Merindu Di Puncak Gunung Prau

April 05, 2018

Bismillaahirrahmaanirrahiim.... 

Merindu Di Puncak Gunung Prau, tepatnya saya rindu mbolang dan naik gunung!!!


Hampir dua tahun saya cuti naik gunung nih. Mbolangnya kadang masih tapi pakai perjalanan cantik bukan yang harus banyakin jalan kaki. Jadi memang sangat wajar jika berat badan saya perlahan naik, hehehe. 


Cerita perjalanan saya ke Gunung Prau, Dieng terjadi awal September 2016. Udah lama banget dan ya akhirnya saya mau cerita juga. Habisnya saya agak malu, wakakaka. 

Mbolang ke gunung ini bukan pertama kalinya bagi saya. Dulu pernah ke Gunung Andong Magelang 1726 Mdpl. Nah sekarang sedikit naik pangkat ke Gunung Prau 2590 Mdpl. 

Sabtu, 3 September 2016 pukul setengah enam pagi, saya dan kakak sudah bersiap. Kami janjian bersama teman lain di Ngabul sekalian beli Horog-horog yang merupakan makanan khas Jepara buat perbekalan. Setelah siap, kami bergegas menuju Dieng, Wonosobo.

Apa kami ngegas terus? Tentu saja tidak. Kami sempat berhenti di Semarang lalu lewat Bandungan. Di daerah kami sempat terpisah gara-gara ambil jalan yang berbeda. Gas tipis-tipis akhirnya kami berjumpa lagi. Tak lupa cek bensin juga di beberapa SPBU. 

Di Kledung Rest Area kami bersembilan berhenti dan makan bekal bersama sambil nunggu dua teman lain yang lewat jalan berbeda. Di tugu selamat datang di Dieng juga kami berhenti buat foto-foto dan cek ini itu. Lalu gas lagi deh sampai basecamp

Kami memutuskan untuk lewat jalur Dieng daripada Patak Banteng. Sebelum naik, kita solat dulu, makan seperlunya, daftar ke petugas dan tidak lupa berdoa untuk keselamatan kami semua. Dieng saat itu begitu dingin ditambah gerimis syahdu.


Sekitar setengah empat sore kami mulai perjalanan. Saya perempuan sendiri dan berjalan dengan 10 laki-laki. Ya jelas saya hanya membawa barang pribadi dan badan. Segala hal yang berat ditanggung oleh para lelaki, hihihi.


Ke Gunung Prau lewat Dieng ini asli panjang. Tapi menurut saya jalannya masih standar seperti ketika main di sawah. Nanjaknya tidak separah saat di Gunung Andong. Sesekali kami berhenti sambil melihat alam sekitar. Dingin? Iya, tapi tidak lagi gerimis. 

Untuk ke Prau ini, persiapan saya lumayan bagus tidak seperti saat ke Andong. Mulai dari: 

  • Kondisi badan. Walaupun beberapa hari sebelumnya terserang flu, semua cukup oke. Kaki saya cukup terlatih karena sempat naik ke Candi Angin dan tiap hari juga olahraga kaki. 
  • Perbekalan makanan lebih matang. Enggak sampai bawa banyak air dari rumah. Hanya bawa botol pribadi. Selebihnya para cowok yang beli air ketika sampai di lokasi.

  • Pakai sandal gunung dan kaos kaki. Kemarin-kemarin bawa sandal jepit, licin bok! Itu kaos bantu kaki tetap bersih. 
  • Bawa madu sachet untuk mengurangi konsumsi air. Ketika di Andong saya sempat bawa gula merah. Di makan selama nanjak malah di mulut enggak nyaman. Kali ini ganti pakai madu dan ternyata lebih oke. 
  • Lebih bisa nahan pipis. Kalau naik gunung memang mau enggak mau kudu nahan. Kalau mau buang air kecil harus di saat dan tempat yang tepat. 
  • Bawa sleeping bag buat tidur. 

Adzan Magrib mulai berkumandang. Kondisi jalan gelap. Yang bawa senter mulai dinyalain. Gerimis juga mulai turun. Dingin makin menjadi. Kami tetap berjalan beriringan. Untungnya sudah mulai dekat dengan Bukit Teletubis. 

Sebelum Isya' kami naik ke salah satu bukit. Para pria bersiap mendirikan tenda masing-masing. Beberapa teman memang menyarankan untuk tinggal di bukit saja daripada di camp area. Di sana pasti penuh sesak. 

