Parade Kematian

March 27, 2017

Bismillaahrrahmaanrrahiim....

Bersamamu, setahun dua tahun mungkin tak pasti. Tapi yang namanya kematian itu pasti karena setiap yang berjiwa akan mati.

Sekitar sepuluh hari lalu, kampung saya tepatnya di RT 10 ada semacam Parade Kematian. Pada tanggal 17, Mbah Salamah berpulang. Lalu pagi buta tanggal 18 pukul 00.30 Mbah saya, Mbah Ika dan beberapa jam kemudian Mbah Ngadiran. Terus terang bukan hanya satu RT yang heboh, tapi RT tetangga juga. Ta'ziah ke satu tempat lalu ke tempat lainnya.

Q.S Al Anbiya 35

Kenapa meninggal kok beruntun begitu?

Takdir dari sana mungkin. Sebenarnya sudah biasa jika ada satu orang meninggal lalu disusul 2-3 orang. Bedanya tiga hari, tujuh hari, ada tenggangnya lah dan beda RT meski satu kampung. Hanya kali ini beda sehari dan bersamaan seRT pula. Kata sesepuh, orang meninggal memang nyari temen.

Untuk Mbah Salamah, karena tetangga jauh saya kurang paham. Mbah Ngadiran, rumahnya dekat kadang nyapa juga. Mbah Ika adik ipar Mbah kandung, samping rumah dan beberapa hari sebelum meninggal beliau ngasih pisang ke rumah jalan kaki sendiri. Saya enggak nyangka aja kalau waktu itu sebenarnya beliau pamitan.

Di keluarga Mbah Ika sebenarnya ada beberapa anggota keluarga yang sakit dan beliaunya malah sehat meski sering keluar masuk RS. Nah pas ada yang bilang si Om ke rumah sakit, kitanya bertanya-tanya siapa yang dirawat? Ternyata Mbah Ika dan berpulang juga.

Saudara-saudara siap-siap di depan rumah sekitar jam satu pagi. Nunggu jenazah pulang sekitar setengah jam. Setelah sampai, disemayamkan karena enggak memungkinkan kalau langsung di kubur. Nunggu matahari dulu lah. Selama nunggu itu dibacain surat Yasin, Tahlil, doa-doa. Dan saya sengaja mendekat melihat beliau untuk yang terakhir kalinya.

Ji, enggak serem lihat orang meninggal?

Saya enggak takut, cuma ingat mati aja. Saya jauh lebih ngeri kalau lihat orang dalam kondisi berdarah, luka parah. Kalau sudah meninggal dan dibaringkan di tempat tidur, ya deketin saja. Saya ingat dari kecil emang sudah biasa duduk manis di dekat jenazah.

Untuk yang sedang sakarotul maut, saya pernah ikut nunggu. Tapi ketika ruh benar-benar tercabut, saya entah mengapa malah pergi. Aslinya mah ada banyak tanda ketika mau meninggal yang sayangnya saya belum paham bagaimananya.

Saya ingat, dulu Kyai saya pernah cerita bahwa di langit sana ada sebuah pohon kehidupan. Masing-masing daun adalah lambang dari manusia. Kalau di bayangin pasti gedhe banget deh!

Ketika sebuah daun jatuh, itu adalah tanda meninggalnya seseorang. Hitungannya 40 hari. Misal hari ini daun A jatuh, makan 40 hari kemudian di bumi si A takdirnya meninggal. Karena di langit sana sudah meninggal duluan, mungkin selama 40 hari itu untuk berpamitan.

Jika sudah bersemayam, apa selanjutnya yang dilakukan untuk jenazah?

Keluarga mempersiapkan segala sesuatunya untuk mandi, mengafani dan juga mengubur. Setahu saya ada yang jual paketan kain kafan, sabun mandi, shampo, bedak, minyak, papan dan nisan.

Eh kok tahu, Ji?

Iya, dulu di Ponpes, Ibuk yang punya pesantren jual itu. Saya tidak asing lah dengan itu semua. Minyaknya yang wangi banget sampai susah hilang. Dan ukuran kain antara laki-laki dan perempuan juga beda lho. Panjangan kain kafannya perempuan.

Meski ada paketan, kadang sebelum meninggal ada yang bikin wasiat. Entah sudah beli kain sendiri atau siapin papan dan nisan khusus dari kayu yang dipilih. Yang jelas, harga kain kafan itu tak semahal baju designer papan atas.

Jika semua siap dan Pak Mudin (Orang yang bertugas bantu doa saat mandi, mengkafani dan talqin) datang, langsung saja dimandikan. Yang mandiin ini bisa keluarga atau yang sejenis gendernya. Perempuan mandiin perempuan biar auratnya enggak kemana-mana. Jika keluarga yang mandiin, tujuannya untuk menutup aib badan jika ada. Dan yang penting, jenazah ini diwudhuin. Biar tetep suci, yang ngangkat kudu orang yang tidak bikin batal.

