Thursday, 6 June 2013

Kesandung Cinta

Aku tersentak saat membaca SMS dari Kapten Bhirawa yang mengabarkan bahwa beliau telah sampai di kota Surabaya dan sedang perjalanan menuju rumah. Firasatku sedikit tidak enak dengan kedatangan beliau yang sangat mendadak. Inspeksi dadakan ini seolah menyudutkanku. Apa mungkin ini ada hubungannya dengan pekerjaanku yang tidak beres selama dua tahun menjaga Kinar anak semata wayangnya? Semoga semua baik-baik saja. Toh aku masih bisa mengendalikan perasaanku sendiri.


Kuambil agenda harianku sebagai catatan kegiatan yang Kinar lakukan. Kubaca sekilas, memastikan tidak ada bagian dari kegiatan kuliah Kinar yang terlewatkan. Bel rumah berbunyi, sepertinya Kapten Bhirawa telah datang.


“Selamat pagi Kapten.” sapaku
“Pagi. Kinar dimana?”
“Masih di kamarnya Kapten. Hari ini tidak ada kuliyah.”
“Bawa agendamu, aku tunggu di ruang kerja!”
“Siap Kapten!”

***

Kapten Bhirawa membaca catatanku dengan serius sambil memilin kumis tebalnya. Aku hanya berdiri tegak di depannya menunggu penilaian terhadap pekerjaanku.

“Mencintaimu itu seperti mencintai bintang. Tampak dekat tapi jauh.”

Aku tersentak mendengar ucapan Kapten Bhirawa.

“Aryo? Apa-apaan ini?” bentak Kapten Bhirawa dengan menyodorkan sebuah kertas merah jambu.
“Itu…,” kataku terputus. Aku tak tahu dari mana kertas itu.
“Apa kamu punya pacar?”
“Siap tidak punya!”
“Lalu kenapa surat cinta ini ada di agendamu ha? Apa kamu mencintai seseorang?”
“Siap iya!”
“Nikahi dia!”
“Siap iya! Tapi…,”
“Tapi kenapa? Ketika mencintai seorang gadis, kamu harus bertanggung jawab untuk segera menikahinya. Pernikahan itu untuk menyempurnakan agama, kenapa harus ditunda? Jadi kapan kamu mendatangi orang tuanya?”
“Siap! Minggu depan saya sampaikan proposal pernikahan saya kepada ayahnya!”
“Bagus! Kamu kupecat jadi pengawal Kinar!”
“Siap iya! Lho? Kapten? Kenapa saya dipecat?” ucapku bingung.
“Dan janganlah kamu mendekati perbuatan zina!” kata Kapten Bhirawa.


Beliau melempar agendaku ke meja kemudian bangkit dari kursinya. Aku berbalik mengikuti arah Kapten Bhirawa pergi. Ada Kinar disana tersenyum begitu manis. Sebelum Kapten Bhirawa menarik tangan Kinar, aku sempat mendengar ucapan lirih Kinar,

“Kerja bagus Mas Aryo!”


 Senandung Cinta

 Cerita  ini diikutsertakan pada Flash Fiction Writing Contest: Senandung Cinta

16 comments:

  1. Terima kasih atas partisipasi sahabat dalam Kontes Flash Fiction Senandung Cinta.

    Ikuti juga Kontes Unggulan Blog Review Saling Berhadapan di BlogCamp (http://abdulcholik.com)

    Salam hangat dari Surabaya

    ReplyDelete
  2. Rupanya yang dicintai adalah anaknya kapten Birawa ya :)

    ReplyDelete
  3. uhuk.. Aseeeekkk.. laksanakan untuk menikahi kinar :D

    ReplyDelete
  4. Entah kenapa, kok aku ngakak ya baca ffmu, jiah. Lucu ini.. :D

    ReplyDelete
  5. Beruntung proposalnya disetujui sebelum diajukan. Hihihi

    ReplyDelete
  6. bener, ngakak tenan :D. cerita inih mengingatkan saya ma FTV yang diputer sering di SCTV :D

    ReplyDelete
  7. Untung Kinar gak dibedil kapten Bhirawa ya hahaha

    sukses kontesnya Jiah

    ReplyDelete
  8. cie cie kaptennya tau bawahannya nakalin anaknya :3

    ReplyDelete
  9. eciyeee Jiah mau nikah euy #eh? qiqiqiqi

    ReplyDelete
  10. eciyeee Jiah mau nikah euy #eh? qiqiqiqi

    ReplyDelete
  11. Eh... itu Kapten Bhirawa ngerti gak sih siapa yg dicintai Aryo?

    ReplyDelete
  12. sebuah karya teman yang telah jadi salah satu sumber inspirasiku... :)

    ReplyDelete

Mana jejak tulisanmu?