Friday, 16 September 2016

Pagi-Pagi Nguras Air

Bismillaahirrahmaanirrahiim....

Pagi-Pagi Nguras Air, ada banjir kah? Waaa kalau kampung saya banjir berarti lautnya naik. Ini mah serem banget!!!


Pagi 15 September 2016 saya dan beberapa orang memang menguras air dari sumber air masing-masing tentunya. Awalnya tepat adzan subuh ada gaduh. Saya memang agak malas bangun, jadi cuek bebek karena saya pikir si sapi lagi polah. Biasa, orang kalau punya piaraan, yang dipikir pertama kali ya itu. Eh Bu e gedor pintu lagi, katanya oven kayu milik tetangga terbakar. Langsung deh tunggang langgang nyari ember.

Kebakaran kecil di sekitar rumah memang beberapa kali terjadi. Dulu jaman saya kecil, sebelah timur rumah juga pernah. Rata-rata mereka punya mebel kayu. Mulai dari api di oven sampai sampah kayu yang tersulut api. Kalau kejadiannya waktu ada matahari mah deg-degan. Lha pas gelap gini? Deg-degan kuadrat deh!

Satu dua kali ngangkat ember, ya cape juga. Gelap pula. Akhirnya saya ambil selang sampai jarak terdekat dari lokasi sekitar 10-15 meter gitu deh. Saya jadi operator air dengan 5 ember besar dan 4 ember tanggung. Jangan panik, dan tetap cari cara agar sumber api bisa dijinakkan.


Sekitar pukul lima pagi, dua pemadam kebakaran datang. Dari jauh sirinenya sudah terdengar dan jelas memancing orang-orang untuk keluar rumah. Bahkan yang habis dari mushola juga ke lokasi. Saya ikut mendekat? Oh jelas sekali.

Saya liat-liat yang madamin api, kok ganteng #eh, hehehe. Tapi serius, mereka masih muda, dan walaupun gelap, masih terlihat tanda-tanda kemacoan mereka. Kok ya beda sama pemadam yang pernah saya lihat? Jangan-jangan yang muda ini sengaja disimpan lalu dikeluarkan saat gelap biar nggak salah fokus. Bisa jadi kan?!

Saya penasaran, di mana mereka tidur? Di kantor kah? Bagaimana dengan keluarga mereka? Istri, anak. Duh jadi pengen tahu lebih lanjut deh.


Api padam, kayu-kayu berubah jadi arang. Penonton mulai bubar, sementara saya sibuk nyari ember, hihihi. Alhamdulillah banget deh. Mungkin yang hilang memang bukan rejeki dan akan diganti Allah dengan yang lebih baik.

Dan setelah kejadian ini saya merasa butuh banget nyimpan nomor-nomor darurat di Jepara. Tentunya waspada juga, hehehe.

Pemadam Kebakaran Jepara: 111/592113

Sampai Jumpa. Happy Blogging!

12 comments:

  1. Untunglah tetangga bahu membahu ya bantuin jadi cepet juga padam :"(

    ReplyDelete
  2. Waduh.. Kalo kebakaran gitu ngeri ya, Jiah. Aku jadi inget beberapa bulan yg lalu sekitaran kos kebakaran. Ratusan rumah angus :'

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ngeri2 sedap, untung nggak mrembet ke mana2

      Delete
  3. Hastagah Jiah, serem amat ya? Untung gak kenapa2.

    Btw, ngakak tadi baca bagian ini:

    Jangan-jangan yang muda ini sengaja disimpan lalu dikeluarkan saat gelap biar nggak salah fokus. Bisa jadi kan?!

    Ya amppunnn. Kalo nanti datangin saja kantor pemadam, nomor2 HP mereka diminta jugalah, kan termasuk nomor darurat juga :P

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ooo aku emang pengen bgt ke kantornya, qwhehww

      Delete
  4. Memang benar ujar-ujar sedia payung sebelum hujan, ya bersiap dan berjaga-jaga sebelum terjadi sesuatu. Speerti kasus kebakaran ini, untuk mencegah kepanikan dan mencari sumber air, alangkah baiknya menyimpan nomer pemadam kebakaran, biar kalau sewaktu-waktu terjadi kebakaran bisa langsung dipadamkan

    ReplyDelete
  5. Di saat seperti itu, di samping lembaga terkait cepat tanggap, betapa peran tetangga juga penting ya, Mbak.

    ReplyDelete
  6. Aku ngakak waktu baca yang ganteng disimpang terakhir, huahahahahaa

    Ji, coba deh usul blogger Jepara meet up PMK, bakalan muncul gak si ganteng :D

    ReplyDelete
  7. hilang fokus pas baca pemadamnya ganteng..hahaha
    serem ya mbak lihat kebakaran langsung

    halloooo mbk Jiah,apa kabarr??semoga sehat selalu..^^

    ReplyDelete

Mana jejak tulisanmu?