Monday, 28 December 2015

Jangan Salahkan Tangan

Bismillaahirrahmaanirrahiim....

“Ojo garang tangan. Mengko nak nandur gak urip!”

Itu adalah petuah Mbah ketika saya mengahangatkan tangan di dekat api. Apa betul gara-gara ini, apa yang saya tanam mati? Kalian pernah juga mengalami ini?

Sekitar dua bulan yang lalu saat saya dolan ke rumah Mbak Susindra, sebelum pulang saya dipamerin Kembang Brojol. Tenarnya Amarilis. Katanya bunga itu dipungut dari jalan. Karena jenisnya bawang-bawangan dan mungkin sangat suka dengan keluarga Mbak Susi, bunga itu pun hidup.

Saya nggak mau kalah pamer dong! Saya bilang dulu waktu SD juga suka bertanam. Banyak bunga, dari yang betulan bunga sampai bunga jalan atau bunga yang diambil dari sawah. Sayangnya, ketika saya akhirnya pergi dari rumah, bunga itu tak ada yang merawat. Endingnya hampir semua dibabat oleh si Mbah. Pengen nangis, tapi nangis aja tuh bunga nggak bisa balik. Bertahun-tahun, hanya bunga Melati yang hidup sampai sekarang.

Setelah pulang dari rumah Mbak Susi, akhirnya saya buat challenge untuk diri saya sendiri. Saya mau membuktikan bahwa tak ada hubungannya garang tangan dengan tanaman yang mati. Banyak orang menyalahkan tangan. Padahal, tangan itu penuh keberkahan dan soal tanaman yang mati, mungkin kita yang salah dalam menanam.

Mulai tanggal 28 November 2015, saya mengadopsi beberapa tanaman. Bunga Amarilis yang saya ambil dari belakang rumah dan beberapa tanaman seperti Bunga Cakar Ayam, Gingseng, Rumput Jepang saya adopsi dari taman saudara sepupu. Saya mengambil Bawang-bawangan dari samping Konter. Beberapa waktu kemudian saya juga minta tanaman Stroberi, tomat, bumbu dapur seperti Cabe, kunyit, kencur dari rumah Bu Dhe.

Hari ini, tepat satu bulan saya mulai bercocok tanam kembali. Seneng banget ternyata mereka bisa hidup dengan baik. Rata-rata semua hidup, tapi ada juga yang mati seperti pohon Belimbing Wuluh yang tiba-tiba mengering.

Kenapa saya bilang adopsi?

Semua yang saya taman merupakan milik orang lain. Saya memintanya. Itu artinya saya mengadopsi dan wajib merawat mereka. Sehari sekali saya siram. Saat musim hujan seperti ini, terus terang saya memang jarang nyiram mereka. Untuk menanam sendiri, biasanya saya ambil waktu pagi atau sore hari. Menyiram juga, pagi atau sore.

Saya tahu, saya ini bukan ahli dibidang tanam-tanaman. Saya juga masih kalah dengan tetangga yang punya tanaman bunga bahkan sayuran sendiri. Tapi, saya akan tetap berusaha menambah tanaman adopsi lainnya. Lumayan kalau punya pohon Cabe banyak, berbuah, bisa bikin sambal terasi yang banyak tanpa mikir betapa mahalnya harga dipasaran.







Allah itu memberi banyak keberkahan lewat tangan. Jangan salahkan tangan atau apa pun saat apa yang kita inginkan tidak tercapai. Bisa jadi apa yang kita lakukan kurang benar sehingga Allah belum meridhoi. Bisa jadi juga kita diminta untuk bersabar dan lebih giat dalam berusaha. Menghijaukan sekeliling kita artinya ikut menghijaukan bumi juga. Selamat bercocok tanam!!!

8 comments:

  1. Benar banget Mbak, jangan salahkan tangan si penanam :)
    kalo tumbuhannya mati, mungkin kurang dirawat dan diberi perhatian :)

    ayo menanam untuk menghijaukan bumi kita :)

    ReplyDelete
  2. kamu telaten banget jiahh salut deh

    ReplyDelete
  3. Gak heran background blog ini tanaman hijau, yg punya suka tanaman ternyata. Telatan pula :)

    ReplyDelete
  4. Saya sih lebih setuju ke pribadinya masing-masing (saat merawat apa yang ditanam).

    ReplyDelete
  5. Aku gak pernah cocok ma tanaman, entah kenapa. Kalo ibuku selalu tumbuh subur.

    ReplyDelete
  6. Kereeenn... Urip kabeh.
    Kapan2 aku mampir & adopsi bunga darimu juga. Hahahaha

    ReplyDelete
  7. Pepatah si mbah bikin inget masa kecil. Eh, tapi sekarang aku jadi sering ngomelin bocah2 kaya gitu nih, mba Jiah. Sebel aja kalau pada main api pas ada bakaran sampah

    ReplyDelete

Mana jejak tulisanmu?