May Camp, Camping di Pulau Panjang

February 18, 2017

Bismilllaahirrahmaanirrahiim....

May Camp, Camping di Pulau Panjang. Cerita ini sebenarnya sudah lama, hampir satu tahun. Tapi tetap saja, ada kenangan di sana. Berkemah di pinggir pantai adalah mimpi saya yang jadi kenyataan. Kalian pernah mimpi seperti itu juga?

Sebuah kiriman dibagikan oleh Jiah Al Jafara (@jiahjava) pada



May Camp ini digagas oleh para admin Forum Lintas Komunitas. Setelah persiapan ini itu, akhirnya Sabtu sore 28 Mei kita jalan ke Pulau Panjang. Kami akan menginap dan di Minggu 29 Mei baru deh kita pulang.

Sore hari sekitar pukul 3, banyak yang sudah bersiap untuk nyeberang. Saya sendiri pukul setengah 5 baru sampai. Jam lima, kloter 2 bersiap naik perahu. Untuk ke Pulau Panjang kita bisa lewat Pantai Kartini dengan membayar 15-20 ribu perorang, pulang pergi. Tapi kali ini kami lewat bawah jembatan cinta, pakai perahu nelayan. Jangan sampai salah ikut perahunya yah. Dan ketika adzan Magrib, kami berangkat. Gila deh!


Naik perahu itu..., meski bukan pertama kali tetap saja saya ngeri. Ombaknya tidak besar, dan sayangnya tidak ada pelampung. Saya tidak bisa berenang! Ah tapi jika lewat penyeberangan resmi, pelampung pasti ada. Akhirnya saya malah meluk anaknya yang punya kapal, hahaha.

Sebelum Magrib usai, kami sampai. Tenda untuk ngecamp sudah berdiri di pinggir pantai. Suasana remang-remang, buru-buru deh nyari mushola buat solat. Emang ada?!

Ada dong! Pulau Panjang itu salah satu pulau yang ada di Jepara. Naik perahu sekitar 30 menitan. Orang sering ke sana untuk ziarah. Penghuninya enggak banyak. Mungkin mereka hanya tinggal untuk berdagang makanan, baju, pernak-pernik atau menyewakan alat selam. Saat itu, saya kurang berinteraksi dengan mereka.


Setelah solat Magrib, saya mencari teman-teman untuk bertanya bagaimana acara kelanjutannya. Pertama saya kenalan sama anggota Ngglidik dari Pati. Ngobrol gaje sambil numpang makan, hehehe. Baru deh nemuin Mbak Sita, salah satu panitianya. Isya' kloter ke 3 baru mendarat. Bisa dipastikan acara yang tersusun akan molor.

Saya tidak tahu bagaimana koordinasi yang seharusnya. Banyak yang tidak kebagian tenda. Untuk konsumsi juga katanya mengecewakan. Saya tidak ambil pusing, ikut duduk bersama anak-anak Pokerman juga bisa. Gilanya mereka bawa laptop. Panitia juga bawa layar gedhe. Katanya buat nonton bola saat dini hari. Kenapa tidak bawa rak tv minimalis sekalian aja ya?!

Jam 9 lebih acara baru dimulai. Ada beberapa orang yang stand up comedy. Lalu ada grup Reggae Rastasky. Saat itu saya belum suka jenis musik ini. Aneh rasanya. Daripada dengerin, saya malah ngobrol dengan salah satu peserta dari Jakarta. Namanya Vian, dia traveler. Dia juga beberapa kali buat film dokumenter. Akhirnya kami dan yang lain terlibat dalam percapakan seru tentang film, dunia menulis, bahkan artis.


Menjelang tengah malam, akhirnya acara diakhiri. Kami bersiap untuk tidur walaupun belum bisa lelap. Tadinya saya dan Mbak Ani mau tidur beratap langit malam. Bintangnya tak banyak dan enggak ada hujan. Akhirnya kami dapat pinjaman tenda dan bobok berdua, benar-benar dipinggir pantai.

Setengah lima saya sudah terbangun. Angin semilir dengan suara ombak bikin tambah adem. Bersiap membersihkan diri, solat dan berburu sunrise.


Saat berburu, sudah banyak yang mulai bangun. Kami berdiri menanti di sebelah timur. Matahari perlahan muncul, remang mulai hilang. Indah..., karena kamu mungkin juga melihatnya #Eh.

Aktifitas pagi, gerakan pungut sampah. Sayangnya, masih banyak yang belum tergerak. Mungkin karena mereka lapar, entah. Sebelum semua berakhir, sebagian peserta mengikuti info seputar jurnalis dari Net TV. Harusnya acaranya saat malam, tapi ya jam molor jadi digeser pagi.


Tadinya saya mau ikutan, tapi akhirnya bantuin Mbak Sita beresin tenda-tenda. Setelah itu kami jalan-jalan sebentar enggak sampai ngelilingi Pulau Panjang. Setelah itu kami bersiap menunggu perahu dan pulang.

Sebuah kiriman dibagikan oleh Jiah Al Jafara (@jiahjava) pada

Banyak banget catatan May Camp untuk panitianya. Saya tahu, ngurusin orang mungkin 100 lebih itu tidak mudah. Buat saya pribadi, bisa kemping di pinggir pantai itu cukup menyenangkan. Sebelas dua belas kaya ngecamp di gunung. Saat di puncak kita harus turun, jika di pantai kita nyeberang laut.

Semoga lain waktu kita bisa ngecamp, menatap hujan meteor hanya berdua. Semoga saja, hehehe.

Sebuah kiriman dibagikan oleh Jiah Al Jafara (@jiahjava) pada


Kalian sudah pernah kemping dipinggir laut? Share yuk! Sampai jumpa. Happy Blogging!


You Might Also Like

10 komentar

  1. Jadi kangen mulung sampah. ;) Asyik ya acaranya. Aku udah jarang kumpul2 gini. Ffufu

    ReplyDelete
  2. kalo ngumpul2 gini,,, sedikit melupakan beban hidup hihihi

    ReplyDelete
  3. wow asyik tenan iki, penasaran jadinya dg pulau panjang

    ReplyDelete
  4. Seru ya mbak... Pengen bisa nginep di alam bebas gini. Kmrn pas di pantai kartini..kok loket yang jual tiket ke p panjang nggak ada yang jaga ya mbak? Lg an anak2 blm pd berani naek perahu... *dilema emak berbalita

    ReplyDelete
  5. apa rasanya ya camping di pinggir pantai
    berisik suara ombak nggak Jiah?

    ReplyDelete
  6. semoga di tahun 2017 bisa ke pulau panjang. amin

    ReplyDelete
  7. hayo kapan ketemuan ma aku. hayo... kapan ke semarang

    ReplyDelete
  8. jalan bareng mentemen itu selaalu nyenengin emang
    jiah kayaknya sering jalan2 ya ;)

    ReplyDelete
  9. Jepara pantainya memang bagus-bagus, pengen kesini juga, baru ke pantai bandengan aja nih

    ReplyDelete
  10. Serunya mba emang jalan bareng sama fren itu suka asik dan menghibur :)

    ReplyDelete

IBX58325B871BB98