Setelah tenda berdiri, kami mulai berapikan barang-barang bawaan. Di dalam tenda saya bersama Kakak dan satu orang teman. Setelah solat, saya minum obat flu dan berharap bisa tidur nyenyak. Mau lihat keluar juga tidak bisa karena hujan makin deras. Tidak ada sinyal juga sih. 

Udara semakin dingin. Jaket dan jilbab saya basah. Untung Kakak bawa jaket dua. Jadi yang satu saya pakai. Masuk sleeping bag ternyata masih juga dingin. Saya bisa tahan beberapa saat dan terlelap sebentar. Lalu sesak itu mulai datang. Semakin sesak dan dingin. Saya tidak bisa bernapas dengan baik. Tak terpikirkan buat menangis. Saya butuh oksigen!!! 

Kakak saya sedikit panik. Saya seperti terserang asma padahal tidak menderita itu. Lalu Kakak mulai membuka tenda dan saya mengeluarkan kepala. Perlahan sesak itu hilang. Dan kami bisa kembali tidur. 

Jujur, saya tidak memprediksi akan adanya sesak napas. Biasanya setelah minum obat flu, saya akan ngantuk. Eh ini malah kehabisan oksigen di dalam tenda. Mungkin karena cuaca sehingga oksigen di sana menipis. Dan ternyata teman lain ada yang mengalami hal serupa. Alhamdulillah semuanya baik-baik saja.


Subuh mulai datang. Sebenarnya sedikit putus asa karena mendung. Mungkin sunrisenya akan terlewat seperti saat di Andong. Tapi untungnya Matahari perlahan muncul. Mungkin sekadarnya, tapi cukup mengobati rindu. Kami berlomba dan menikmati momen indah ini. 

Hari semakin terang. Ternyata ramai sekali di camp area. Di bukit Teletubis juga beberapa tenda berdiri. Kami mulai saling menyapa dengan pendaki lain. 

Berbagai macam usia ada di sana bahkan anak-anak dan balita. Beberapa asyik bercengkrama, ada yang membuat sarapan, ada yang main, bahkan ada yang membuat foto prewed di sana lengkap dengan gaun pengantin. Duh, itu kok niat amat ya, hahaha. 

Setelah sarapan, beres-beres dan membersihkan bekas tempat tenda, kami bersiap untuk pulang. Pukul 9 pagi kami turun. Jalanan sedikit becek dan basah bekas hujan. Tapi kami bahagia karena bisa mendaki Gunung Prau. 

Di perjalanan sesekali kami juga berhenti istirahat. Pendaki lain juga ada yang mulai turun. Satu dua orang ada yang baru naik. 

Sambil melihat sekitar, kami menemukan banyak pohon pinus. Ada juga sejenis buah Berry. Dari pengalaman teman, sebaiknya kita memang tidak mengambil apa yang ada di alam. Dasar mereka bandel, ada 3 orang dari kami yang nyobain buah Berry sambil jalan. Dan kami terpisah karena saya dan Kakak masih istirahat. 

Kami terus berjalan melewati pos demi pos. Dan pemukiman mulai terlihat dari jauh. Perkebunan juga. Sayur yang ditanam sangat menggiurkan. Ada juga Carica dan Terong Belanda di sana. Rasanya mungkin membahagiakan saat bisa bertaman seperti itu.


Sampai di basecamp, kabar kurang sedap muncul. Beberapa teman kami belum kelihatan dan kemungkinan kesasar. Hawatir? Iya. Bagaimana pun kita pergi dan harus pulang bersama. 

Sambil menunggu, kami juga laporan ke petugas. Alhamdulillah setelah beberapa saat mereka muncul tanpa kurang suatu apa pun. Entah sengaja atau tidak, ketiganya itu ya yang makan buah jenis Berry. Enggak ada cerita mistis, cuma katanya seperti salah jalur.

Well setelah semua oke, kami pulang. Tak lupa membeli beberapa oleh-oleh Carica olahan. Saya juga dapat titipan Carica buah sama Terong Belanda dan dapatnya 5 Kg. Pengen ketawa jadinya. 

