuk membuktikan bahwa dia bisa mandiri walaupun tanpa kerja keras dia sudah pasti mendapatkan posisi lebih dari posisinya sekarang.

    Sandra gak mau org tahu siapa dia sebenarnya

    ReplyDelete

Mana jejak tulisanmu?