Jiah My Id

The Power of Anak Kampung

Powered by Blogger.

Bunga Gunung




Bismillaahirrahmaanirrahiim....

Berlibur atau jalan-jalan rasanya kurang afdhol kalau pulang tidak bawa oleh-oleh. Jujur, saya kalau ada yang mengajak jalan, hayo asal punya uang :Uhuk. Waktu ke Bali akhir tahun 2013 (ceritanya di Bali Bukan Sekedar Mimpi) oleh-oleh yang saya beli standar. Saya kurang browsing di mana Pusat Oleh-Oleh. Pol beli pakaian, makanan, pernak pernik itu saja. Ah iya, saya mengambil pasir pantai Kuta juga :uhuk.

Beda saya beda juga si Kakak (Yang ultah Tanggal 1 Mei). Kakak suka jalan-jalan. Naik turun gunung, Keliling Jepara maupun luar oke-oke saja. Juni 2014 si Kakak mendaki ke Bromo. Bromo oi, saya kan iri!!! :jiah

Akhirnya saya minta si Kakak beli Edelweis bunga keabadian, katanya. Ya saya korban FTV dan novel yang ada hubungannya dengan Edelweis. Saya penasaran, apa benar edelweis itu bunga abadi? Jangan-jangan mitos saja. Apalagi bunga itu sekarang dilindungi.

Akhirnya waktu Kakak pulang, betulan bawa Edelweis. Huaaa terharuuuu :hwa :hiks. Edelweisnya masih segar, bentuk beruang lagi.



Rasanya senang sekali bisa punya bunga ini walaupun akhirnya saya tidak dapat jatah kaos Bromo :smile. Ya meskipun belum bisa mendaki Bromo, minimal saya nyicil dengan bunga Edelweisnya. Siapa tahu ketika akhirnya saya bisa ke Bromo ternyata pemerintah betulan melarang pengambilan bunga Edelweis :uhuk.

Sekarang sudah hampir satu tahun dan bunga edelweisnya masih saya simpan. Bunganya kering, warnanya berubah krem, tidak rontok lagi. Bagian yang agak rontok itu bunga liarnya. Dilihat dari jauh tetap saja indah :hepi. Sekalian saja saya foto lagi dengan novel Sunrise at The Sunsetnya Mbak Monica Anggen yang juga menampilkan bunga edelweis di dalam ceritanya.


Thanks Kak buat bunganya :smile. Yang berkesan itu tak perlu mahal. Semoga persaudaraan kita abadi sampai nanti ya :Smile.


[Birthday Giveaway] Oleh – Oleh Paling Berkesan

Lilin Untukmu

Bismillaahirrahmaanirrahiim....

***

"Aaaaa!!!"

Aku menjerit, setengah ketakutan. Kenapa harus mati lampu? Hujan deras di luar. Petir dan guntur bersahutan. Kupeluk tubuhku sambil terisak. Kupejamkan mata berharap kegelapan segera sirna.

"Hei, buka matamu! Jangan menangis!"

Kubuka mata. Cahaya lilin tampak di sana. Kulihat Mas Arya, suamiku tersenyum kecil.

"Masih takut gelap? Kupikir setelah dewasa kamu bisa bersahabat dengan kegelapan," katanya mencibir.

"Lebih baik aku bersahabat seumur hidup denganmu daripada sama kegelapan!"

"Dalam gelap kita bisa melihat terang, tapi dalam terang kita tidak bisa melihat kegelapan. Belajarlah untuk bersahabat denganya."

"Tidak mau! Pokoknya aku benci gelap!"

Mas Arya memelukku, menenangkanku yang sedikit merajuk. Mata hitamnya menatapku lekat.

"Aku akan jadi lilin untukmu, menerangi kegelapanmu!"

***

"Sayang! Bisa minta tolong sebentar?"

Bergegas aku ke kamar. Mas Arya berdiri membelakangi kaca rias.

"Bagaimana penampilan Mas? Baju yang Mas pilih padu apa tidak?"

Aku menilai baju dan celana yang Mas Arya pilih. Semua pas. Aku memasangkan dasi sebagai pelengkap. Setelah 50 tahun, dia tetap sempurna. Aku membalikkan tubuh Mas Arya agar menghadap kaca.

"Coba Mas li..., hat!"

Sinar mata hitam di kaca itu tampak meredup. Cairan bening menetes dari keduanya lalu mata itu terpejam.

"Hei, buka matamu! Jangan menangis!"

Aku memejamkan mata. Rapat semakin rapat. Terisak sesak.

"Maafkan aku Mas. Maaf karena membuat kegelapan di matamu."

"Hei, tak apa. Bukankah kita sahabat selamanya?"

***

#Cermat @PenerbitMizan #CintaPalingSetia

C > Cukup?

Bismillaahirrahmaanirrahiim....

***

"Kapan nyusul?"

Aku menggaruk tengkukku yang tidak gatal. Bosan sekali mendengar pertanyaan itu setiap kali datang ke acara pernikahan. Ini pertanyaan atau sindiran? Memang menikah itu gampang? Apa modal cinta, C > cukup?

"Segera!" jawabku asal.

Mata si mempelai perempuan berbinar disambut gelak tawa si mempelai laki-laki.

"Gua pikir lu homo! Mau juga lu kawin, hahaha!" kata si mempelai lelaki sambil tergelak.

Awas saja kau!

***

"Gila lu! Pulang sono! Sialan lu, Bro!"

Si mempelai laki-laki uring-uringan sambil memakai sarungnya sementara si perempuan malu-malu bersembunyi di belakang suaminya.

"Lu tanya kapan nyusul? Gua nyusul, malah disuruh pulang! Lu gimana sih!"

"Gila!!!" jawabnya murka.

Pintu kamar tertutup. Ah sayang tidak bisa live malam pertama, hahaha!

***

Notes:
Bosan, saudara menikah dan ditanya, kapan nyusul? Apa lagi hari ini Om saya (Seusia Kakak yang kemarin ultah 1 Mei) nikah sama teman saya.

Ide FF absurd ini dari status, Hasan. Teman sekolah,

"Datang ke nikahan teman, ditanya nyusul kpn? Kemudian kususul ke kamarnya, malah dipergoki lakinya!
‪#pamit_pulang"

Status FB