Jiah My Id

The Power of Anak Kampung

Powered by Blogger.

Puasa Gawai

Siapa yang suka merasa berdosa karena mengenalkan anaknya pada gawai?

Zaman serba teknologi dan hampir semua orang memakai gawai termasuk anak-anak. Ini juga terjadi pada saya dan Keponakan. Awalnya sok-sokan mau terbebas dari perangkat canggih ini. Apalah daya, saya belum bisa melakukannya.

permainan melatih kemampuan kognitif anak

Meski tahu bahwa menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), anak di bawah usia 2 tahun sebaiknya enggak memakai gadget, tapi saya malah memberikannya. Awalnya niat saya itu untuk mengenalkan Keponakan pada lagu-lagu. Soalnya cape banget harus nyanyi sepanjang main sama dia. Jadi saya pikir dengan adanya gawai akan sedikit membantu. Lumayan kalau bisa meningkatkan kemampuan kognitif anak.

Ada yang belum tahu apa itu kemampuan kognitif

Kemampuan kognitif adalah proses manusia menerima makna pengetahuan dari pengalaman atau informasi. Memang kemampuan ini berasal dari syaraf, tapi tetap harus distimulasi. Soalnya ini dibutuhkan anak agar bisa mempelajari berbagai hal termasuk saat berada di sekolah atau lingkungan lain.

Setelah tahu soal gawai, Keponakan bayi suka memintanya. Awalnya masih yang normal hanya nyanyi lagu anak. Tetap semua diawasi dan waktunya terbatas. Lalu beberapa hari kemudian, dia suka marah dan minta gadget. Saya dan Ibunya merasa tidak beres dan memutuskan untuk Puasa Gawai.

Jujur ini enggak mudah. Puasa Gawai dilakukan bukan hanya pada anak, tapi kami juga orang dewasa. Biasanya saat main atau nungguin, saya masih pegang ponsel. Namun karena memutuskan puasa, jadi harus steril dari perangkat ini. Buka HP hanya saat tidak bersamanya.


Yang kami lakukan pertama adalah memberi pengertian. Ketika dia pegang ponsel, maka tidak langsung diminta, tapi bilangin untuk di-charge. Kedua, kami ajak bermain atau aktivitas di tempat lain. Intinya sih untuk pengalihan. Alhamdulillah puasa gawai ini berhasil berjalan, yey!

Bagaimana dengan sekarang?

Puasa Gawai telah berakhir dan si anak main gadget lagi, doeng! Namun semuanya masih di bawah kontrol, tidak sampai kecanduan. Merasa berdosa? Pasti. Ya mau bagaimana lagi. Yang jelas, sebisa mungkin saya atau Ibunya mengalihkan pada hal lain agar dia tetap beraktivitas dan kemampuan kognitifnya bisa meningkat.

Permainan Untuk Meningkatkan Kemampuan Kognitif Anak


Seperti yang saya bilang di awal bahwa kemampuan berpikir atau kognitif anak ini penting, maka orang tua harus memberikan stimulasi. Ada beberapa permainan yang bisa kita lakukan antara lain:

permainan meningkatkan kemampuan kognitif anak

  • Merangkai Puzzle
  • Menebak Angka
  • Permainan Flash Card
  • Merangkai Benda Dari Balok-balok
  • Origami Atau Melipat Kertas
  • Permainan Menggunakan Papan Tulis Dan Spidol Warna
  • Bermain Pasir atau Tanah Liat

Dunia anak itu tempatnya untuk bermain. Jika mau meningkatkan kemampuan kognitif anak, maka orang tua memang harus mau kerepotan. Entah itu dengan memberikan permainan atau bisa juga terlibat di dalamnya.

Karena Keponakan juga belum berusia 2 tahun, jadi saya baru memberikan beberapa permainan seperti puzzle dan papan tulis serta spidol warna. Saat keluar rumah, maka saya ajak bermain tanah dan batu. Untuk pasir, nanti deh diagendakan untuk ke pantai sekalian jalan-jalan.

Saya paham bahwa untuk puasa gawai lagi, perjalannya akan panjang. Minimal sekarang saya tahu apa yang harus dilakukan untuk mengalihkan si Anak. Kunci lainnya adalah orang tua, keluarga untuk sepakat dan tidak goyah. Soalnya banyak yang merasa tidak tega dan akhirnya membiarkan anak untuk bermain gadget terus menerus.

Bagaimana dengan Kalian? Apakah punya masalah yang sama dengan gawai? Punya tips lain agar anak lupa dengan gadget? Coba share di kolom komentar ya. Sampai jumpa. Happy blogging!

9 comments

Rindang Yuliani said...

Aku pun demikian Mbak. Mencoba untuk semaksimal mungkin menghadirkan ruang dan waktu bersama si kecil biar dia tidak merasa kesepian dan berlari pada gawai.

nurul rahma said...

Memang harus diakui mendidik dan mengasuh anak di zaman ketika teknologi makin canggih ini amat sangat suliiiitt banget banget bangeetttt
puasa gawai memang seyogyanya kita lakukan ya.

Nova Violita said...

Nah..kadang dengan alasan pekerjaan gawai terutama smartphone jadi gak jauh2 dari tangan. Kita meminta anak gak sering mainan..malah kita yang seharian gak bisa jauh2 darinya. Untuk quality time bareng anak.. emang sih harus menyiapkan permaiana menarik buat anak

Tukang Jalan Jajan said...

senengnya kalau anak sudah bisa lepas dari gawai dan kembali ke dunia nyata. Bermain bersama sebaya dan berpikir dengan permainan kreatif didunia nyata. Boleh dicontoh sih ini tekniknya. kece betul

Ruli retno said...

Anak aku sih bisa puasa gawai kalau ketemu teman-temannya, kecuali pas pandemi yg memang full seharian stay at home

Rudi G. Aswan said...

Kecanduan gawai ini memang jadi problem semua orangtua. Termasyhur aku, ya gmn anak SD ga dikenalin ke gawai tar malah cari di tempat lain. Yang penting kontrol atau batasan sih walaupun praktik ga selalu mudah. Kalau kami di rumah selalu ajak buat bikin karya kayak gambar komik atau prakarya buat selingan. Atau belajar bahasa asing dan isi puzzle di aplikasi dg memanfaatkan gawai.

Eni Rahayu said...

Wah artikelnya menarik nih relate sama keadaan anak-anak generasi millenial sekarang ini ya. Intinya sih orang tua harus pinter-pinter dalam mengatur pola pengasuhan dan pendidikan anak supaya bisa membatasi diri sang anak dan anak nggak sampai kecanduan bermain HP.

April Hamsa | Mom Blogger said...

Memang sbg org dewasa kudu tegas supaya anak gak kecanduan gadget. Membatasi udah paling bener dan mengalihkan ke kegiatan lain yang lbh mengasah kemampuan motoriknya ya mbak.

Diah Kusumastuti said...

Kuakui susah banget bikin anak zaman now lepas dari gawai. Anak-anakku semuanya udah kenal gawai, dan aku hanya bisa membatasi penggunaannya saja. Susahnya karena aku dan suami juga seringnya pegang gawai (untuk urusan kerjaan terutama), jadi ya otomatis anak-anak pengen pegang juga. Hiks.
Tantangan banget emang soal gawai ini.
Btw makasih sharingnya, Jiah :)