Sudah mandi, saatnya mengkafani. Pakai kain kafan juga tidak boleh asal main gulung kaya lemper. Semuanya dibuat baju, dijahit tangan. Jangan hawatir soal modelnya karena Pak Mudin tadi sudah bantuin motong polanya. Untuk perempuan dibikinin jilbab juga. Kalau mau bantu-batu, bikin rangkaian bunga memanjang saja yang gampang. Dan jangan lupa, jenazah perempuan dibedakin dikit biar tetep cantik. Sudah dikafani dan ditali, jenazah dibaringkan di keranda yang nantinya akan dipanggul.

Ji, apa semua jenazah harus mandi?

Tentu saja tidak. Ada beberapa yang emang tidak perlu dimandikan seperti janin yang keguguran, bayi yang meninggal dalam rahim, pahlawan perang, dan juga korban kecelakaan seperti kebakaran, tanah longsor, tsunami.

Jika dirasa sudah waktunya, jenazah harus segera disolatkan di mushola atau masjid terdekat. Hukum solat jenazah itu Fardu Kifayah. Jika seorang saja sudah menyolatkan, gugur kewajiban semua orang. Jika tidak ada yang menyolatkan, semua orang ikut menanggung dosa.

Solat jenazah berapa rokaat, Ji?

Heh?! Kagak ada roka'atnya keles. Adanya 4 takbir dan dilakukan hanya dengan berdiri.


  • Niat
Niat untuk jenazah laki-laki
Niat untuk jenazah perempuan
  • Takbirotul Ihrom. Lalu membaca Alfatihah.
  • Takbir. Baca solawat nabi.
  • Takbir lagi. Baca doa 1.
Jenazah perempuan
Jenazah laki-laki
  • Takbir terakhir. Baca doa 2.
Jenazah laki-laki
Jenazah perempuan
  • Salam lengkap.

Kok ada solat Goib-goib itu, solat jenazah juga kan?

Iya betul. Bedanya, solat Goib itu jenazahnya enggak kelihatan. Bukan jin atau sejenisnya ya. Maksudnya bisa jadi jenazahnya jauh atau jenazah tidak ketemu. Intinya tidak dilihat di depan mata gitu. Kita di Jawa lalu solat Goib buat korban Tsunami di Aceh ya boleh-boleh aja.

Setelah solat selesai, saatnya pemberangkatan jenazah menuju ke pemakaman. Dulu banget, jenazahnya dipikul, jalan kaki dan bener-bener pada gantian. Sekarang, dinaikin mobil. Ketika sampai di depan pemakaman, baru deh dipikul. Enggak jadi soal itu mah. Yang penting sampai.

Saat prosesi pemakaman, ada yang namanya talqin jenazah, adzanin ketika sudah diliang, tahlil dan beberapa hal yang saya kurang mengerti. Membaringkan jenazah bukan telentang ya, tapi miring di hadapkan kiblat. Ada juga bantalan bola tanahnya. Dan jangan lupa buka tali pocongnya.

Untuk proses solat dan pemakaman, saya hanya tahu teorinya belum mengikuti secara langsung. Umumnya yang nyolatin itu laki-laki. Dan saat di kuburan, perempuan itu lebih baik enggak ikut.

Parade Kematian belum benar-benar berakhir walau jenazah sudah dimakamkan. Di kampung saya ada tahlilan selama 7 hari penuh. Karena ada tiga tempat, sekali ba'da Magrib dan dua kali Ba'da Isya'. Muter aja orang-orangnya buat ikut mendoakan.

Tujuh hari usai, kadang keluarga masih bikin tahlilan sampai 40 hari. Mungkin tak sebanyak saat hari 1-7. Biasanya hanya kalangan keluarga terdekat saja.

Dan kalaupun di sana-sini ada yang ngatain tahlilan itu bid'ah karena enggak ada di jaman Rosul, kalau saya sih mikirnya mengirim doa untuk orang yang meninggal itu baik dan enggak ada salahnya. Diterima atau tidak, itu urusan belakang. Toh saat berbuat baik itu sebenarnya untuk diri kita sendiri bukan untuk orang lain.

Hidup ini cuma sebentar. Padahal perjalanan kita untuk ke akhirat itu masih sangat-sangat jauh. Hidup yang cuma numpang minum ini gunakan dengan baik. Saat di sana kelak, kita tidak bisa mengandalkan orang lain. Ah jangan kan di sana, di dunia ini selayaknya jangan pernah mengandalkan orang lain. Kita harus berusaha mandiri.

Maut bisa datang kapan saja tanpa kita duga. Tapi doa saya, semoga kita diberi kesempatan untuk memperbayak perbekalan akhirat. Mau traveling aja nabung lama. Masa buat akhirat kita cuek saja?

Dan saat meninggal nanti, semoga kita diberi khusnul khotimah bukan hanya namanya, meninggalkan kenangan kebaikan macam Mas Toro Cumi Lebay. Tentunya kita enggak mau kan meninggal tak tenang dengan berbagai keburukan?!

Akhir kata, semoga keluarga, saudara, Bapak Ibu guru, teman, sahabat dan orang-orang yang memberi kebaikan dan kita kenal yang lebih dahulu berpulang bisa dilapangkan kuburnya, terang dan jauh dari siksanya. Kirim doa Alfatihah yuk!

