Jiah My Id

The Power of Anak Kampung

Powered by Blogger.

Anak Ibu

Bismillaahirrahmaanirrahiim....

***

Tarik napas, embuskan. Tarik lagi, embus! Aaaa!!! Kenapa suaraku aneh? Kuraba leherku. Apa ada radang ya? Bisa gawat kalau begini. Besok aku lomba menyanyi. Kalau suaraku tidak kembali, bagaimana aku bisa menang?

"Hei, ada apa, Sayang? Ibu kaget denger teriakan kamu," Ibu melongok membuka pintu kamarku.

"Suara Dani aneh, Bu. Padahal besok Dani ada lomba nyanyi," jelasku.

Ibu menghampiri dan duduk di sebelahku. Ranjangku berdecit, sedikit protes dengan beban tubuh kami.

"Coba buka mulutnya!" Kubuka mulut, Ibu memeriksanya.

"Tidak ada yang aneh. Badan kamu juga tidak panas," kata Ibu seraya menyentuh dahi dan leherku. Lalu aku kenapa?

"Astaga! Jangan-jangan kamu mulai puber! Kenapa Ibu sampai tidak sadar dengan perubahan kamu? Maaf kan Ibu ya!" Aku mengangguk sementara Ibu mengelus kepalaku.

Ibu menjelaskan ketika anak laki-laki memasuki usia akhir SD mereka mengalami puber. Ibu bilang itu semacam peralihan dari anak-anak ke remaja. Suaraku yang sedikit serak itu salah satu ciri puber. Aku mengangguk sekenanya.

Harusnya saat ini Ayah yang mendampingiku. Akan jauh lebih mudah melihat langsung perubahan nyata seorang laki-laki. Saat aku bertanya tentang Ayah, Ibu menunduk sedih. Tak ada penjelasan. Ibu tersenyum lalu pergi.

Pernah aku melihat Ibu menangis diam-diam di kamarnya. Ketika aku mengintip, terlihat Ibu memegangi selembar foto. Wanita berkebaya putih berjarik coklat yang sedang tersenyum.

Ketika melihatku, Ibu menyembunyikan foto itu. Aku berlari ke arahnya. Tangannya dengan sigap mendekapku. Wajahku bersembunyi di dada datarnya yang naik turun menahan isakan. Aku mendongak, tanganku terulur mengahapus air mata yang ada di pipinya turun ke leher dengan sedikit tonjolan di tengah. Tidak peduli siapa Ayahku, aku tetap anak Ibu.

***

Notes:
Lewat fiksi saya jadi anak-anak, cowok lagi!!! Eh, dah sering ding jadi 'aku' cowok :wek :uhuk :hai

“Flashfiction ini diikutsertakan dalam Tantangan Menulis FlashFiction – Tentang Kita Blog Tour”

(Bukan) Kartu Ajaib

Bismillaahirrahmaanirrahiim....

Saya bukan penggemar Kartu Tarot, Kartu Remi atau kartu lainnya. Tapi, saya masih menyimpan beberapa kartu yang dulu sempat ajaib di dompet saya.

Kenapa Kartu Ajaib?


Well..., karena dulu belum punya KTP, jadi sebagai pelajar saya punya Kartu Anggota/Kartu Siswa. Pernah juga nyantri, jadi punya Kartu Santri.

Sekarang ini kartu yang paling sering digunakan ada dua. Pertama KTP, kedua Kartu Perpustakaan Daerah.

Karena bukan pelajar atau mahasiswa, KTP atau tepatnya E-KTP sering digunakan sebagai identitas. Ngurus ini, itu yang jelas kalau ngurusin badan tidak perlu KTP.

Untuk Kartu Perpustakaan, sebenarnya saya baru punya setahun lalu. Padahal kalau boleh curhat, saya mengidam-idamkan punya kartu itu waktu masih kelas X :uhuk. Kartu itu dibuat secara gratis. Kita tinggal minta formulir, isi, jangan lupa pas foto dan kita bisa langsung cari petugas.

Bagi saya, punya Kartu Perpustakaan itu penting. Ya karena saya suka baca, uang pas-pasan untuk beli dan butuh buku untuk direview di Jendela Rumah Jiah. Maklum, buku, novel yang saya punya tidak terlalu banyak, jadi ya perpustakaan sangat membantu.

Untungnya, setiap sabtu saya mengikuti kelas AMJ. Paling tidak seminggu sekali bisa menyambangi si perpus.


Doa saya, maunya bisa bolak-balik ke perpus, baca sampai tidur, dan bisa konsisten dalam kebaikan. Maunya juga, kartu ajaibnya bertambah. Bisa jadi ATM lebih dari 1 biji, kartu kredit no limit, kartu asuransi, dih masih banyak kartu ajaib lainnya #MimpiModeOn :uhuk.

:hai

Namanya, Azzam

Bismillaahirrahmaanirrahiim....

Namanya Azzam, lahir di Pati, 15 November 2014. Dia keponakan baru saya :uhuk. Ganteng? Iya dong! Kan cowok :smile.

Waktu dia 8 bulan dalam kandungan, saya sempat beberapa hari menemani dia, Mbak saya sebenarnya :uhuk. Ketika sore sekitar jam lima, sejam dari kelahirannya, Mbak nelfon memberi kabar. Magrib di Jepara kita otw ke Pati.

Bayi Azzam merah, kecil kelihatannya, tapi beratnya 3,6 Kg. Azzam lahir di Puskesmas Batangan, Pati tepat sehari sebelum ultah Mbak Ita, ibunya.

Selama dua minggu saya stay di Pati, menemani Mbak Ita. Seneng, soalnya bisa bantu ngemong Azzam dan Zahro' aka Lala, kakaknya.

Azzam sendiri adalah nama usulan saya :uhuk. Tahu KCB kan? Nah! Saya suka sosok Azzam. Muhammad Azzam Al Aufa, lengkapnya. Al Aufa itu sumbangan dari Omnya, Ali.

Maret tanggal 14 lalu, untuk pertama kalinya Azzam ke Jepara. Dari foto perkembangan, dia berubah. Dari merah, hitam dan sekarang kulitnya agak putih.

Azzam juga punya lesung pipit kecil di dekat bibir, persis seperti Ibunya. Nanti kalau sudah besar, saya yakin pasti banyak cewek yang suka :luph.

Kangen Azzam.... Ya sudahlah :hai.