Wednesday, 15 February 2012

Rumahku, Itu Kamu

Ini lanjutannya, Ruang Hati

"Aku mencintaimu," Ucapku

Seharusnya itu yang ku katakan sejak dua tahun yang lalu. Tapi apa daya, saat itu aku belum mampu mengucapkannya. Dan detik ini ketika aku mengatakannya, kau malah tidak bereaksi apa-apa.

"Aku ngantuk dan ingin tidur. Jangan membangunkanku sebelum sampai di Jogja," Ucapmu

Bodoh!!! Aku memang bodoh. Kenapa aku tidak melihat situasi yang ada? Ini bukan hal romantis yang selalu kau inginkan. Aku memang suami yang payah. Dinda, maafkan aku. Lalu sekarang, apa yang harus ku lakukan? Aku bertahan karena wasiat ayahmu dan rasa ini, cinta sederhana untukmu. Dinda, aku mencintaimu, tapi untuk mengucapkan itu bibirku terasa kelu.

Aku melajukan mobil dan kau tertidur manis dipundakku. Aku yakin, jika kau sadar pasti akan marah dan menjauh dariku. Ku ambil kertas usang yang ada disaku kemejaku. Ku baca satu demi satu, kata yang tertulis di kertas merah muda itu.

Aku Mencintaimu Dengan Sederhana
Cinta sederhana
Seperti kata yang tak pernah dijabarkan oleh para pujangga
Aku Mencintaimu Dengan Sederhana
Seperti ombak pada lautan yang menggulungnya entah kemana
....

Ku baca sampai kata terakhir dan kulipat lagi kertas itu. Rangkaian kata yang ku buat sehari setelah kita sah menikah. Saat itu, aku yakin rumahku, itu kamu.

Kini setelah setahun kita menikah, seharusnya aku selalu mengucapkan kata cinta untukmu bukan menggantungkan perasaanmu. Maaf karena pernah mempermalukanmu. Itu dulu, bisakah kau melupakannya? Inilah pengakuanku, saat ini aku selalu yakin. Aku akan mengantarmu pulang ke rumah kita.  Karena yang ku tahu rumahku, itu kamu tidak ada yang lain.

****

"Dinda, jangan menangis ..." Bisikku

"Kau gila? Mana mungkin aku tidak menangis? Apa yang telah kau lakukan? Apa kau tidak lihat keadaanmu sekarang?" Ucap Dinda keras dan masih terisak

"Sudahlah.... Aku tak pantas kau tangisi. Yang harus kau tahu, aku senang melihatmu baik-baik saja. Maafkan aku karena sering membuatku marah. Sabarlah... rumahkku, itu kamu. Aku akan kembali...."

Aku mulai lelah. Ku pejamkan mata sejenak, menahan kesakitan yang ada. Sepertinya darah mengalir dari otakku. Aku masih mendengar suara Dinda yang memanggil dan mencoba membangunkanku. Dinda, mataku berat jadi biarkan aku tidur sejenak.

Dinda masih menggoyangkan badanku disamping mobil yang ringsek akibat tabrakan itu. Ya Tuhan, sabarkanlah istriku. Aku akan kembali membawa kata cinta untuknya. Tentunya itu atas kehendak Mu, bukan kehendakku.

"Yudha, tunggu dulu. Cepat buka matamu, aku mohon...." Pinta Dinda

Aku mengiba, Tuhan berikan aku kesempatan sekali ini. Aku ingin mendengar kata-katanya. Mungkin saja itu kata terakhir untukku. Tuhan, aku mohon ....

Perlahan, aku mulai bisa membuka mataku. Pelan-pelan wajah Dinda terlihat jelas, dia masih saja cantik. Ah apa-apan aku ini.

"Dinda, apa yang ingin kau katakan?" Ucapku lirih

"Jangan mati sekarang,"

"Kenapa kau tak ingin aku mati? Apa ini berarti aku masih punya kesempatan lagi? Apa kau telah memaafkanku? Apa kau juga mencintaiku?"

"Kau bicara apa? Cinta? Kau masih berhutang banyak padaku, jadi jangan mati sekarang. Skripsiku belum selesai, nanti siapa yang akan menjadi pembimbingku? Aku tidak mau berdiri sendiri saat wisuda. Kau pikir jadi janda kembang enak?"

"Dinda, aku mencintaimu"

Ya Tuhan, akhirnya aku bisa mengucapkannya. Kami berpelukan erat, aku tak mau melepaskannya.

NB : Masih ada yang ganjel??? hehehe 
          Cuma fiktif, jangan percaya :D

32 comments:

  1. aku juga mecintaimu yudaaaaaa....hahahaha
    gemeesssss,,, liat dinda :p

    ReplyDelete
  2. pernah baca atau denger kisah akhwat gorontalo g?

    kalau belum silahkan dicari aja di google "akhwat gorontalo"

    asyik banget tuh

    ReplyDelete
  3. cerpen jia punya prospek nih, jangan segan jia... obrak-abrik blog, kumpulin cerpen jiah. tawarin ke penerbit, atau test dulu di media lokal. Soalnya maknyus nih...... sayang kalau hanya ditulis saja

    ReplyDelete
    Replies
    1. heheh~
      masak iya mb'???

      ini baru belajar,, :D

      Delete
    2. jia coba dulu ya.... nunggu 3 bulan kalau GP atau coba DIVA PRESS, sambil nunggu kan masih bisa buat cerita yang lebih yahut

      Delete
  4. iihh keren banget deyh mbak jiah.... :D

    ReplyDelete
  5. kirain kisah nyata ternyata fiktif hehehe.

    ReplyDelete
  6. Emang dulu ada masalah apa yuda sama dinda?

    ReplyDelete
    Replies
    1. wah~
      saya juga ngga tau,, saya ngga mau ngurusin masalah mereka :D

      Delete
  7. aku mencintaimu dengan sederhana, sesederhana kamu saat mengenal ku.. #eh..

    ReplyDelete
  8. Jiaah,,, selamat ya kamyu jadi pemenang di tempatnya Mbak Maya. Saya juga ikut senang loh *bo'ong* :p

    Traktir2... Duren Njeporo

    Eh, avatarmu koq ganti... :(

    ReplyDelete
    Replies
    1. makasih, udah boong #eh :D

      mau duren, tunggu kalo aq udah doyan :D

      Delete
  9. wah... aku nonton dulu untuk sementara :D
    Masih bingung, mungkin karena blm baca yg sebelumnya... :D

    ReplyDelete
  10. Kenapa gak dikatakan langsung saja sejak dulu he he

    ReplyDelete
  11. rajin banget neng satu ini bikin fiksi, ikutan lomba terbaru leutika aja neng.. :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. wah~

      belum punya banyak cerpen mb' Dhe.... :D

      Delete
  12. Janda kembang yg masih kuliah, y urus sendirilah skripsinya,. :D
    "Skripsiku blum selesai, nanti siapa yg akan membimbungku", ini percakapan dosen sama mahasiswanya ya? hehe

    ReplyDelete
  13. seruuuuu!!!!
    ngomong cinta segitu susahnya ya =P

    ReplyDelete
  14. janganlah menangis. . .terkadang cinta itu sadis
    dan janganlah marah. . .terkadang cinta bikin susah

    :D

    ReplyDelete

Mana jejak tulisanmu?