Sampai jumpa dan tetap tebar kebaikan ya!

You Might Also Like

19 komentar

  1. MAkasih sharingna Mbak. Jadi ingat kematian. HArus lebih banyak melakukan kebaikan2 lagi. Amin. AKu follow, folbek ya Mbak :)

    ReplyDelete
  2. Setiap ada kematian, saya suka merinding, kapankah waktu kematian saya akan tiba? Duh bekal apa saja yang sudah saya persiapkan.

    ReplyDelete
  3. takut, tapi bisa jadi pengingat ya

    ReplyDelete
  4. Makasih sudah diingatkan ya, Ji. Kadang saking asiknya dengan urusan duniawi, urusan akhiratnya lupa.
    Semoga kita semua bisa khusnul khotimah, kelak

    ReplyDelete
  5. Takut akan kematian pasti buat aku. Tapi perbanyak berbuat "baik" di dunia supaya lebih tenang saat menjalani. Saya selalu berdoa bagi yang telah tiada

    ReplyDelete
  6. Dulu sewaktu budhe saya meninggal, beberapa bulan kemudian ada keluarga yang menyusul. Itu beneran dalam sehari langsung 3 ya mba.. semoga arwahnya tenang di sisiNya

    ReplyDelete
  7. trims sharingnya. Kalau kita ikut sholat jenazah/goib, bisa ngga untuk doa nya ngga kita baca, tapi niatkan ngikut imam karena Allah. Jadi ikut hati nya mendoakan karena ga hafal doa yang hrs dibaca ? (Selain solawat dan al fatihah di takbir 2 dan 1)

    ReplyDelete
  8. tak ada yang tau kita mati kapan :"(

    ReplyDelete
  9. KOK SEREM BANGET INI POSTINGAN. KUSEDIH.

    ReplyDelete
  10. Sekiranya tulisan ini mengingatkan saya akn kematian, bahwa sekiranya panjang pendeknya umur seseorang itu hanya Tuhan yang tahu

    ReplyDelete
  11. Mba aku baru tau kalo jenazah cwe muslim dibedakin juga.
    Usia memang rahasia alloh, tugas kita buat nyiapin bekal terbaik.
    Yaa alloh semoga kita semua khusnul khotimah. Aamiin

    ReplyDelete
  12. Kalau kata Mbah Sudjiwo Tejo, mengucapkan "turut berduka cita" ketika ada orang meninggal itu kurang tepat. Karena membuat orang yang masih hidup jadi takut mati dan makin cinta dunia. Nice share, jadi pengingat bagi kita yang masih punya kesempatan =)

    ReplyDelete
  13. Halo, Mbak Jiah. Aku gak baca sampai habis artikel ini. Hanya separuhnya. Tetiba ingat kakak yang baru meninggal Januari lalu, kemudian sedih. Ingat beliau. Ingat bagaimana gak akurnya kami ketika masih sama-sama ada di dunia. Baca ini kok jadi ngerasa kehilangan sekali. Hehe. Maaf jadi curhat.

    ReplyDelete
  14. Karena kebetulan aku orangnya penakut baca ini jadi Serem banget, Jiah. Turut berduka cita untuk yang ditinggalkan, ya. AL Fatihah.

    ReplyDelete
  15. Kenapa aku baca ini malem-malem sendirian pula. Jadi bayangin aneh-aneh. >.<

    Oiya, di tempatku ada mitos. Kalau pintu rumah ada yang ngetuk, diintip dulu dari jendela. Siapa yang ngetuk itu tadi. Karena kalau pintu langsung dibuka, ternyata enggak ada siapa2, bisa jadi itu roh yang akan menjemput salah satu nyawa di rumah itu.

    Hiiii... serem ahh..

    ReplyDelete
  16. terima kasih ya mbak sudah mengingatkan saya melalui tulisan ini, saya menjadi sadar bahwa hidup di dunia ini hanya sementara dan hidup yang abadi yaitu di alam akhirat nanti. Semoga kita semua wafat dalam keadaan khusnul khotimah ya mbak

    ReplyDelete
  17. Karena biasanya Mbak Jiah menuliskan tentang budaya dan kearifan lokal. Saya pikir, dengan membaca judulnya saja, ini benar-benar sebuah parade.

    Ternyata, sebuah 'panduan' untuk kita yang masih hidup menghadapi seseorang yang berpulang duluan. Terima kasih untuk pelajaran yang bermanfaat.

    Jleb juga baca malem2 begini.

    ReplyDelete
  18. Tertarik sama sholat gaib. Itu memang ada sih ternyata jd kaya sesosok jasad yang sudah mati ada yang berdatangan untuk melakukan sholat dan itu real nyata walau tak bisa dilihat dengan mata telanjang
    Ada beberapa amalan yg bisa untuk melihatnya.

    ReplyDelete
  19. Daerah rumah juga pernah mengalami saat dimana dalam seminggu ada 5-6 orang yang meninggal dunia :'
    Semoga kematian di sekitar bisa menjadi pengingat bahwa kita ini hanya sedang "menanti giliran".. Terima kasih banyak atas tulisannya, kak! :')

    ReplyDelete

IBX58325B871BB98