Setelah dua tahun dari Prau, ingin rasanya saya kembali mendaki. Kalau bisa sih ke Gunung Rinjani, Lombok, Nusa Tenggara Barat sana. Alasannya sih mau sekalian main-main di Lombok. Gunung ini merupakan gunung berapi kedua tertinggi di Indonesia dengan ketinggian 3.726 Mdpl. Ke sana juga enggak mudah. Jadi harus punya persiapan yang matang seperti:

  1. Teman jalan. Iya, itu Kakak saya yang biasanya bawain barang-barang sekarang sudah menikah. Kalau mau ngajak dia pasti mikir. Jadi sebelum berangkat kudu punya teman jalan. 
  2. Fisik yang oke. Dua tahun lalu berat badan saya tidak seperti sekarang. Maunya sih turunin dikit biar lebih enteng. Tak lupa olah raga, lemesin kaki juga. Kalau boleh ditambah naik gunung lagi dengan ketinggian di bawah Rinjani. Biar enggak kaget gitu. 
  3. Keuangan. Ini penting banget. Kalau enggak ada duit, siapa coba yang mau modalin? Harus rajin nabung buat beli Tiket Pesawat dan biaya perjalanan lain.


Sempat cari-cari situs online buat perjalanan dan termasuk Skyscanner. Sebuah situs yang gratis & jujur. Hemat waktu & uang dan juga situs travel terpercaya di seluruh dunia. Di sana kita bisa cek tiket pesawat, hotel, dan juga sewa mobil terbaik dan mudah juga. Kalau kita download aplikasi dan gabung newsletternya, kemungkinan buat dapat promo makin besar. Lumayan tuh jadi hemat ongkos. 

Buat persiapan juga, saya sempat intip perkiraan biaya pesawat sekali jalan. Mau bandingin enak terbang dari Semarang ke Lombok, Surabaya Lombok atau Bali Lombok. Untuk Tiket Pesawat Garuda Indonesia harganya beda tipis sih. Ini belum nyari promonya ya. Kalau dapat promo dan diskon, pasti lebih enak! Skyscanner lumayan buat rekomendasi.


Kalau ditanya, ngapain sih pindah tidur jauh-jauh sampai ke gunung atau daerah lain? Mungkin untuk kepuasan batin dan buat mensyukuri betapa indahnya karunia alam yang Tuhan ciptakan. Dan ya enggak ada salahnya kan kita mencoba hal baru dengan nai gunung? Tapi ingat, tetap jaga alamnya ya! 

Kalian suka naik gunung? Belum pernah mendaki dan mau coba? Share pendapat dan pengalaman kalian yuk! Sampai jumpa. Happy blogging!

You Might Also Like

26 komentar

  1. Aku terakhir manjat itu tahun 2006. Berat badan masih 60 kg entenglah ya dgn tinggi 163. Sebenarnya 2016 sempet kemping di gunung salak. Yang lain manjat aku Naik mobil haahah.

    Jadi kalau baca pengalaman Jiah. Aku kayanya melambaikan tangan deh. Soalnya beneran udah ga kuat lagi. Badan udah berat banget. Baca serunya dari sini Aja deh. Sambil bayangin kapan bisa manjat lg. Ga usah ke prau. Ke gunung yg dkt dkt Jakarta aja dulu

    ReplyDelete
  2. Keren mba, aku dr dulu lebih suka ke pantai drpd gunung. Karena ga sanggup mendaki nya itu. Fisiknya ga terlatih. Anyway.. Skyscanner oke juga ya

    ReplyDelete
  3. Pingin juga nih naik gunung, tapi gak ada temannya XD.

    ReplyDelete
  4. Aaah, naik ke puncak Prau, keren banget sih Jiah, kapan ya bisa ikut ngedaki, emak-emak mah udah rempong sama bocil

    ReplyDelete
  5. aku iri sama orang yang suka naik gunung, soalnya aku belum pernah. Gak ada yang ngajakin. Padahal, di tempatku dekat gunung juga...

    ReplyDelete
  6. keren bgt siiih mba anak gunung banget.. aku pengen deh sekali kali nyobain naik gunung. soalnya aku ini anak pantai wkwk maksudnya lebih menyukai pantai daripada gunung jadi mainnya pantai mulu. penasaran pengen mendaki gunung tapi belum kesampean

    ReplyDelete
  7. Wah gunung Prau ternyata tinggi juga ya.anyway itu mendaki sama temen-temen ya? Aku kalau bawa ransel Segede gaban gitu kayak nya jelas ga kuat,hehe

    ReplyDelete
  8. satu-satunya perempuan, ini mah namanya perempuan di sarang pendaki hehehheeee.......jujur aku belum pernah naik gunung mbak, cuapeknya itu lho. Kalau naik bukt dulu masih kecil sering

    *daripada ga sama sekali, bukit jadila :D

    ReplyDelete
  9. Selalu ngiri sama yang suka mendaki gunung. Aku pengen bangettt.. Pernah mendaki pas kegiatan Pramuka dulu aja, trus ke habis itu ke Bromo. Udah. Trus kapan yaaa emak-emak rempong gini bisa mendaki? Hihihi..
    *ini malah curhat :D

    ReplyDelete
  10. selalu iri dengan cewek yang bisa daki gunung
    daki gunung adalah impian sy yg blm terwujud
    mau nyoba daki di usia sekarang ga mungkin lagi
    kaki aja udah kena saraf kejepit..sering sakit hiks

    selagi masih muda ayo terus berpetualang ya jiah
    manfaatkan masa mudanya dengan penuh pengalaman

    ReplyDelete
  11. Yoi mbak, mendaki gunung itu ga cuma sekedar mendaki saja. Kita bsa belajar, relaksasi, melatih ketahanan tubuh, spiritual dan lain-lain.

    ReplyDelete
  12. Belum pernah naik gunung...., Seru ya bisa rame2 gini..
    Udah lama..perginya ya..karena ada foto masih bisa menceritakan kronologis nya..😂

    ReplyDelete
  13. Memori yang tak akan terlupakan ya Mbak Jiah,
    apalagi ditemani 10 lelaki,
    Plus lagi bisa menikmati pemandangan alam pegunungan praunya ^_^

    Ku pernah sekali daki gunung, stlah itu blum pernah samsek lagi heee

    ReplyDelete
  14. Memang paling asyik kalau naik gunung bareng para lelaki. Barang bawaan yang berat, mereka yang bawa hihihi...
    Kemarin anak saya ngajakin ke Gunung Prau, tapi masih kerasa pegelnya naik ke Puncak Ciremai. Jadi nanti dulu deh hehehe

    ReplyDelete
  15. Kamu keren banget sih Ji, naik gunung gitu. Aku kepengen banget naik gunung gak kesampean. Huhuhu....seumurku gini, bisa gak yaa

    ReplyDelete
  16. Pengen juga naik gunuuuungg

    EH skyscanner asli lho bagus banget, nemu maskapai murah dan oke pertama kali pakai skyscanner

    ReplyDelete
  17. seru banget Jiah, aku udah lama juga engga mendaki, sejak 4 tahun yang lalu. kalau sekarang kayaknya udah berat banget untuk mendaki gunung yang tinggi. berat di badan, hahaha

    ReplyDelete
  18. Berarti oksigen wajib ada nih ya di kotak P3K saat mendaki gunung.
    Wah ada bonus bisa liat perkebunan jg yaaaa.
    Saya dah lama gk melakukan aktivitas naik gunung, kyknya skrng naik tangga stasiun aja dah ngos2an hehe. Tapi pengen deh naik gunung lg...

    ReplyDelete
  19. Aku pernah sekali ke gunung prau tapi cuacanya pas lagi buruk jadi ya pas sore udah dingin, malam juga super dingin sampe nafas aja susah, dan paginya masih berkabut huhuhu sedih.

    ReplyDelete
  20. anak2ku suka banget main di alam. terutama di gunung dan pantai. terima kasih untuk sharingnya ya mba :)

    ReplyDelete
  21. Aku....emm, termasuk yang gak pernah naik gunung.
    Awalnya karena sering dilarang sama Ibu, lama-lama...kalau diajak sekarang, jadi gak gampang berani dan ujung-ujungnya pas naik, malah ngos-ngosan, asa gak kuat dan maunya putus asa aja...
    Heuu...cemen bangeett aku jiaah..

    ReplyDelete
  22. Saya pun pernah mengalami kondisi kritis, tapi bukan sesak napas. Yg saya alami ombak tinggi saat travelling. Nggak terlupakan sampai sekarang. Rasanya ya Allah...

    ReplyDelete
  23. Baca beginian, malah bikin saya tertantang kembali menaklukkan puncak gunung. Serunya!
    Terima kasih atas rekomendasinya ya ka.

    ReplyDelete
  24. Aku kalau disuruh naik gunung pasti nyerah deh hehehehe. Apalagi sekarang, makin berasa jompo kalau disuruh naik-naik ke gunung. Bukit aja ngos2an hehehe

    ReplyDelete
  25. Kereeeeeeen.....like kartini zaman now nih. Ayo mbak, kapan naik gunung lagi (ditungu lho postingannya lagi) heheee

    ReplyDelete
  26. Gunung prau rame banget kalo pas lagi hari libur.. Jadi susah kalo mau buang air kecil hahaha...
    Makasih sharenya..
    Jangan lupa mampir ke Gunung penanggungan :)

    ReplyDelete